BONE – Di tengah hamparan kawasan Passippo, Kecamatan Palakka, Jumat (26/6/2026), sebuah langkah penting dalam pembangunan infrastruktur dasar Kabupaten Bone resmi dimulai. Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., MM didampingi Penjabat Sekretaris Daerah Bone Hj. Andi Tenriawaru, SP., M.Si. serta Kepala Dinas Bina Marga, Cipta Karya, Tata Ruang (BMCKTR) Kabupaten Bone H. Askar, ST., M.Si., meresmikan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) Passippo.
Peresmian ditandai dengan prosesi pengguntingan pita, yang kemudian dirangkaikan dengan penyerahan bantuan sembako kepada masyarakat Passippo, Kecamatan Barebbo. Suasana sederhana namun penuh makna itu menjadi simbol bahwa pembangunan bukan hanya menghadirkan infrastruktur, tetapi juga kepedulian terhadap kesejahteraan masyarakat.
Bagi sebagian orang, instalasi pengolahan lumpur tinja mungkin hanya dipandang sebagai fasilitas teknis. Namun sesungguhnya, keberadaan IPLT merupakan investasi jangka panjang bagi kesehatan lingkungan, kualitas hidup masyarakat, dan masa depan generasi Bone.
Kepala Dinas BMCKTR Bone, H. Askar, ST., M.Si., menjelaskan bahwa pembangunan IPLT tersebut telah rampung pada Tahun Anggaran 2025 melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Bidang Sanitasi dengan nilai kontrak sebesar Rp8 miliar. Pekerjaan konstruksi dilaksanakan oleh CV Mattugengkeng di atas lahan seluas kurang lebih 4.500 meter persegi yang telah memenuhi persyaratan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).
Menurutnya, pembangunan IPLT bukan sekadar memenuhi kebutuhan infrastruktur, tetapi juga merupakan implementasi Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang pengolahan air limbah, sekaligus menjalankan amanat Peraturan Daerah Kabupaten Bone Nomor 8 Tahun 2022 tentang Penyelenggaraan Sistem Pengolahan Air Limbah.
Lebih dari itu, keberadaan fasilitas ini diharapkan menjadi salah satu instrumen penting dalam mendukung upaya pencegahan stunting melalui terciptanya lingkungan yang sehat dan sanitasi yang layak.
Di dalam kawasan IPLT, berbagai fasilitas telah dibangun secara terpadu. Mulai dari kolam penerima lumpur tinja (SSC), kolam anaerobik sebagai pengendapan awal, kolam maturasi, enam bak desinfektan untuk memastikan kualitas air sebelum dialirkan ke badan sungai, hingga area pengeringan limbah padat yang nantinya dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik.
Kompleks ini juga dilengkapi hanggar operasional, gedung kantor Unit Pelaksana Teknis (UPT), menara air bersih, serta sarana pendukung lainnya yang menjadi syarat operasional sebuah IPLT modern.
H. Askar mengungkapkan bahwa pembentukan UPT pengelola IPLT saat ini telah memasuki tahap akhir proses harmonisasi regulasi sebelum ditetapkan melalui keputusan Bupati. Di sisi lain, pemerintah daerah juga tengah mempersiapkan regulasi mengenai retribusi pelayanan agar operasional IPLT dapat berjalan secara berkelanjutan.
Tidak hanya melayani masyarakat Kabupaten Bone, IPLT Passippo juga diproyeksikan menjadi pusat layanan regional. Sebelum pembangunan dimulai, Pemerintah Kabupaten Bone telah menjalin nota kesepahaman dengan sejumlah daerah tetangga seperti Kabupaten Sinjai, Soppeng, dan Wajo.
Kerja sama tersebut membuka peluang agar fasilitas ini turut melayani pengolahan lumpur tinja dari daerah sekitar. Selain meningkatkan kualitas pelayanan sanitasi regional, keberadaan IPLT juga berpotensi menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui retribusi pelayanan.
Namun demikian, H. Askar mengingatkan bahwa optimalisasi layanan memerlukan dukungan armada operasional yang memadai. Saat ini, kendaraan penyedot tinja yang digunakan masih bersifat pinjaman dari Dinas Lingkungan Hidup. Mengingat luas wilayah Kabupaten Bone, pemerintah daerah diharapkan dapat menambah sedikitnya dua hingga tiga unit armada agar pelayanan kepada masyarakat dapat berjalan maksimal.
