WATAMPONE — Di balik tembok Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Watampone, proses pembinaan terus berjalan. Bukan hanya tentang menjalani masa pidana, tetapi juga tentang mempersiapkan diri untuk kembali menjalani kehidupan di tengah masyarakat.

Salah satunya diwujudkan melalui Pelatihan Keamanan Pangan bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Tahun 2026, yang digelar di Lapas Kelas IIA Watampone, Kamis (17/9/2026).

Sebanyak 13 orang WBP mengikuti pelatihan yang menghadirkan Dinas Kesehatan Kabupaten Bone sebagai narasumber sekaligus pemberi materi. Para peserta dibekali pengetahuan mengenai pentingnya keamanan, kebersihan, hingga tata cara pengelolaan pangan yang baik dan benar.

Materi yang diberikan tidak sekadar menjadi pengetahuan selama berada di dalam lapas. Bagi para WBP, keterampilan tersebut diharapkan dapat menjadi bekal untuk mengikuti program pembinaan kemandirian sekaligus membuka peluang dalam kegiatan usaha produktif setelah kembali ke masyarakat.

Dalam pengolahan pangan, kebersihan dan keamanan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan. Cara memilih bahan, menjaga kebersihan peralatan, mengolah makanan, hingga memastikan pangan tetap aman dikonsumsi menjadi pengetahuan penting yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Di situlah pelatihan ini memiliki arti lebih luas. Pengetahuan sederhana tentang pangan dapat menjadi bagian dari proses membangun kemandirian.

Kepala Lapas Kelas IIA Watampone, Rahnianto, mengatakan pelatihan keamanan pangan merupakan salah satu bentuk pembinaan yang diarahkan untuk memberikan keterampilan praktis dan bermanfaat bagi WBP.

“Kami terus mendorong pembinaan kemandirian yang memberikan pengetahuan dan keterampilan praktis kepada WBP. Melalui pelatihan keamanan pangan ini, kami berharap peserta dapat memahami pentingnya kebersihan dan keamanan dalam pengolahan pangan serta mampu menerapkannya dalam kegiatan produktif,” ujar Rahnianto.

Selama kegiatan berlangsung, para peserta mengikuti seluruh rangkaian pelatihan secara aktif dan tertib. Interaksi antara peserta dan narasumber menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran, sehingga materi yang diberikan tidak berhenti sebagai teori, tetapi diharapkan dapat dipahami dan diterapkan.

Bagi Lapas Watampone, pembinaan seperti ini merupakan bagian dari upaya mempersiapkan WBP menghadapi fase kehidupan setelah menjalani masa pidana. Keterampilan yang diperoleh diharapkan dapat menjadi modal untuk beradaptasi, bekerja, maupun mengembangkan kegiatan produktif ketika mereka kembali ke lingkungan keluarga dan masyarakat.

Program tersebut juga menunjukkan bahwa pembinaan di dalam lapas tidak hanya berorientasi pada pembinaan kepribadian, tetapi juga menyentuh aspek keterampilan dan kemandirian.

Dengan bekal pengetahuan tentang keamanan pangan, 13 WBP peserta pelatihan kini memiliki tambahan keterampilan yang dapat dikembangkan. Dari sebuah pelatihan di balik tembok lapas, terselip harapan agar keterampilan itu kelak menjadi bagian dari perjalanan mereka membangun kehidupan yang lebih mandiri setelah kembali ke masyarakat.

Lapas Kelas IIA Watampone pun berkomitmen untuk terus mengembangkan berbagai program pembinaan yang mendukung peningkatan kompetensi dan kemandirian WBP, sehingga masa pembinaan dapat menjadi ruang untuk belajar, bertumbuh, dan mempersiapkan masa depan. (*)