WATAMPONE – Suasana haru bercampur bangga menyelimuti keluarga besar UPT SD Negeri 22 Jeppe’E, Kecamatan Tanete Riattang Barat, saat menggelar acara pelepasan salah satu guru terbaiknya, Musdalifah, S.Pd.SD, yang mendapat amanah baru sebagai Kepala UPT SD Negeri 1 Watampone, Kecamatan Tanete Riattang.
Acara pelepasan yang berlangsung pada Rabu, 24 Juni 2026 itu menjadi momentum penuh makna bagi rekan-rekan sejawat yang selama bertahun-tahun menyaksikan dedikasi Musdalifah dalam dunia pendidikan. Hadir dalam kegiatan tersebut Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bone Baharuddin, S.Pd., MM, Kasi Ketenagaan, para guru, serta suami Musdalifah, H. Muhammad Saleh, S.Pd.I., M.Pd, yang saat ini menjabat sebagai Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Ulaweng.
Kepala UPT SD Negeri 22 Jeppe’E, Juraje, S.Pd., M.Pd, menyampaikan apresiasi atas pengabdian panjang Musdalifah di sekolah tersebut.
“Terima kasih atas dedikasi dan kontribusi yang telah diberikan selama ini di SDN 22 Jeppe’E. Selamat menjalankan amanah baru sebagai kepala sekolah. Semoga sukses membawa perubahan dan kemajuan di tempat yang baru,” ujarnya.
Momentum tersebut bukan sekadar seremoni pelepasan, melainkan juga penanda berakhirnya satu fase perjalanan panjang seorang pendidik yang telah mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk mencerdaskan generasi muda Bone.
Dalam sambutannya, Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bone, Baharuddin, mendorong kepala sekolah yang baru untuk menghadirkan terobosan dan inovasi dalam pengelolaan pendidikan.
“Diperlukan langkah-langkah baru dan inovatif agar target pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan dapat tercapai dengan lebih baik,” pesannya.
Usai prosesi pelepasan, Musdalifah bersama sang suami mendapat penyambutan hangat di UPT SD Negeri 1 Watampone. Pada kesempatan tersebut juga dirangkaikan dengan penyerahan administrasi sekolah dari pelaksana tugas kepala sekolah sebelumnya kepada Musdalifah sebagai kepala sekolah definitif yang baru.
Di hadapan para guru, Musdalifah menyampaikan harapannya agar seluruh warga sekolah dapat membangun kolaborasi yang kuat.
“Sebagai kepala sekolah, saya tentu membutuhkan dukungan dari seluruh guru dan warga sekolah. Amanah ini tidak akan berjalan maksimal tanpa sinergi dan kerja sama yang baik,” ungkapnya.
Jabatan kepala sekolah yang kini diemban Musdalifah bukanlah capaian yang diraih dalam waktu singkat. Karier pengabdiannya dimulai di SD Negeri 36 Mattanete Bua, Kecamatan Palakka, tempat ia mengajar dan mendidik selama lima tahun.
Setelah itu, ia melanjutkan pengabdian di SD Negeri 22 Jeppe’E, sekolah yang kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan profesionalnya. Selama 16 tahun mengajar di sekolah tersebut, Musdalifah dikenal sebagai sosok guru yang aktif, inovatif, dan memiliki komitmen kuat terhadap peningkatan kualitas pembelajaran.
Dedikasinya dalam dunia pendidikan semakin terlihat ketika ia berhasil menjadi Guru Penggerak Angkatan VIII, program pengembangan kepemimpinan yang dirancang untuk melahirkan pemimpin-pemimpin pembelajaran di Indonesia.
Pengalaman panjang, semangat belajar, serta konsistensi dalam menjalankan tugas sebagai pendidik menjadi modal berharga yang mengantarkannya menuju posisi kepemimpinan sekolah.
Pelantikan Musdalifah sebagai Kepala UPT SD Negeri 1 Watampone menjadi babak baru dalam perjalanan pengabdiannya. Di tengah perubahan dan tantangan dunia pendidikan yang terus berkembang, ia diharapkan mampu menghadirkan inovasi, memperkuat tata kelola sekolah, serta meningkatkan mutu pembelajaran bagi peserta didik.
Kehadiran sang suami yang setia mendampingi dalam setiap tahapan perjalanan kariernya turut menambah makna tersendiri dalam momentum tersebut. Dukungan keluarga menjadi kekuatan yang menyertai langkahnya dalam mengemban amanah baru.
Kepercayaan yang diberikan Pemerintah Kabupaten Bone kepada Musdalifah diharapkan menjadi energi positif bagi kemajuan SD Negeri 1 Watampone. Dengan pengalaman lebih dari dua dekade di dunia pendidikan, ia membawa harapan besar untuk melahirkan lingkungan belajar yang semakin berkualitas, adaptif, dan berorientasi pada masa depan.
Bagi Musdalifah, jabatan kepala sekolah bukan sekadar posisi struktural. Amanah itu merupakan kelanjutan dari pengabdian yang telah ia jalani selama bertahun-tahun dengan penuh ketulusan—sebuah perjalanan yang berawal dari ruang kelas, lalu berlanjut ke kursi kepemimpinan demi menghadirkan pendidikan yang lebih baik bagi generasi penerus Kabupaten Bone. (*)


Tinggalkan Balasan