BONE – Di atas bentangan yang kini berdiri kokoh menghubungkan dua wilayah di Kelurahan Maccope, Kecamatan Awangpone, tersimpan cerita panjang tentang harapan masyarakat yang akhirnya terjawab.
Jumat (3/7/2026), Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M. bersama Danrem 141/Toddopuli Brigadir Jenderal TNI Andre Clift Rumbayan, S.Sos., M.M. dan Dandim 1407/Bone Letkol Inf. Laode Muhammad Idrus meresmikan Jembatan Perintis Garuda. Peresmian mengusung tema “Jembatan Perintis Negara Hadir Untuk Rakyat, Bersama Membangun Negeri Untuk Masa Depan.”
Turut hadir unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Kabupaten Bone, Wakapolres Bone, Dandenpom Bone, perwakilan Batalyon Brimob Bone, Danyonarmed 21/Kawali, Danyon Lasalaga, para pimpinan Organisasi Perangkat Daerah, unsur Tripika Kecamatan Awangpone, serta pengurus Persit Kartika Chandra Kirana jajaran Korem 141/Toddopuli dan Kodim 1407/Bone. Peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti dan pengguntingan pita oleh ketiga pimpinan tersebut.
Namun, peresmian itu bukan sekadar seremoni. Di balik jembatan yang kini berdiri tegak, masyarakat masih mengingat bagaimana dahulu mereka harus menyeberangi sungai melalui jembatan bambu sederhana yang penuh risiko. Setiap langkah harus diambil dengan hati-hati. Ketika beberapa orang melintas bersamaan, kekhawatiran akan keselamatan selalu menghantui.
“Kita telah melihat bersama tayangan sebelum jembatan ini dibangun. Dulu hanya menggunakan bambu, sekarang telah berdiri kokoh. Ini menandakan bahwa kebutuhan masyarakat harus kita respons lebih cepat, lebih tepat, dan lebih baik,” ujar Bupati Bone.
Ia menyampaikan apresiasi kepada jajaran TNI yang dinilai mampu menerjemahkan arahan Presiden Prabowo Subianto tentang kehadiran negara di tengah masyarakat melalui pembangunan infrastruktur yang menyentuh langsung kebutuhan rakyat.
Menurutnya, Jembatan Perintis Garuda bukan hanya penghubung dua wilayah, tetapi juga menjadi urat nadi baru yang akan menggerakkan roda perekonomian masyarakat Maccope. Akses yang selama ini sulit kini menjadi lebih singkat, aman, dan efisien sehingga aktivitas pertanian, perdagangan, pendidikan hingga pelayanan masyarakat dapat berjalan lebih baik.
Bupati Bone juga mengungkapkan kekagumannya terhadap proses pembangunan jembatan yang diselesaikan hanya dalam waktu sekitar dua bulan melalui kerja keras personel TNI bersama masyarakat.
“Saya bertanya kepada Pak Dandim, berapa anggarannya? Beliau hanya tersenyum. Yang saya lihat adalah kerja keras luar biasa. Dari yang tidak ada menjadi ada,” katanya disambut tepuk tangan masyarakat.
Ia turut menyampaikan penghargaan kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan, baik berupa tenaga, pemikiran maupun material sehingga pembangunan jembatan dapat diwujudkan.
Bagi Bupati Bone, setiap orang yang terlibat dalam pembangunan jembatan ini telah menanam amal jariyah yang manfaatnya akan terus dirasakan masyarakat selama bertahun-tahun.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa membangun hanyalah awal. Tantangan sesungguhnya adalah menjaga agar jembatan tetap berfungsi dengan baik dalam jangka panjang.
“Saya titipkan kepada Pak Lurah dan Pak Camat agar jembatan ini dipelihara. Membangun mungkin hanya dua bulan, tetapi pemeliharaannya harus bisa bertahan puluhan bahkan ratusan tahun,” pesannya.
Ia juga meminta masyarakat menjaga fasilitas tersebut dari tindakan perusakan maupun penggunaan yang melebihi kapasitas. Mengingat konstruksi jembatan diperuntukkan bagi kendaraan roda dua, masyarakat diimbau mematuhi batas tonase demi keselamatan bersama.
Selain itu, Bupati Bone langsung memberikan arahan kepada Plt. Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan Kabupaten Bone untuk mendukung pembangunan akses menuju jembatan melalui pemasangan paving block. Kepada Dinas Bina Marga, Cipta Karya, Tata Ruang dan Pertanahan, ia meminta agar jembatan segera dilengkapi lampu penerangan jalan sehingga masyarakat dapat melintas dengan aman pada malam hari.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Bone juga memberikan apresiasi khusus kepada Danrem 141/Toddopuli dan Dandim 1407/Bone atas dedikasi mereka membangun daerah melalui karya nyata. Menurutnya, hasil pembangunan yang dapat langsung dirasakan masyarakat merupakan bentuk kepemimpinan yang layak diapresiasi.
“Yang kita lihat hari ini adalah bukti bahwa kerja keras, kolaborasi, dan niat baik akan menghasilkan manfaat besar bagi masyarakat,” ungkapnya.
Kini, Jembatan Perintis Garuda bukan lagi sekadar bentangan baja dan kayu yang menghubungkan dua sisi sungai. Ia telah menjadi simbol hadirnya negara di tengah masyarakat, simbol gotong royong antara pemerintah, TNI, dan warga, sekaligus simbol harapan baru bagi masa depan Kecamatan Awangpone. (*)


Tinggalkan Balasan