BONE — Setelah sekian lama menjalani hidup tanpa tempat tinggal yang pasti, seorang penyintas Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang sempat dijuluki warga sebagai “Tarzan” kini mulai menemukan ketenangan. Jalanan, emperan, hingga kawasan hutan yang pernah menjadi tempat bertahan hidupnya perlahan ditinggalkan. Kini, sebuah rumah singgah menjadi tempatnya menata kembali kehidupan.

Di rumah sederhana yang berada di wilayah Parippung, Kecamatan Cina, Kabupaten Bone, Tarzan tak lagi harus menghadapi malam seorang diri tanpa kepastian tempat beristirahat. Ia kini memiliki ruang untuk tidur dengan aman, beristirahat dengan nyaman, dan menjalani hari-hari dalam suasana yang lebih tenang.

Di tempat itu, Tarzan juga tidak hidup sendirian. Ia ditemani Layatang, sesama penyintas ODGJ yang turut menjalani proses pemulihan dan pembelajaran untuk kembali membangun kehidupan yang lebih mandiri.

Rumah singgah tersebut dikelola oleh Ibu Asma Layli, pendiri Rumah Singgah Penyintas ODGJ Yayasan Kesehatan Jiwa Amanah Gelora Insani. Di bawah pendampingannya, Tarzan dan Layatang perlahan diajak untuk kembali mengenali rutinitas kehidupan sehari-hari.

Mereka tidak hanya mendapatkan tempat tinggal, tetapi juga dibimbing untuk melakukan aktivitas yang mendukung kemandirian. Mulai dari bercocok tanam hingga belajar menjalin hubungan sosial yang baik dengan masyarakat sekitar.

Bagi para penyintas yang sebelumnya menghadapi ketidakpastian hidup, kegiatan sederhana tersebut menjadi bagian dari proses membangun kembali kepercayaan diri dan fungsi sosial.

Dari Bertahan Hidup Menuju Kemandirian

Kehidupan di rumah singgah berlangsung secara bertahap. Aktivitas sehari-hari menjadi sarana bagi para penghuni untuk kembali terlibat dalam lingkungan yang lebih teratur dan mendukung.

Pendampingan Ibu Asma Layli menjadi salah satu bagian penting dalam proses tersebut. Dengan perhatian dan bimbingan yang diberikan, para penyintas diarahkan agar dapat menjalani kehidupan yang lebih terarah, sesuai dengan kondisi dan kemampuan masing-masing.

Dukungan juga datang dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bone, khususnya Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), bersama tim relawan. Kunjungan rutin dilakukan untuk memberikan bantuan sembako, dukungan moral, serta pemantauan kesehatan secara berkesinambungan.

Kehadiran berbagai pihak ini memperlihatkan bahwa pemulihan penyintas ODGJ membutuhkan dukungan yang tidak berhenti pada aspek kesehatan, tetapi juga mencakup kebutuhan dasar, pendampingan sosial, dan penerimaan masyarakat.

Kunjungan Dinas Kesehatan Perkuat Pendampingan

Pada Jumat, 18 September 2026, Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Kabupaten Bone, dr. Kasmawar Abbas, bersama tim, didampingi petugas UPT Puskesmas Cina, melakukan kunjungan ke rumah singgah penyintas ODGJ di wilayah Parippung, Kecamatan Cina.

Kunjungan tersebut merupakan bagian dari pemantauan dan pembinaan pelayanan kesehatan jiwa di masyarakat. Tim melihat secara langsung kondisi rumah singgah, termasuk keadaan serta kebutuhan para penghuninya.

Selain pemantauan, kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat koordinasi antara Dinas Kesehatan, puskesmas, pengelola rumah singgah, dan relawan dalam memberikan pendampingan serta dukungan sosial secara berkelanjutan.

Pelayanan kesehatan jiwa yang berkesinambungan diharapkan dapat membantu para penyintas memperoleh perawatan yang sesuai, sekaligus mendukung proses pemulihan dan kembalinya fungsi sosial mereka di tengah masyarakat.

Rumah singgah di Parippung bukan sekadar tempat berlindung bagi Tarzan dan Layatang. Lebih dari itu, tempat ini menjadi ruang untuk memulai kembali kehidupan dengan rasa aman dan kesempatan untuk berkembang.

Ke depan, rumah singgah tersebut diharapkan dapat terus berkembang dan memperluas daya tampungnya. Dengan demikian, semakin banyak penyintas ODGJ yang terlantar dapat memperoleh tempat tinggal, pendampingan, dan kesempatan untuk menjalani kehidupan yang lebih bermakna.

Kisah Tarzan mengingatkan bahwa di balik setiap penyintas ODGJ, terdapat manusia yang membutuhkan perhatian, penerimaan, dan kesempatan. Ketika jalanan bukan lagi tempat untuk bertahan hidup, rumah singgah menghadirkan harapan bahwa kehidupan dapat ditata kembali, selangkah demi selangkah. Sebab, memanusiakan penyintas ODGJ bukan hanya tentang memberikan tempat tinggal, melainkan juga membuka ruang bagi mereka untuk kembali merasa diterima sebagai bagian dari masyarakat. (*)