BONE — Komitmen Pemerintah Kabupaten Bone dalam menjaga ketahanan pangan kembali ditunjukkan melalui langkah nyata di lapangan. Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, turun langsung meninjau pembangunan sumur bor di Desa Corawali, Kecamatan Barebbo pada Selasa, 28 April 2026. Sebuah infrastruktur vital yang kini menjadi tumpuan petani menghadapi musim kemarau.

Di tengah ancaman kekeringan yang kerap menurunkan produktivitas pertanian, kehadiran sumur bor ini menjadi solusi strategis. Air tanah yang diangkat melalui sistem bor dimanfaatkan sebagai sumber irigasi alternatif, memastikan lahan pertanian tetap terairi dengan baik. Dengan demikian, siklus tanam tidak lagi terlalu bergantung pada curah hujan.

Pembangunan sumur bor di Kabupaten Bone pada tahun anggaran 2025 tersebar di sembilan titik, meliputi Desa Turu Adae, Desa Mappesangka, dan Desa Corawali. Setiap titik dilengkapi dengan bangunan penampungan air berkapasitas sekitar 35 ribu liter. “Infrastruktur ini dirancang untuk mengairi lahan sawah dengan cakupan minimal 25 hektare hingga maksimal 100 hektare per titik sebuah angka yang signifikan dalam mendukung produksi pangan daerah,” ungkap Bupati Bone.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Sumber Daya Air, Bina Konstruksi (SDABK) Kabupaten Bone, Kasdar, ST., M.Si, mengungkapkan bahwa capaian sembilan titik sumur bor tersebut merupakan hasil perjuangan pemerintah daerah dalam mengusulkan kebutuhan irigasi ke pemerintah pusat.

“Awalnya kita mengusulkan 100 titik, namun kuota di Sulawesi Selatan hanya 15 titik, dan Bone mendapatkan 9 titik—terbesar di provinsi. Ini tersebar di Desa Corawali Kecamatan Barebbo, serta Desa Turu Adae dan Mappesangka di Kecamatan Ponre,” jelasnya.

Kasdar juga menyebutkan bahwa total nilai pembangunan tersebut mencapai Rp13,5 miliar, dengan target utama adalah lahan-lahan pertanian yang belum terjangkau jaringan irigasi teknis.

Berdasarkan data pemetaan menggunakan GPS, total luas areal persawahan di Kabupaten Bone mencapai 110.760 hektare. Dari jumlah tersebut, sekitar 67.982 hektare telah terlayani irigasi, sementara 42.778 hektare lainnya masih bergantung pada sumber air alami.

“Yang belum beririgasi inilah yang menjadi prioritas kita untuk mendapatkan bantuan sumur bor. Ini adalah langkah konkret untuk memperluas jangkauan layanan air bagi petani,” tambah Kasdar.

Tak berhenti di situ, Pemerintah Kabupaten Bone juga telah merancang langkah lebih ambisius ke depan. Pada tahun 2026, pihaknya mengusulkan pembangunan 105 titik sumur bor yang akan tersebar di 27 kecamatan, dengan pembiayaan melalui APBN.

Peninjauan langsung oleh Bupati Bone menjadi simbol keseriusan pemerintah daerah dalam memastikan setiap program benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat. Lebih dari sekadar proyek infrastruktur, sumur bor ini menjadi harapan baru bagi petani menjaga produktivitas, meningkatkan hasil panen, dan memperkuat ketahanan pangan daerah di tengah perubahan iklim yang semakin tidak menentu. (*)