BONE — Ada malam ketika masa lalu tak lagi menjadi pusat cerita. Kamis (27 Agustus 2026) malam, di tengah suasana hangat prosesi mappacci, Yuli Nofita Sari (29), staf DPRD Bone, menatap babak baru kehidupannya.

Di antara keluarga dan orang-orang terdekat yang hadir, tampak Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M. (BupAAS). Kehadiran orang nomor satu di Kabupaten Bone itu bukan sekadar memenuhi undangan, tetapi membawa doa dan perhatian untuk Yuli yang tengah bersiap memasuki kehidupan rumah tangga bersama Akri Mulki.

Mengenakan batik dan kopiah hitam, BupAAS hadir didampingi Ketua PAN Bone, Andi Wahyudi Taqwa. Suasana pun terasa akrab ketika Bupati Bone terlihat berbincang santai dengan Yuli yang malam itu tampil anggun dalam balutan busana merah muda.

Tidak ada lagi hiruk-pikuk pemberitaan tentang persoalan yang pernah mengiringi perjalanan hidup Yuli. Malam itu, sorotan bergeser kepada kebahagiaan.

Yuli sebelumnya sempat menjadi perhatian publik setelah melaporkan dugaan penganiayaan yang menyeret Ketua DPRD Bone, Andi Tenri Walinonong. Namun, di hadapan keluarga dan orang-orang terdekat, mappacci menjadi penanda bahwa kehidupan terus bergerak.

Tradisi adat Bugis itu menjadi ruang untuk menyucikan diri sekaligus memanjatkan doa sebelum seseorang memasuki kehidupan rumah tangga. Bagi Yuli, malam tersebut seolah menjadi pintu menuju cerita baru—cerita yang ingin diisi dengan ketenangan, cinta, dan harapan.

Bupati Bone Andi Asman Sulaiman turut menyampaikan doa untuk Yuli dan Akri. Ia berharap seluruh rangkaian menuju pernikahan berjalan lancar dan kehidupan rumah tangga keduanya kelak dipenuhi keberkahan.

“Yang terpenting malam ini adalah kebahagiaan. Kita semua tentu mendoakan semoga Yuli dan Akri diberikan kelancaran sampai hari pernikahan dan nantinya menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah,” ujar Andi Asman.

Menurut BupAAS, pernikahan bukan sekadar seremoni, melainkan awal dari perjalanan panjang yang membutuhkan ketenangan, kesehatan, kebahagiaan, dan keberkahan.

“Semoga apa yang menjadi harapan dan cita-cita mereka berdua bisa terwujud. Mudah-mudahan rumah tangganya selalu diberikan ketenangan, kebahagiaan, kesehatan dan keberkahan,” katanya.

Pesan itu terasa semakin bermakna karena disampaikan di tengah sebuah momentum yang menandai perubahan fase kehidupan Yuli.

“Setiap orang punya perjalanan hidup masing-masing. Hari ini kita melihat Yuli memasuki fase baru dalam kehidupannya. Mari kita doakan yang terbaik untuknya,” tutur BupAAS.

Bagi Andi Asman, kebahagiaan masyarakat juga merupakan bagian dari kebahagiaan bersama. Kehadirannya pada prosesi mappacci Yuli menjadi bentuk dukungan moral sekaligus doa agar calon pengantin dapat melangkah mantap menuju kehidupan baru.

Sebelum mappacci, Yuli dan Akri telah menjalani prosesi mappettu ada atau lamaran di kediaman Yuli di Jalan Lapawawoi, Kota Watampone, Kamis (30 Juli 2026).

Akri Mulki merupakan putra Kepala Desa Bulumpare, Kecamatan Awangpone, Kabupaten Bone, H. Muin.

Kini, setelah rangkaian adat dilalui, keduanya tinggal menunggu hari pernikahan.

Malam mappacci pun berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan. Di antara doa, senyum, dan percakapan hangat, Yuli perlahan meninggalkan satu bagian dari perjalanan hidupnya untuk menyambut bagian yang baru.

Kehadiran BupAAS menjadi salah satu warna dalam malam tersebut. Seorang kepala daerah hadir bukan untuk mengingatkan pada polemik yang pernah menjadi sorotan, melainkan untuk menyampaikan pesan sederhana: bahwa setiap orang berhak mendapatkan kesempatan untuk bahagia dan menatap hari esok dengan penuh harapan.

Di malam yang penuh doa itu, Yuli tidak lagi berdiri sebagai sosok yang pernah menjadi pemberitaan. Ia hadir sebagai seorang perempuan yang sedang menyambut cinta, keluarga, dan masa depan.

Dan dari tradisi mappacci, sebuah lembaran baru pun segera dimulai. (*)