BONE– Suasana penuh kedamaian menyelimuti perayaan Tri Suci Waisak 2570 Buddha Era atau tahun 2026 Masehi yang akan digelar bersama umat Buddha se-Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat pada Sabtu, 27-28 Juni 2026. Dari jantung Kementerian Agama Republik Indonesia, Menteri Agama RI, Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A., menyampaikan ucapan selamat sekaligus pesan kebangsaan yang sarat makna kepada seluruh umat Buddha yang merayakan hari suci tersebut.

Bagi umat Buddha, Waisak bukan sekadar agenda tahunan yang dipenuhi rangkaian ritual keagamaan. Lebih dari itu, Waisak menjadi momentum refleksi untuk menumbuhkan cinta kasih, memperkuat kebajikan, dan melatih pengendalian diri dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui pesannya, Menteri Agama mengajak umat Buddha menjadikan nilai-nilai luhur Waisak sebagai bagian dari laku hidup yang nyata. Menurutnya, ajaran tentang kedamaian, kesederhanaan, dan kebijaksanaan tidak cukup hanya diperingati dalam seremoni, tetapi harus hadir dalam setiap interaksi sosial dan kehidupan bermasyarakat.

“Mari kita bawa kedamaian, kesederhanaan, dan kebijaksanaan Buddha ke dalam keluarga kita, lingkungan kerja kita, dan dalam berinteraksi dengan sesama warga bangsa,” ujar Menag Nasaruddin Umar.

Pesan tersebut menjadi semakin bermakna karena perayaan Waisak tahun ini juga ditandai dengan peresmian Aula Graha Saloka Sabha di Vihara Dharma Palakka, Watampone. Kehadiran fasilitas baru tersebut menjadi simbol kemajuan sekaligus harapan bagi penguatan kehidupan keagamaan umat Buddha di wilayah Sulawesi.

Bagi Menteri Agama, rumah ibadah beserta sarana pendukungnya memiliki peran penting dalam membentuk karakter umat. Aula yang baru diresmikan itu diharapkan dapat menjadi pusat kegiatan pembinaan, pendidikan, dan pengembangan spiritual yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat.

Di tengah keberagaman yang menjadi wajah Indonesia, Menag juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh umat Buddha atas kontribusi mereka dalam menjaga kerukunan antarumat beragama. Menurutnya, keharmonisan yang terus terawat menjadi modal penting bagi terciptanya kehidupan bangsa yang damai dan sejahtera.

Kebersamaan yang tumbuh di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat menjadi bukti bahwa perbedaan tidak pernah menjadi penghalang untuk hidup berdampingan. Sebaliknya, keberagaman justru menjadi kekuatan yang memperkaya persaudaraan dan memperkokoh persatuan.

Semangat itulah yang terus digaungkan dalam perayaan Tri Suci Waisak tahun ini. Sebuah ajakan untuk menebarkan kasih sayang, membangun toleransi, dan merawat harmoni di tengah masyarakat yang majemuk.

Menutup pesannya, Menteri Agama menyampaikan doa dan harapan bagi seluruh makhluk hidup agar senantiasa hidup dalam kebahagiaan dan kedamaian.

“Selamat merayakan Tri Suci Waisak 2570 BE dan selamat atas peresmian Aula Graha Saloka Sabha. Terima kasih. Namo Buddhaya.”

Pesan yang sederhana, namun mengandung makna mendalam: bahwa kedamaian sejati lahir dari hati yang penuh kebijaksanaan dan diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. (*)