BONE– Di tengah derasnya arus digitalisasi dan perkembangan kecerdasan buatan (AI), dunia pendidikan dituntut bergerak lebih cepat dari sebelumnya. Guru dan tutor tidak lagi cukup hanya menjadi penyampai materi, tetapi juga harus mampu menjadi fasilitator, penggerak kreativitas, sekaligus pembentuk karakter generasi masa depan. Semangat itulah yang diusung Forum Pendampingan Pemerhati Anak Indonesia (FP2AI) Kabupaten Bone melalui Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru/Tutor bertema “Tantangan Sistem Pendidikan di Masa Depan” yang digelar di Novena Hotel, Sabtu, 16 Mei 2026.

Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Hj. Andi Rasna, S.Pd., M.Pd. Kehadirannya menjadi bentuk dukungan pemerintah terhadap upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia, khususnya para tutor pendidikan nonformal di Kabupaten Bone.

Kepala PKBM FP2AI Kabupaten Bone, Mastiawati, SH menegaskan bahwa pelatihan ini lahir dari kesadaran akan cepatnya perubahan zaman. Menurutnya, perkembangan teknologi, AI, perubahan kurikulum, hingga dinamika sosial membuat tutor harus terus beradaptasi agar tidak tertinggal.

“Jika kita berbicara tentang pendidikan masa depan, maka bukan lagi sekadar bagaimana mentransfer ilmu, tetapi bagaimana membangun karakter, melatih cara berpikir kritis, dan kemampuan digital peserta didik,” ujarnya.

Ia menambahkan, tutor membutuhkan peningkatan kompetensi agar mampu menjawab tantangan sistem pendidikan yang semakin kompleks dan tetap relevan bagi generasi saat ini.

Bagi PKBM FP2AI, pendidikan tidak hanya berhenti pada aspek akademik. Lembaga tersebut juga fokus mengembangkan keterampilan hidup bagi warga belajar melalui berbagai pelatihan berbasis kewirausahaan. Mulai dari pelatihan barista dengan menghadirkan langsung pelaku usaha kopi, tata boga, tata busana, hingga pengolahan sampah menjadi produk bernilai ekonomi.

Melalui pelatihan-pelatihan itu, FP2AI berharap tumbuh minat berwirausaha di kalangan warga belajar sehingga mereka memiliki bekal keterampilan yang dapat digunakan untuk mandiri secara ekonomi.

Sementara itu, Hj. Andi Rasna memberikan apresiasi atas konsistensi FP2AI dalam mendukung peningkatan mutu pendidikan nonformal di Kabupaten Bone.

Menurutnya, apa yang dilakukan PKBM FP2AI sejalan dengan program pemerintah pusat maupun daerah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, khususnya guru dan tutor pendidikan nonformal. “Insyaallah kami akan mengundang seluruh tutor di Kabupaten Bone agar peningkatan kompetensi seperti ini bisa dirasakan lebih luas,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa keberadaan PKBM memiliki peran penting dalam membantu pemerintah mengentaskan anak tidak sekolah. Tanpa sinergi berbagai pihak, kata dia, pemerintah tidak akan mampu bekerja sendiri menghadapi persoalan pendidikan. “Semua harus bersinergi, mulai pemerintah desa, kecamatan hingga kabupaten,” tegasnya.

Suasana pelatihan semakin hidup ketika salah satu narasumber, Drs. H. Sudirman, memaparkan materi bertajuk “Tutor Inspiratif untuk Pembelajaran Masa Depan: Tinjauan Transformatif.”

Dosen Universitas Negeri Makassar itu mengajak para tutor melihat realitas baru dunia pendidikan. Ia menegaskan bahwa dunia telah berubah sangat cepat akibat digitalisasi, AI, perubahan jenis pekerjaan, kebutuhan soft skills, hingga konsep life long learning yang kini menjadi kebutuhan utama.

Akibat perubahan itu, karakter siswa masa kini juga ikut berubah. Mereka hidup di dunia digital, cepat bosan, menyukai visual dan cerita, ingin didengar, serta lebih mudah belajar melalui pengalaman langsung.

Karena itu, menurutnya, guru dan tutor tidak lagi menjadi pusat informasi seperti masa lalu. Peran pendidik kini bergeser menjadi fasilitator, pendamping, sekaligus penggerak makna dalam proses pembelajaran.

Pelatihan tersebut menjadi gambaran bahwa pendidikan masa depan tidak cukup dibangun dengan metode lama. Dibutuhkan tutor yang adaptif, kreatif, dan mampu memahami perubahan zaman agar mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh menghadapi masa depan. (*)