BONE — Gemuruh tepuk tangan bergema memenuhi Graha Saloka Sabba Vihara Dharma Palakka saat deretan penari lintas generasi menutup penampilan Tari Nusantara dengan penuh semangat. Pementasan seni yang menjadi bagian dari rangkaian Gema Raya Sannipata Trisuci Waisakha Puja 2570 BE/2026 umat Buddha se-Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat itu sukses menghadirkan hiburan yang memukau sekaligus memperlihatkan kekayaan budaya Indonesia.

Penampilan Tari Nusantara yang dipersembahkan oleh Vihara Dharma Palakka menjadi salah satu sajian yang paling mencuri perhatian. Berbagai tarian daerah ditampilkan secara apik oleh anak-anak, remaja, hingga para ibu. Balutan pakaian adat dari berbagai daerah, dipadukan dengan anggunnya kebaya serta gerak tari yang selaras, menghadirkan panorama budaya yang memikat setiap pasang mata.

Kehadiran para penari dari lintas usia seakan menggambarkan bahwa kecintaan terhadap budaya dapat diwariskan dari generasi ke generasi. Senyum para penampil berpadu dengan riuh tepuk tangan para tamu undangan, menciptakan suasana hangat yang penuh kebersamaan.

Kemeriahan semakin terasa dalam perayaan Gema Raya Sannipata Trisuci Waisakha Puja 2570 BE/2026 yang digelar pada Minggu, 28 Juni 2026, di Graha Saloka Sabba Vihara Dharma Palakka, Kabupaten Bone. Tidak hanya menjadi momentum sakral bagi umat Buddha, perayaan ini juga menjelma sebagai panggung persatuan yang mempertemukan unsur keagamaan, pemerintahan, dan kebudayaan.

Di panggung utama tampak para Bhikkhu Sangha mendampingi jajaran pejabat pemerintah, Wakil Bupati Bone H. Andi Akmal Pasluddin, Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Bone Hj. Maya Damayanti, tokoh adat, serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Kehadiran berbagai elemen masyarakat tersebut menjadi simbol kuatnya sinergi, toleransi, dan keharmonisan kehidupan berbangsa di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.

Selain Tari Nusantara, panggung seni juga dimeriahkan dengan tarian kolosal yang dibawakan anak-anak mengenakan kostum adat penuh warna. Dengan gerakan yang kompak dan penuh semangat, mereka menghadirkan energi ceria yang menghidupkan suasana perayaan.

Sementara itu, pada sesi berikutnya, para penari perempuan menampilkan tarian tradisional yang anggun dengan latar visual panorama alam Indonesia pada layar LED raksasa. Perpaduan teknologi modern dan kekayaan seni tradisional menghasilkan pertunjukan yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga sarat makna tentang pelestarian warisan budaya bangsa.

Pementasan seni dalam Gema Raya Sannipata Trisuci Waisakha Puja tahun ini menjadi bukti bahwa perayaan keagamaan tidak hanya menjadi ruang untuk memperkuat nilai-nilai spiritual, tetapi juga wadah mempererat persaudaraan melalui seni dan budaya. Di tengah keberagaman yang dimiliki Indonesia, setiap tarian yang dipersembahkan menjadi pesan bahwa harmoni dapat tumbuh melalui kebersamaan, saling menghargai, dan cinta terhadap budaya nusantara. (*)