BONE– Fajar belum benar-benar menyingsing ketika langkah kecil Annisa mulai menyusuri jalan setapak di Dusun Lemo, Desa Pattuku, Kecamatan Bontocani, Kabupaten Bone. Embun masih menggantung di dedaunan, sementara kabut tipis menyelimuti perbukitan yang mengitari kampung terpencil itu.

Jarum jam baru menunjukkan pukul 05.00 Wita. Dengan tas sekolah di pundak dan sandal yang melekat di kaki, Annisa berjalan bersama teman-temannya menuju sekolah. Perjalanan mereka bukan sekadar rutinitas pagi, melainkan sebuah perjuangan yang harus dilalui setiap hari demi meraih pendidikan.

Tak ada kendaraan yang mengantar. Tak ada jalan beraspal yang memudahkan langkah mereka.

Setiap pagi, anak-anak Dusun Lemo harus berjalan kaki sekitar dua kilometer melewati jalan tanah, menuruni lereng perbukitan, hingga menyeberangi sungai sebelum akhirnya tiba di sekolah. Sebagian menuju SD Samenre, sebagian lainnya ke MTs Pattuku, sementara Annisa kini bersiap melanjutkan pendidikan di Madrasah Aliyah Pattuku.

Bagi anak-anak di dusun ini, perjalanan menuju sekolah bukan sekadar soal jarak. Alam menjadi teman sekaligus tantangan yang harus mereka hadapi setiap hari.

Saat musim kemarau, sungai masih bisa dilintasi melalui jembatan bambu sederhana yang dibangun secara swadaya oleh warga. Namun ketika hujan turun, jalan berubah menjadi kubangan lumpur yang licin. Debit air sungai meningkat dan arus menjadi lebih deras sehingga perjalanan menuju sekolah jauh lebih berisiko.

Meski demikian, kondisi itu tak pernah menyurutkan semangat Annisa untuk terus belajar.

“Kalau saya bangun jam lima subuh dan jalan kaki ke sekolah bersama teman-teman,” ujar Annisa saat dikonfirmasi, Jumat (26/6/2026).

Agar sepatu sekolahnya tetap bersih, ia memilih mengenakan sandal selama perjalanan. Sepatu disimpan rapi di dalam tas dan baru dipakai ketika sudah tiba di halaman sekolah.

“Kalau air naik kami lewat jembatan bambu. Saya tidak takut karena sudah terbiasa,” katanya sambil tersenyum.

Perjuangan serupa dirasakan Riska, siswi MTs Pattuku. Baginya, berjalan kaki sejauh dua kilometer sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Rasa lelah memang tak bisa dihindari, terlebih ketika hujan turun. Jalan yang semula berupa tanah berubah menjadi lumpur licin, sementara sungai yang harus mereka seberangi mengalir lebih deras dari biasanya.

“Capek memang kalau jalan kaki, apalagi kalau hujan jalannya licin. Tapi kami tetap pergi sekolah karena ingin belajar dan mengejar cita-cita,” tutur Riska.

Menurutnya, musim penghujan selalu menjadi tantangan paling berat. Mereka harus berjalan lebih perlahan agar tidak terpeleset.

“Kalau hujan kami jalan pelan-pelan supaya tidak jatuh. Kadang sepatu kami simpan dulu di tas, nanti dipakai kalau sudah sampai di sekolah,” ujarnya.

Sebenarnya terdapat jalur lain yang lebih aman. Namun, untuk menghindari sungai, anak-anak harus memutar sejauh lima hingga enam kilometer. Jarak itu terlalu jauh untuk ditempuh setiap hari, sehingga mereka tetap memilih melewati jembatan bambu dengan penuh kehati-hatian.

Dusun Lemo merupakan salah satu wilayah terpencil di Kabupaten Bone. Dusun ini dihuni sekitar 58 kepala keluarga dengan jumlah penduduk sekitar 231 jiwa.

Untuk mencapai dusun tersebut dari Kota Watampone, perjalanan darat sejauh kurang lebih 113 kilometer harus ditempuh melalui jalur Bone–Sinjai. Perjalanan belum berhenti di sana. Dari pusat Desa Pattuku, akses menuju Dusun Lemo hanya bisa dilanjutkan menggunakan sepeda motor melewati jalan setapak dengan medan yang terjal dan ekstrem.

Di sepanjang perjalanan, hamparan hutan yang masih asri menjadi pemandangan utama. Jalan tanah yang sempit diapit jurang di sisi kiri dan kanan, menjadi gambaran nyata sulitnya akses menuju wilayah tersebut.

Kondisi geografis itulah yang membuat akses pendidikan, layanan kesehatan, hingga aktivitas ekonomi masyarakat masih sangat terbatas.

Namun, di balik segala keterbatasan itu, tersimpan semangat yang tak pernah padam.

Setiap pagi, langkah-langkah kecil anak-anak Dusun Lemo kembali menapaki jalan tanah, menuruni bukit, dan menyeberangi sungai. Mereka berjalan bukan karena perjalanan itu mudah, tetapi karena mereka percaya pendidikan adalah jalan terbaik untuk mengubah masa depan.

Di saat sebagian anak dapat berangkat sekolah dengan kendaraan yang nyaman, Annisa, Riska, dan teman-temannya justru mengajarkan bahwa cita-cita sering kali dimulai dari langkah-langkah sederhana—bahkan dari kaki yang harus basah oleh sungai dan lumpur setiap pagi.

Bagi mereka, setiap langkah menuju sekolah bukan sekadar perjalanan menuju ruang kelas, melainkan perjalanan menuju harapan. (*)