MAKASSAR — Perjalanan panjang H. Muslimin, SE., MM., dalam menempuh pendidikan doktoral di Program Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, mencapai puncaknya.
Pada Sabtu, 8 Agustus 2026, pukul 10.00–12.00 WITA, H. Muslimin dijadwalkan mengikuti Sidang Promosi Doktor Ilmu Manajemen di Aula PJJ Lantai I Pascasarjana UMI Makassar.
Dalam ujian terbuka tersebut, H. Muslimin mempertahankan disertasinya berjudul “Pengaruh Gaya Kepemimpinan, Kompetensi Digital dan Keadilan Organisasi terhadap Kinerja Aparatur Sipil Negara melalui Kepuasan Kerja di Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Bone.”
Disertasi itu bukan sekadar menjadi syarat akademik untuk meraih gelar doktor. Penelitian tersebut juga merekam persoalan yang semakin relevan dalam tata kelola pemerintahan modern: bagaimana meningkatkan kinerja aparatur sipil negara di tengah tuntutan birokrasi yang semakin profesional, transparan dan berbasis digital.
H. Muslimin menempatkan tiga faktor utama sebagai fokus penelitian, yakni gaya kepemimpinan, kompetensi digital dan keadilan organisasi. Ketiganya kemudian diuji pengaruhnya terhadap kinerja ASN dengan kepuasan kerja sebagai variabel mediasi.
Pilihan lokasi penelitian pun memiliki alasan strategis. Sekretariat DPRD Kabupaten Bone merupakan perangkat yang memiliki peran penting dalam mendukung pelaksanaan fungsi legislasi, penganggaran, pengawasan serta administrasi DPRD.
Karena itu, kualitas dan kinerja aparatur di lingkungan tersebut menjadi bagian penting dalam menunjang efektivitas kelembagaan DPRD.
Dalam pemaparannya, H. Muslimin menyoroti perubahan lingkungan birokrasi yang semakin cepat seiring dengan transformasi digital.
ASN dituntut tidak hanya mampu menjalankan tugas administratif, tetapi juga adaptif terhadap teknologi dan mampu memberikan pelayanan publik secara cepat, transparan serta akuntabel.
Data yang digunakan dalam penelitian menunjukkan bahwa sekitar 40 persen ASN memiliki tingkat literasi digital menengah hingga tinggi. Sementara itu, Indeks Profesionalitas ASN tahun 2022 tercatat sebesar 60,39 dan Indeks Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) Kabupaten Bone meningkat dari 2,85 menjadi 3,18.
Menurut H. Muslimin, perkembangan tersebut menunjukkan adanya kemajuan dalam penerapan pemerintahan digital. Namun, kemajuan sistem dan teknologi tetap membutuhkan penguatan kapasitas sumber daya manusia agar transformasi digital dapat berjalan secara optimal.
Kinerja ASN, menurut kerangka penelitian H. Muslimin, tidak semata-mata ditentukan oleh sistem kerja dan teknologi. Faktor manusia, terutama bagaimana seorang pemimpin mengelola bawahannya, bagaimana pegawai menguasai teknologi, serta sejauh mana mereka merasakan keadilan di dalam organisasi, turut menentukan tingkat kepuasan dan pada akhirnya kinerja.
Penelitian H. Muslimin menggunakan seluruh ASN yang bekerja di Sekretariat DPRD Kabupaten Bone sebagai populasi.
Berdasarkan Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Kabupaten Bone tahun 2025, jumlah populasi mencapai 240 orang, terdiri atas 127 PNS atau 52,92 persen dan 113 PPPK atau 47,08 persen.
Dari jumlah tersebut, penelitian berhasil memperoleh 236 responden, dengan tingkat response rate mencapai 98,33 persen.
Komposisi responden juga relatif berimbang dari sisi gender, yakni 125 laki-laki atau 52,97 persen dan 111 perempuan atau 47,03 persen.
Dari sisi usia, kelompok terbesar berada pada rentang 35–44 tahun dengan proporsi 52,12 persen. Jika digabungkan dengan kelompok usia 45–54 tahun yang mencapai 27,96 persen, sebagian besar responden berada pada usia kerja yang relatif matang.
Dari aspek pendidikan, lulusan S1 menjadi kelompok terbesar dengan 45,74 persen. Secara kumulatif, 79,66 persen responden memiliki pendidikan minimal S1.
Sementara dari status kepegawaian, mayoritas responden merupakan PNS, yakni 86,44 persen, sedangkan PPPK sebesar 13,56 persen.
Data penelitian juga menunjukkan bahwa 57,20 persen responden merupakan pelaksana atau staf. Jika digabungkan dengan pejabat fungsional, proporsinya mencapai 82,20 persen.
Komposisi tersebut membuat penelitian lebih banyak merefleksikan pengalaman dan persepsi aparatur yang bersentuhan langsung dengan pelaksanaan tugas pelayanan dan operasional kelembagaan.
