BONE — Hamparan sawah dan ladang jagung selama ini menjadi wajah utama perekonomian Kabupaten Bone. Namun, di balik dua komoditas andalan tersebut, pemerintah daerah kini mulai menyiapkan kekuatan ekonomi baru: peternakan.
Di bawah kepemimpinan Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M. (BupAAS), sektor peternakan didorong untuk tidak lagi sekadar dipandang sebagai usaha sampingan masyarakat. Peternakan diarahkan menjadi sektor ekonomi strategis yang mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, sekaligus menempatkan Bone sebagai salah satu daerah penyangga kebutuhan daging nasional.
Langkah itu mulai dibangun dengan konsep yang lebih besar. Bukan hanya mengejar peningkatan populasi ternak, tetapi membangun ekosistem peternakan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir, khususnya untuk komoditas sapi Bali dan peternakan ayam.
Keseriusan tersebut terlihat dari studi tiru yang dilakukan Bupati Bone bersama jajaran Dinas Peternakan di Bali. Di sana, rombongan melihat secara langsung bagaimana peternakan dikembangkan dengan pendekatan modern, mulai dari pembibitan, pemeliharaan, pakan, manajemen produksi, penerapan teknologi hingga proses hilirisasi.
Bali dipilih bukan sekadar sebagai lokasi kunjungan. Daerah tersebut menjadi ruang belajar untuk melihat bagaimana potensi peternakan dapat dikelola secara sistematis sehingga menghasilkan produk bernilai tambah.
Bagi BupAAS, pengalaman itu penting untuk diterapkan dan disesuaikan dengan karakteristik Bone.
“Studi tiru yang kami lakukan bersama Dinas Peternakan di Bali menjadi bagian penting untuk melihat secara langsung bagaimana pembibitan, pengelolaan peternakan, penerapan teknologi hingga sistem hilirisasinya,” jelasnya.
Menatap Pasar Nasional hingga Ekspor
Bone memiliki modal besar untuk mengembangkan sektor peternakan. Ketersediaan lahan, sumber daya, pengalaman masyarakat dalam memelihara ternak, serta potensi pengembangan sapi Bali menjadi fondasi yang dinilai cukup kuat.
Peluang tersebut semakin terbuka dengan adanya rencana investasi yang nilainya mencapai Rp627 miliar.
Angka tersebut bukan sekadar nilai investasi bagi pemerintah daerah. Di baliknya terdapat harapan munculnya aktivitas ekonomi baru yang bergerak dari tingkat peternak hingga industri pengolahan.
BupAAS melihat investasi tersebut sebagai momentum untuk membawa peternakan Bone naik kelas.
“Bone memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi salah satu daerah penyangga komoditas daging nasional. Bahkan ke depan kita ingin berkontribusi terhadap kebutuhan pasar ekspor,” kata BupAAS.
Pernyataan itu menggambarkan arah kebijakan yang ingin dibangun pemerintah daerah. Bone tidak ingin berhenti pada posisi sebagai daerah penghasil ternak hidup.
Lebih jauh, komoditas tersebut diharapkan dapat diolah, dikembangkan dan memiliki nilai tambah sebelum masuk ke pasar yang lebih luas.
Dengan demikian, manfaat ekonomi tidak hanya berhenti pada aktivitas budidaya. Rantai usaha mulai dari penyediaan bibit, pakan, pemeliharaan, transportasi, pengolahan hingga pemasaran diharapkan ikut tumbuh.
Investasi Harus Mengalir ke Masyarakat
Bagi pemerintah daerah, masuknya investasi senilai Rp627 miliar juga membawa konsekuensi penting: investasi harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Bone.
Lapangan kerja menjadi salah satu dampak yang diharapkan. Selain itu, peternak lokal harus mendapat kesempatan untuk berkembang melalui kemitraan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta transfer teknologi dan pengetahuan.
BupAAS menegaskan, pengembangan sektor peternakan tidak boleh hanya berorientasi pada besarnya investasi atau peningkatan jumlah ternak.
“Kita ingin Bone tidak hanya menjadi daerah penghasil ternak, tetapi menjadi daerah yang mampu mengelola komoditas peternakan secara utuh, memiliki daya saing dan menjadi bagian penting dalam memenuhi kebutuhan daging nasional maupun peluang pasar ekspor,” tegasnya.
