Bone — Di tengah hamparan sawah dan keseharian warga yang lekat dengan kehidupan agraris, Desa Bacu, Kecamatan Barebbo, Kabupaten Bone, menorehkan sejarah baru di panggung nasional.
Perpustakaan Mandiri Desa Bacu berhasil meraih Juara II Nasional dalam ajang Apresiasi Perpustakaan Umum Terbaik Desa/Kelurahan Tingkat Nasional 2025 Wilayah 3, yang digelar oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI).
Capaian ini bukan sekadar penghargaan, tetapi bukti nyata bahwa semangat literasi tidak hanya tumbuh di perkotaan. Di Desa Bacu, literasi hidup dan berkembang melalui kolaborasi antara pemerintah, pengelola perpustakaan, dan masyarakat.
Kepala Desa Bacu, Andi Darmawati, S.Pd., bersama Kepala Perpustakaan Mandiri, Sry Wahyuni, S.Sos., hadir langsung di Jakarta untuk mempresentasikan inovasi dan program unggulan mereka di hadapan dewan juri nasional.
Dalam sesi presentasi, keduanya memaparkan berbagai terobosan dalam membangun budaya baca berbasis teknologi digital dan kearifan lokal.
“Alhamdulillah, Perpustakaan Mandiri Desa Bacu dapat meraih juara dua tingkat nasional. Ini menjadi kebanggaan sekaligus penghargaan atas kerja keras seluruh masyarakat Desa Bacu,” ujar Andi Darmawati, Kamis (30/10/2025).
Ia menegaskan bahwa prestasi ini lahir dari semangat gotong royong seluruh warga desa, disertai dukungan penuh Pemerintah Kabupaten Bone dan pendampingan teknis dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bone.
Sementara itu, Sry Wahyuni menceritakan perjalanan panjang menuju tingkat nasional.
“Dari awal kami berjuang di tingkat kabupaten, lalu provinsi, dan akhirnya dipercaya mewakili Sulawesi Selatan di tingkat nasional. Meraih juara dua nasional adalah hasil kerja keras yang luar biasa,” ungkapnya penuh syukur.
Perpustakaan Mandiri Desa Bacu kini menjadi tempat favorit bagi pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum.
Buka setiap Senin hingga Jumat, perpustakaan ini menyediakan wifi gratis, ruang baca terbuka, serta pojok digital yang memudahkan akses informasi.
“Anak-anak suka datang sore hari untuk mengerjakan tugas sekolah. Ada juga warga yang membaca sambil berdiskusi di gazebo,” ujar Sry Wahyuni tersenyum.
Keunikan Perpustakaan Mandiri Desa Bacu terletak pada desain bangunannya.
Berdiri di atas rumah panggung khas Bugis, perpustakaan ini dikelilingi oleh taman ketahanan pangan dan dua gazebo terbuka yang menambah suasana asri dan nyaman.
Dibangun sejak tahun 2023, perpustakaan ini kini memiliki lebih dari 4.000 koleksi buku, taman baca, serta fasilitas teknologi modern seperti tujuh unit komputer dan lima tablet yang terkoneksi internet.
Semua fasilitas ini dapat digunakan gratis oleh masyarakat, menjadikan perpustakaan sebagai pusat belajar digital di pedesaan.
Capaian Perpustakaan Mandiri Desa Bacu menjadi bukti bahwa kemajuan tidak hanya milik kota besar.
Dengan semangat gotong royong, inovasi digital, dan pelestarian budaya lokal, Desa Bacu menunjukkan bahwa literasi bisa menjadi jembatan menuju kesejahteraan dan peradaban baru.
Dari sebuah rumah panggung sederhana di pedesaan Bone, lahirlah pusat belajar yang membuka cakrawala masyarakat terhadap dunia pengetahuan dan teknologi.
Desa Bacu kini bukan hanya dikenal karena alamnya yang subur, tetapi juga karena perpustakaannya yang melahirkan inspirasi nasional. (*)



Tinggalkan Balasan