Peresmian IPLT Passippo menjadi penanda bahwa pembangunan daerah tidak hanya berorientasi pada jalan, gedung, maupun fasilitas fisik lainnya. Sanitasi yang baik merupakan fondasi penting bagi kesehatan masyarakat, kualitas lingkungan, dan pembangunan sumber daya manusia.
Melalui fasilitas ini, Kabupaten Bone memperkuat komitmennya menghadirkan pelayanan publik yang lebih baik, menjaga kelestarian lingkungan, sekaligus membangun masa depan yang lebih sehat bagi generasi mendatang.
Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M. menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur tidak boleh berhenti hanya pada seremoni peresmian. Baginya, keberlanjutan pelayanan kepada masyarakat adalah tujuan utama.
“Ini salah satu komitmen kita dalam meningkatkan layanan dasar masyarakat. Saya minta tolong Bu Sekda agar pada perubahan anggaran nanti sudah ada pengadaan mobil layanan tinja. Ini sejalan dengan visi BerAmal yang ketiga, yaitu berkelanjutan,” tegas Bupati.
Menurutnya, keberadaan mobil penyedot tinja menjadi kebutuhan mendesak agar fasilitas IPLT benar-benar dapat berfungsi secara optimal. Jangan sampai masyarakat yang septic tank-nya sudah penuh kesulitan mendapatkan pelayanan.
“Buat apa kita bangun IPLT ini kalau tidak memberikan pelayanan yang maksimal. Anggaran pembangunan mencapai Rp8 miliar, tentu bukan nilai yang sedikit. Saya minta pada perubahan anggaran nanti mobil layanan tinja sudah tersedia,” ujarnya.
Di hadapan para tamu undangan, Bupati juga memberikan apresiasi kepada pelaksana proyek, CV Mattugengke, yang dinilai berhasil menghadirkan bangunan dengan kualitas yang baik.
“Saya mengapresiasi kinerja CV Mattugengke yang telah mempersembahkan bangunan yang bagus ini,” katanya.
Namun, manfaat IPLT tidak hanya berhenti pada pengolahan limbah domestik. Bupati memiliki visi yang lebih jauh, yakni menjadikan hasil olahan lumpur tinja sebagai pupuk organik untuk mendukung sektor pertanian.
“Hasilnya nanti berupa pupuk organik yang dikirim ke perkebunan hortikultura dan kampung produktif, sehingga unsur hara tanah meningkat. Kalau ini dilakukan secara konsisten, kita dapat mengembangkan tanaman hortikultura dengan lebih baik,” jelasnya.
Bupati menilai pengelolaan limbah keluarga merupakan bagian penting dalam menjaga kesehatan masyarakat. Limbah domestik yang tidak ditangani dengan baik berpotensi mencemari lingkungan dan menjadi sumber berbagai penyakit.
“Menyangkut masalah kesehatan, limbah keluarga ini bisa cepat mencemari lingkungan. Kalau tidak diatasi dengan baik tentu akan berdampak terhadap kesehatan masyarakat,” ungkapnya.
Meski kepemimpinannya bersama Wakil Bupati belum genap dua tahun melalui program BerAmal, berbagai proyek pembangunan telah berhasil diwujudkan. Namun, menurutnya, tantangan berikutnya adalah menjaga dan merawat seluruh aset yang telah dibangun.
“Yang terpenting sekarang adalah pemeliharaan. Bangunan IPLT ini harus dijaga dengan baik, jangan lagi dicoret-coret. Apalagi fasilitas ini memiliki potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang sangat menjanjikan,” katanya.
Lebih jauh, Bupati bahkan membayangkan kawasan IPLT berkembang menjadi kawasan produktif yang tidak hanya mengolah limbah, tetapi juga memberi nilai tambah bagi masyarakat.
“Kalau perlu di sini juga ada kegiatan peternakan ikan. Bahkan bisa dibangun kantin yang bersih sehingga kawasan ini menjadi lebih hidup dan bermanfaat,” tuturnya.
Peresmian IPLT Desa Passippo menjadi simbol bahwa pembangunan tidak semata menghadirkan bangunan fisik, tetapi juga menghadirkan sistem pelayanan yang berkelanjutan. Dari limbah yang selama ini dianggap persoalan, Pemerintah Kabupaten Bone ingin mengubahnya menjadi sumber kesehatan, kesuburan tanah, dan peluang ekonomi bagi masyarakat. (*)


Tinggalkan Balasan