Hasil penelitian H. Muslimin memperlihatkan temuan menarik.
Gaya kepemimpinan terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja, dengan koefisien sebesar 0,330 dan nilai p 0,002.
Kompetensi digital juga memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja, dengan koefisien sebesar 0,495 dan nilai p 0,001. Angka tersebut menjadi pengaruh paling kuat di antara tiga variabel independen terhadap kepuasan kerja.
Sementara keadilan organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja dengan koefisien 0,480 dan nilai p 0,002.
Yang paling menonjol, kepuasan kerja terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja ASN dengan koefisien sebesar 0,990 dan nilai p 0,008.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa kepuasan kerja menempati posisi penting dalam menjembatani berbagai faktor organisasi dengan peningkatan kinerja aparatur.
Menariknya, gaya kepemimpinan justru tidak menunjukkan pengaruh langsung yang signifikan terhadap kinerja ASN. Koefisiennya sebesar -0,157 dengan nilai p 0,380.
Hal serupa ditemukan pada keadilan organisasi yang memiliki pengaruh langsung negatif dan tidak signifikan terhadap kinerja, dengan koefisien -0,267 dan nilai p 0,134.
Namun, ketika kedua faktor tersebut bekerja melalui kepuasan kerja, hasilnya berubah menjadi signifikan.
Pengaruh tidak langsung gaya kepemimpinan terhadap kinerja ASN melalui kepuasan kerja mencapai 0,345 dengan nilai p 0,012. Sementara pengaruh tidak langsung keadilan organisasi melalui kepuasan kerja sebesar 0,478 dengan nilai p 0,010.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa kepuasan kerja bukan sekadar variabel tambahan dalam penelitian, tetapi menjadi mekanisme penting yang menghubungkan kepemimpinan, kompetensi digital dan keadilan organisasi dengan kinerja ASN.
Dari hasil penelitian tersebut, H. Muslimin menyimpulkan bahwa gaya kepemimpinan, kompetensi digital dan keadilan organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja.
Namun, ketiga variabel tersebut tidak memberikan pengaruh langsung yang signifikan terhadap kinerja ASN.
Sebaliknya, kepuasan kerja terbukti memediasi secara penuh pengaruh ketiga variabel tersebut terhadap kinerja ASN.
Dengan kata lain, memperbaiki kepemimpinan, meningkatkan kemampuan digital dan membangun sistem organisasi yang adil belum tentu otomatis meningkatkan kinerja apabila tidak diikuti dengan terciptanya kepuasan kerja pegawai.
Karena itu, penelitian tersebut merekomendasikan agar peningkatan kinerja ASN di lingkungan Sekretariat DPRD Kabupaten Bone diarahkan pada praktik kepemimpinan yang mampu memberikan penghargaan dan motivasi, penguatan kompetensi digital, serta penerapan keadilan organisasi yang mencakup keadilan distributif, prosedural dan interaksional.
Sidang promosi doktor ini menjadi tahapan terakhir dalam perjalanan akademik H. Muslimin sebelum resmi menyandang gelar Doktor Ilmu Manajemen, setelah seluruh rangkaian studi dan penelitian berhasil diselesaikan.
Dalam sidang tersebut, Prof. Dr. H. La Ode Husen, SH., M.Hum bertindak sebagai Ketua Sidang.
H. Muslimin akan didampingi Prof. Dr. Ramlawati, SE., MM sebagai promotor, serta Prof. Dr. Serlin Serang, SE., M.Si dan Dr. Arifin, SE., MP sebagai ko-promotor.
Sementara tim penguji terdiri atas Prof. Dr. H. Baso Amang, SE., M.Si, Prof. Dr. H. Amir Mahmud, SE., M.Si., MAK, Prof. Dr. Suriyanti, SE., MM, dan Dr. Hj. Budiandriani, SE., MM.
Adapun penguji eksternal adalah Prof. Dr. Buyung Sarita, SE., MS., Ph.D, sedangkan penguji lintas disiplin ilmu adalah Dr. H. Salle, SE., SH., MH.
Di hadapan para profesor, promotor, ko-promotor dan dewan penguji itulah H. Muslimin akan mempertanggungjawabkan hasil penelitian yang telah menjadi bagian penting dari perjalanan akademiknya.
Lebih dari sekadar prosesi akademik, sidang promosi tersebut menjadi momentum untuk membawa hasil penelitian ke ruang yang lebih luas: bagaimana birokrasi dapat membangun aparatur yang tidak hanya kompeten secara digital, tetapi juga merasa dihargai, diperlakukan adil dan memiliki kepuasan dalam bekerja.
Sebab, sebagaimana ditegaskan dalam landasan pemikiran penelitian tersebut, peningkatan kinerja aparatur pada akhirnya berawal dari manusia yang bekerja di dalam organisasi—dan bagaimana organisasi mampu menciptakan lingkungan yang membuat mereka mampu bekerja secara optimal. (*)


Tinggalkan Balasan