BONE– Suasana khusyuk begitu terasa di dalam masjid Nurul Ihsan Taccipi pada Senin Malam, 15 Juni 2026. Barisan jamaah duduk bersila di atas ambal merah yang membentang luas. Di barisan depan, Camat Ulaweng, Tripika Kecamatan, para penyuluh dan staf Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Ulaweng, Kabupaten Bone, tampak berbaur erat dengan masyarakat. Tidak ada sekat, yang ada hanyalah untaian zikir yang mengalun syahdu, memecah keheningan dan menyejukkan hati yang penat oleh urusan duniawi.
KUA Ulaweng menggelar kegiatan rutin Zikir dan Tauziah. Namun, agenda kali ini bukan sekadar rutinitas formalitas belaka. Ini adalah sebuah ajakan tulus untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk harian, lalu menengok ke dalam diri sendiri sebuah momentum muhasabah atau introspeksi total.
Dalam tauziahnya, Kepala KUA Kecamatan Ulaweng H. Muhammad Saleh membawa jamaah menyelami bait demi bait makna yang terkandung dalam Surah Al-’Asr. Sebuah surah pendek yang sering dihafal, namun kerap luput dari perenungan mendalam.
Beliau mengingatkan dengan lembut namun tegas, bahwa Sang Pencipta telah bersumpah demi waktu. Sebuah rambu-rambu ilahi yang menegaskan bahwa manusia sejatinya berada dalam kerugian yang nyata, jika hari-harinya berlalu tanpa makna.
“Waktu yang telah berlalu tidak akan pernah bisa kita putar kembali. Setiap detiknya adalah modal kehidupan kita,” ungkapnya di hadapan jamaah yang menyimak dengan takzim.
Melalui pesan dari Surah Al-‘Asr tersebut, KUA Ulaweng mengajak setiap yang hadir untuk tidak menjadi golongan yang merugi. Caranya? Dengan senantiasa merawat empat pilar keselamatan:
Menjaga keimanan yang kokoh.
Memperbanyak amal saleh yang nyata.
Saling menasihati dalam kebenaran.
Saling menguatkan dalam kesabaran.
Menjadikan Al-Qur’an sebagai Kompas Kehidupan
Lebih dari sekadar mendengarkan ceramah, esensi dari kegiatan sore itu adalah pembenahan diri. Jamaah diajak untuk mengevaluasi kekurangan masing-masing, memperbaiki apa yang rusak di masa lalu, dan menata niat untuk meningkatkan kualitas ibadah ke depan.
Melalui getaran zikir dan renungan bersama, KUA Ulaweng menekankan pentingnya membangun tiga fondasi karakter dalam kehidupan sehari-hari, yaitu rasa syukur, kesabaran, dan kepedulian sosial terhadap sesama. Al-Qur’an tidak boleh hanya menjadi pajangan atau bacaan tanpa bekas, melainkan harus turun ke hati dan menjelma menjadi pedoman hidup (kompas) yang mengarahkan setiap langkah kaki. (*)


Tinggalkan Balasan