BONE — Ancaman bencana alam tidak pernah mengenal waktu. Ketika gempa mengguncang, banjir merendam permukiman, atau akses warga terputus akibat bencana, kebutuhan pertama masyarakat bukan sekadar bantuan, tetapi kehadiran yang cepat, terkoordinasi, dan mampu bergerak di tengah situasi darurat.

Semangat itulah yang menjadi salah satu pesan utama dalam Briefing Latihan Posko I Penanggulangan Bencana Alam Korem 141/Toddopuli Kodam XIV/Hasanuddin Tahun 2026 “Perisai Petir-26”, yang digelar di Makorem 141/Tp, Jalan Jenderal Sudirman, Kabupaten Bone, Rabu (19/8/2026).

Latihan tersebut dibuka langsung Pangdam XIV/Hasanuddin Mayjen TNI Bangun Nawoko. Kegiatan turut dihadiri Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., MM., bersama unsur Forkopimda Bone.

Hadir pula Danrem 141/Tp Kolonel Inf Robinson Tallupadang, S.I.P., MH., Dandim 1407/Bone Letkol Inf Laode Muhammad Idrus, Kapolres Bone AKBP Astoto Budi Rahmantyo, S.H., S.I.K., MH., serta Kasatpol PP Bone Andi Baharuddin, S.Sos., M.Si.

Bagi Pangdam, latihan ini bukan sekadar simulasi di ruang komando. Lebih dari itu, Perisai Petir-26 menjadi ruang untuk menguji sejauh mana kesiapan satuan dalam menghadapi situasi bencana yang sewaktu-waktu dapat terjadi.

“Latihan Posko I Korem 141/Toddopuli ini bertujuan untuk menguji kesiapan operasional Korem 141 beserta jajarannya dalam melaksanakan operasi perbantuan penanggulangan bencana alam di wilayahnya dalam rangka mendukung tugas pokok Kodam,” kata Mayjen TNI Bangun Nawoko.

Dalam latihan tersebut, peserta tidak hanya dituntut memahami teori. Mereka dilatih mengikuti tahapan proses pengambilan keputusan militer, mulai dari menerima tugas hingga menyusun rencana operasi atau perintah operasi.

Menurut Pangdam, materi latihan akan semakin bernilai apabila dikembangkan melalui simulasi yang mendekati kemungkinan ancaman sebenarnya. Dengan demikian, para unsur komandan memiliki kepekaan dan naluri yang lebih kuat ketika menghadapi dinamika di lapangan.

Terlebih, tema penanggulangan bencana dalam latihan kali ini diarahkan pada skenario gempa bumi, sebuah ancaman yang dapat menimbulkan dampak luas terhadap masyarakat, infrastruktur, maupun pelayanan publik.

Latihan juga diarahkan agar seluruh peserta menguasai teknik, prosedur, dan mekanisme penanggulangan bencana secara terpadu dengan rencana operasi Korem serta prosedur tetap pemerintah daerah, lembaga, dan instansi terkait.

Di titik inilah pesan Pangdam menjadi lebih luas. Ia menjelaskan mengapa kehadiran prajurit TNI begitu dekat dengan masyarakat ketika bencana maupun kesulitan datang.

“Kenapa tentara itu selalu hadir di saat ada bencana?” ujar Pangdam.

Pertanyaan itu kemudian dijawab dengan prinsip yang menjadi salah satu pedoman pengabdian prajurit, yakni Delapan Wajib TNI, khususnya kewajiban untuk ikut mengatasi kesulitan rakyat di sekelilingnya.

Bagi Pangdam, kehadiran prajurit bukan hanya ketika terjadi keadaan darurat. Pembangunan jembatan gantung, pembuatan sumur bor untuk kebutuhan air bersih, air minum, hingga pertanian juga merupakan bagian dari upaya TNI membantu masyarakat.

Di tengah masyarakat yang tinggal jauh dari pusat pemerintahan, bantuan semacam itu dapat memiliki arti yang sangat besar.

“Rakyat di ujung-ujung kampung sana, di ujung-ujung desa sana masih banyak yang kesulitan dan masih banyak yang membutuhkan kehadiran TNI untuk membantu kesulitannya,” tegasnya.

Karena itu, latihan penanggulangan bencana tidak hanya berbicara tentang peta operasi, struktur komando, atau prosedur teknis. Di balik seluruh simulasi tersebut terdapat satu tujuan yang lebih sederhana: memastikan ketika masyarakat membutuhkan pertolongan, prajurit tahu harus berbuat apa dan mampu bergerak bersama seluruh unsur terkait.

Kehadiran pemerintah daerah dan unsur Forkopimda Bone dalam kegiatan tersebut juga memperlihatkan pentingnya sinergi lintas sektor. Penanggulangan bencana tidak dapat dibebankan kepada satu institusi saja. TNI, Polri, pemerintah daerah, serta lembaga terkait harus bergerak dalam satu koordinasi agar penanganan di lapangan berlangsung cepat dan efektif.

Bagi Korem 141/Toddopuli, Perisai Petir-26 menjadi momentum untuk memperkuat kesiapsiagaan sekaligus mengasah kemampuan menghadapi kemungkinan bencana di wilayah.

Sementara bagi masyarakat, latihan itu menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan bukan hanya tentang bagaimana menghadapi bencana setelah terjadi, tetapi bagaimana seluruh unsur mempersiapkan diri sebelum ancaman datang.

Menutup arahannya, Mayjen TNI Bangun Nawoko berpesan agar latihan dimanfaatkan sebaik mungkin.

“Jadikan wahana sarana latihan ini untuk meneguhkan tekad kita bahwa kita akan selalu hadir dalam rangka untuk membantu kesulitan rakyat di sekeliling kita.”

Sebuah pesan yang sederhana, namun menjadi inti dari seluruh rangkaian latihan: ketika bencana datang, negara harus hadir, dan rakyat tidak boleh menghadapi kesulitan seorang diri. (*)