BONE– Di Dusun Sompobia, Desa Tadang Palie, Kecamatan Sibulue, Kabupaten Bone, pagi tidak selalu dimulai dengan harapan. Bagi para petani, hari kerap diawali dengan keberanian menantang arus sungai yang dingin dan deras, setinggi leher orang dewasa, demi sekarung gabah yang dipikul di pundak.
Pemandangan itu bukan cerita lama. Ia nyata, berulang, dan menjadi rutinitas setiap musim panen. Tak ada jembatan, tak ada pilihan lain. Sungai yang membelah dusun menjadi satu-satunya jalur menuju tempat penjualan hasil tani.
Video yang merekam perjuangan itu pun viral di media sosial. Dalam hitungan waktu, wajah-wajah letih para petani Sompobia menjadi sorotan. Mereka berjalan perlahan, melawan arus, menjaga keseimbangan antara hidup dan kehilangan.
Di balik langkah yang tampak tenang, tersimpan ancaman besar. Arus yang sewaktu-waktu meninggi, pijakan licin, dan beban berat di pundak membuat setiap penyeberangan seperti perjudian dengan keselamatan.
Rahman (45), salah satu petani, masih mengingat betul bagaimana nyawanya nyaris terseret arus. “Pernah saya terpeleset, hampir hanyut. Itu sangat berbahaya,” ujarnya pelan.
Namun dari derasnya arus itu, akhirnya datang kabar yang menghangatkan. Perhatian pun mengalir.
Komandan Kodim 1407/Bone, Letkol Inf. Laode Muhammad Idrus, turun langsung ke lokasi setelah melihat kondisi yang viral tersebut. Ia datang bersama Camat Sibulue, Zainal Abidin, untuk menyaksikan sendiri perjuangan warga. “Kami turun langsung melihat kondisi di lapangan. Apa yang dialami masyarakat ini memang membutuhkan perhatian serius,” ujarnya, Minggu (19/4/2026).
Tak butuh waktu lama untuk mengambil keputusan. TNI melalui Kodim 1407/Bone menyatakan siap membantu membangun jembatan yang selama ini hanya menjadi harapan warga. “Kami bersama personel siap membantu pembangunan jembatan ini. InsyaAllah dalam beberapa hari kami mulai membangun,” katanya.
Bagi warga Sompobia, pernyataan itu bukan sekadar janji. Ia adalah cahaya di ujung penantian panjang.
Ali (38), petani lainnya, tak bisa menyembunyikan rasa lega. “Ini yang kami harapkan selama ini. Mudah-mudahan ke depan kami bisa lebih aman dan tenang,” ucapnya.
Langkah cepat TNI menjadi simbol bahwa suara kecil dari pelosok desa tetap bisa menggema hingga pusat perhatian. Bahwa perjuangan yang terekam kamera, meski sederhana, mampu mengetuk kepedulian.
Kini, harapan mulai dibangun, bukan hanya dari kayu atau beton yang akan melintang di atas sungai, tetapi dari keyakinan bahwa keselamatan tidak lagi harus ditukar dengan sekarung gabah. Di Sompobia, para petani masih akan menanam dan memanen. Namun kelak, mereka tak lagi harus menyeberangi bahaya untuk sekadar membawa pulang hasil kerja kerasnya. (*)


Tinggalkan Balasan