BONE– Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun ini bukan sekadar seremoni, melainkan panggung refleksi dan penegasan arah masa depan pendidikan di Kabupaten Bone.
Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, bertindak sebagai inspektur upacara di hadapan jajaran Forkopimda, Danrem 141 Toddoppuli, kepala OPD, camat, hingga para kepala sekolah dari berbagai jenjang. Kehadiran lintas unsur ini menjadi simbol kuat bahwa pendidikan adalah urusan bersama bukan hanya sekolah, melainkan seluruh elemen daerah.
Dalam amanatnya, Bupati menegaskan bahwa Hardiknas adalah momentum untuk menengok kembali esensi pendidikan. Ia mengingatkan bahwa pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, melainkan proses memanusiakan manusia dengan ketulusan, kasih sayang, dan kesadaran akan potensi setiap individu sebagai ciptaan Tuhan.
Nilai-nilai itu, lanjutnya, telah lama diwariskan oleh Ki Hajar Dewantara melalui konsep sistem among: asah (ilmu), asih (kasih sayang), dan asuh (pendampingan). Tiga pilar ini, menurut Bupati, harus kembali menjadi ruh dalam praktik pendidikan di Bone.
Namun refleksi tidak berhenti pada tataran filosofis. Di hadapan peserta upacara, Bupati menyampaikan komitmen tegas: tidak boleh lagi ada anak di Bone yang putus sekolah hanya karena persoalan biaya. Pemerintah daerah, katanya, hadir untuk memastikan akses pendidikan yang adil dan merata. “Jangan lagi ada siswa tinggal di rumah tanpa mendapatkan pendidikan karena alasan biaya,” tegasnya.
Komitmen itu diwujudkan melalui langkah konkret mulai dari penguatan fasilitas pendidikan hingga pengembangan sekolah berasrama (boarding school) yakni Sekolah Rakyat. Tak hanya itu, Pemerintah Kabupaten Bone juga tengah mendorong lahirnya sekolah unggulan di setiap kecamatan, sebagai pusat mutu dan inovasi pembelajaran.
Bupati menekankan bahwa sekolah unggulan bukan sekadar label, tetapi harus ditopang oleh kurikulum adaptif, metode pembelajaran yang berkualitas, serta lingkungan belajar yang inspiratif. Ia bahkan mendorong agar Bone belajar dari praktik terbaik sekolah-sekolah unggulan di berbagai daerah di Indonesia. “Proses pembelajaran di sekolah unggulan itu berbeda. Kita harus melihat, mencontoh, dan mengembangkannya di Bone,” ujarnya.
Dalam refleksi Hardiknas ini, Bupati juga menyinggung pentingnya sinergi seluruh pihak. Guru diminta terus meningkatkan kualitas mengajar, siswa didorong lebih giat belajar, dan orang tua diharapkan aktif dalam pembinaan karakter anak.
Isu lain yang turut mendapat perhatian serius adalah bahaya penyalahgunaan narkotika. Pemerintah Kabupaten Bone mengambil langkah tegas dengan mewajibkan surat keterangan bebas narkoba dalam berbagai layanan kepegawaian, termasuk kenaikan pangkat dan mutasi jabatan. Bahkan, kebijakan serupa juga didorong untuk diterapkan sebagai syarat masuk pada sekolah model unggulan.
Tak kalah penting, Bupati juga mengingatkan soal kebersihan lingkungan sekolah. Ia menyinggung capaian Bone yang telah mendapat pengakuan nasional dalam pengelolaan sampah, dan mengajak seluruh elemen pendidikan untuk menjaga prestasi tersebut. “Untuk itu mari kita BerAdipura setiap hari,” serunya.
Peringatan Hardiknas 2026 di Bone akhirnya menjadi lebih dari sekadar agenda tahunan. Ia menjelma sebagai simbol komitmen kolektif membangun pendidikan yang inklusif, merata, dan berdaya saing. Dari Lapangan Merdeka Watampone, pesan itu menggema: masa depan Bone dimulai dari ruang-ruang kelas yang hari ini terus diperjuangkan kualitasnya. (*)


Tinggalkan Balasan