BONE– Masjid di tepi jalan itu tak sekadar berdiri sebagai bangunan ibadah. Ia menjadi oase tempat di mana lelah perjalanan luruh, dan ketenangan perlahan menyapa.
Di jalur strategis Jalan Poros Makassar–Bone, tepatnya di Desa Sappewalie, Kecamatan Ulaweng, Masjid Nurul Yaqin Lappawala kini menjelma menjadi persinggahan favorit para pemudik. Di tengah hiruk-pikuk arus mudik yang padat, masjid ini hadir sebagai ruang jeda yang menenangkan tempat singgah yang menawarkan lebih dari sekadar tempat salat.
Setiap musim mudik, kendaraan silih berganti berhenti. Para musafir turun, meregangkan tubuh, lalu bergegas mengambil wudu sebelum menunaikan salat. Sebagian lainnya memilih duduk sejenak di area istirahat yang teduh, membiarkan penat perjalanan memudar perlahan.
Daya tarik masjid ini tak hanya dirasakan masyarakat umum. Bahkan Gubernur Provinsi Sulsel H. Andi Sudirman Sulaiman pun menjadikan masjid ini sebagai tempat persinggahan saat pulang kampung ke Kabupaten Bone. Di sela perjalanan dari Makassar, ia menyempatkan diri menunaikan salat lima waktu di masjid tersebut, termasuk saat momentum mudik menjelang Idul Fitri.
Kehadirannya pun menghadirkan suasana hangat. Para jemaah menyambut dengan penuh antusias, tak sedikit yang memanfaatkan momen itu untuk berswafoto. Namun lebih dari itu, kebersamaan yang tercipta menjadi cerminan kedekatan antara pemimpin dan masyarakatnya bertemu dalam ruang ibadah yang sederhana namun penuh makna.
Kepala KUA Ulaweng, H. Muhammad Saleh, S.Pd.I., M.Pd menyebut bahwa Masjid Nurul Yaqin memang dirancang tidak hanya sebagai tempat beribadah. “Masjid ini kami upayakan menjadi tempat singgah yang nyaman bagi para pemudik,” ujarnya.
Salah satu keunggulan utama masjid ini adalah ketersediaan air bersih yang bersumber langsung dari mata air pegunungan. Airnya jernih dan menyegarkan digunakan untuk berwudu, mandi, hingga mengisi ulang botol minum. Bagi mereka yang menempuh perjalanan panjang, kesegaran air ini menjadi anugerah kecil yang sangat berarti.
Tak berhenti di situ, kepedulian terhadap para musafir juga diwujudkan melalui penyediaan obat-obatan sederhana secara gratis. Fasilitas ini merupakan hasil kolaborasi antara pengurus masjid dan Puskesmas Ulaweng, memastikan para pemudik tetap terjaga kesehatannya selama perjalanan.
Di balik kesederhanaannya, Masjid Nurul Yaqin Lappawala menghadirkan pesan yang kuat: bahwa perjalanan bukan hanya tentang tujuan, tetapi juga tentang tempat-tempat singgah yang memberi arti. Bahkan bagi seorang gubernur sekalipun, masjid ini menjadi pengingat bahwa di tengah panjangnya perjalanan, selalu ada ruang untuk kembali menenangkan hati dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. (*)


Tinggalkan Balasan