Konsep tersebut menempatkan peternak lokal sebagai bagian penting dari ekosistem investasi, bukan sekadar penonton.
Ketika industri tumbuh, peternak diharapkan ikut memperoleh manfaat melalui pola kemitraan yang sehat. Teknologi yang masuk juga diharapkan meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil peternakan masyarakat.
Belajar dari Bali, Menyiapkan Bone
Plt. Kepala Dinas Peternakan Bone, Andi Herman, menyebut studi tiru di Bali memberikan banyak pelajaran mengenai bagaimana sebuah sistem peternakan dibangun secara terintegrasi.
Menurutnya, rombongan tidak hanya melihat proses pemeliharaan ternak, tetapi juga berbagai tahapan yang menjadi bagian dari sebuah industri peternakan modern.
“Kami melihat langsung bagaimana pengelolaan sapi Bali dan peternakan ayam dilakukan secara terintegrasi, mulai dari pembibitan, pemeliharaan, pakan, manajemen produksi hingga hilirisasi,” ujar Andi Herman.
Pembelajaran tersebut menjadi bahan untuk merumuskan pengembangan peternakan di Bone yang sesuai dengan potensi daerah.
Andi Herman menilai Bone memiliki sumber daya yang cukup besar untuk mendukung pengembangan sektor tersebut, baik dari sisi lahan maupun dukungan masyarakat.
Dengan rencana investasi yang mencapai Rp627 miliar, pihaknya optimistis sektor peternakan Bone dapat mengalami lompatan signifikan.
Namun, pemerintah daerah ingin memastikan lompatan itu tetap berpijak pada kepentingan masyarakat.
“Kami siap mengawal agar investasi yang masuk benar-benar memberikan dampak kepada masyarakat, khususnya peternak lokal. Kita ingin terjadi transfer teknologi dan pengetahuan, peningkatan kualitas SDM peternak serta terbentuk kemitraan yang saling menguntungkan,” katanya.
Membangun Ekosistem, Bukan Sekadar Menambah Populasi
Tantangan terbesar pengembangan peternakan bukan hanya bagaimana menambah jumlah sapi atau ayam. Lebih dari itu, bagaimana seluruh mata rantai usaha dapat berjalan secara berkesinambungan.
Karena itu, pemerintah daerah mulai mengarahkan sasaran pengembangan pada terbentuknya ekosistem peternakan terintegrasi.
Sapi Bali dan ayam tidak hanya diposisikan sebagai komoditas produksi, tetapi sebagai bagian dari rantai ekonomi yang dapat menciptakan nilai tambah.
Dari bibit hingga pakan, dari kandang hingga pengolahan, dan dari peternak hingga pasar, setiap mata rantai diharapkan saling terhubung.
Jika konsep tersebut berjalan, maka peternakan dapat menjadi mesin ekonomi baru bagi Bone.
Peternak memperoleh pasar dan teknologi. Tenaga kerja memperoleh kesempatan kerja. Pelaku usaha memperoleh ruang investasi. Sementara pemerintah daerah mendapatkan kekuatan baru untuk memperluas basis ekonomi masyarakat.
Pada akhirnya, cita-cita yang dibangun bukan sekadar menjadikan Bone memiliki lebih banyak ternak.
Lebih jauh, Bone ingin memiliki industri peternakan yang kuat, modern dan berdaya saing.
Dari padi dan jagung yang selama ini menjadi kekuatan utama, Bone kini mulai menyiapkan kaki ketiganya melalui peternakan.
Dengan potensi investasi Rp627 miliar, pengembangan sapi Bali dan ayam, serta orientasi dari hulu hingga hilir, sektor tersebut diproyeksikan menjadi salah satu fondasi ekonomi baru sekaligus memperkuat posisi Bone sebagai salah satu sentra peternakan di kawasan timur Indonesia.
Dari kandang-kandang peternak di Bone, harapan itu kini mulai dibangun: memenuhi kebutuhan lokal, memasok pasar nasional, dan suatu hari menembus pasar ekspor. (*)


Tinggalkan Balasan