BONE – Kabupaten Bone kembali menjadi sorotan dalam peta pembangunan ekonomi Sulawesi Selatan. Menjelang rilis resmi Badan Pusat Statistik (BPS) pada 5 Juni 2026 terkait pertumbuhan ekonomi daerah, optimisme mulai tumbuh seiring capaian ekonomi Sulawesi Selatan yang sebelumnya mencatat pertumbuhan sebesar 6,8 persen pada Triwulan II. Sebagai salah satu daerah dengan kontribusi ekonomi terbesar di provinsi tersebut, Bone diperkirakan akan ikut merasakan dampak positif dari akselerasi ekonomi regional.

Di tengah berbagai tantangan ekonomi global dan nasional, Kabupaten Bone menunjukkan ketahanan sekaligus kemampuan untuk terus bertumbuh. Daerah yang dikenal sebagai Bumi Arung Palakka ini dalam beberapa tahun terakhir memperlihatkan tren pembangunan ekonomi yang konsisten dan semakin menguat.

Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian Kabupaten Bone, H. Anwar, SH., M.Si., MH, mengatakan bahwa capaian ekonomi Bone saat ini merupakan hasil dari sinergi pembangunan yang terus dilakukan pemerintah daerah bersama seluruh elemen masyarakat.

Di bawah kepemimpinan H. Andi Asman Sulaiman sebagai Bupati Bone dan Dr. H. Andi Akmal Pasluddin sebagai Wakil Bupati Bone, berbagai program pembangunan diarahkan untuk mendorong produktivitas masyarakat, memperkuat sektor unggulan daerah, serta menciptakan iklim investasi yang semakin kondusif.

Data terbaru menunjukkan bahwa Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Bone atas dasar harga berlaku telah mencapai Rp54,21 triliun, sementara PDRB atas dasar harga konstan tercatat sebesar Rp28,45 triliun. Secara nominal, capaian tersebut menempatkan Bone sebagai daerah dengan nilai PDRB terbesar kedua di Sulawesi Selatan setelah Makassar.

Bagi masyarakat, PDRB dapat dipahami sebagai ukuran total nilai barang dan jasa yang dihasilkan suatu daerah dalam satu tahun. Angka ini menjadi cerminan besarnya aktivitas ekonomi yang berlangsung di wilayah tersebut.

PDRB atas dasar harga berlaku menggambarkan nilai ekonomi berdasarkan harga yang berlaku saat ini. Angka ini menunjukkan besarnya perputaran uang dan aktivitas ekonomi yang terjadi secara nyata di masyarakat. Sementara itu, PDRB atas dasar harga konstan digunakan untuk mengukur pertumbuhan ekonomi yang sesungguhnya karena telah menghilangkan pengaruh inflasi atau kenaikan harga.

Dengan nilai PDRB harga berlaku mencapai Rp54,21 triliun, aktivitas ekonomi Bone menunjukkan skala yang semakin besar. Sedangkan angka Rp28,45 triliun atas dasar harga konstan menjadi landasan utama dalam menghitung pertumbuhan ekonomi yang lebih objektif dari tahun ke tahun.

Lebih dari sekadar angka, performa ekonomi Bone juga tercermin dari laju pertumbuhan yang terus menunjukkan perbaikan. Pada tahun 2025, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bone mencapai 6,03 persen, menjadi yang tertinggi dalam enam tahun terakhir.

Perjalanan pertumbuhan ekonomi Bone dalam enam tahun terakhir menunjukkan dinamika yang menarik:

2020 : -0,25 persen
2021 : 5,53 persen
2022 : 5,23 persen
2023 : 3,77 persen
2024 : 5,56 persen
2025 : 6,03 persen

Pandemi yang melanda pada tahun 2020 sempat menyebabkan kontraksi ekonomi. Namun setelah masa sulit tersebut, Bone mampu bangkit dengan cepat. Sejak 2021, pertumbuhan ekonomi kembali bergerak positif dan terus menunjukkan penguatan. Meski sempat mengalami perlambatan pada 2023, tren pertumbuhan kembali meningkat hingga mencapai level tertinggi pada 2025.

Capaian pertumbuhan 6,03 persen tersebut menjadi indikator bahwa roda ekonomi daerah berjalan semakin sehat dan produktif. Berbagai sektor strategis seperti pertanian, perdagangan, jasa, serta pembangunan infrastruktur dinilai menjadi motor penggerak utama peningkatan ekonomi daerah.

Menjelang pengumuman resmi BPS pada 5 Juni 2026, harapan besar muncul agar tren positif tersebut terus berlanjut. Dengan pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan yang sebelumnya tercatat mencapai 6,8 persen dan berbagai indikator ekonomi daerah yang menunjukkan perbaikan, Bone memiliki peluang untuk kembali mencatatkan kinerja yang menggembirakan.

Jika proyeksi tersebut terwujud, maka Kabupaten Bone tidak hanya mempertahankan posisinya sebagai salah satu kekuatan ekonomi utama di Sulawesi Selatan, tetapi juga semakin mempertegas perannya sebagai daerah agraris dan pusat pertumbuhan ekonomi yang mampu memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat.

Rilis BPS pada 5 Juni mendatang akan menjadi momen penting untuk melihat sejauh mana capaian tersebut terefleksi dalam data resmi. Namun satu hal yang sudah terlihat jelas, ekonomi Bone tengah berada pada jalur pertumbuhan yang menjanjikan dan terus bergerak menuju masa depan yang lebih kuat. (*)