BONE– Di tengah dinamika ekonomi yang terus bergerak, kabar menggembirakan datang dari Sulawesi Selatan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Triwulan I Tahun 2026 menunjukkan mayoritas kabupaten dan kota di provinsi ini mampu mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang impresif. Bahkan, sebagian besar daerah berhasil melampaui angka pertumbuhan 6 persen.
Di antara daerah-daerah tersebut, Kabupaten Bone tampil sebagai salah satu motor penggerak ekonomi yang menunjukkan tren peningkatan konsisten dalam beberapa tahun terakhir. Kabupaten terbesar kedua di Sulawesi Selatan setelah Gowa ini mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 7,84 persen pada Triwulan I Tahun 2026.
Angka tersebut menjadi capaian yang patut diperhitungkan. Pada 2024, pertumbuhan ekonomi Bone tercatat sebesar 5,4 persen. Setahun kemudian meningkat menjadi 6,03 persen, sebelum akhirnya melonjak menjadi 7,84 persen pada awal 2026. Dalam kurun dua tahun, pertumbuhan ekonomi daerah ini meningkat sekitar 2,4 persen.
Di balik angka tersebut, terdapat berbagai upaya pembangunan yang terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Bone di bawah kepemimpinan Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., MM bersama Wakil Bupati Dr. H. Andi Akmal Pasluddin, MM. Pasangan yang dikenal dengan tagline BerAmal ini mendorong pertumbuhan ekonomi melalui penguatan berbagai sektor strategis yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat.
Salah satu fokus utama adalah pembangunan infrastruktur. Jalan, jembatan, dan fasilitas publik dibangun secara bertahap untuk memperlancar konektivitas antarkawasan. Menariknya, pembangunan tersebut juga memaksimalkan penggunaan material lokal sehingga memberikan manfaat ganda. Selain mempercepat pembangunan fisik, kebijakan ini turut menggerakkan sektor usaha lokal dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat.
Dampak pembangunan tidak hanya terlihat pada sektor konstruksi. Di sektor perdagangan, geliat ekonomi masyarakat semakin terasa melalui dukungan pemerintah terhadap pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Berbagai program pemberdayaan terus digulirkan, termasuk bantuan gerobak melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) dan penyediaan ruang usaha di pusat kota.
Keberadaan UMKM di berbagai ruang publik menghadirkan denyut ekonomi baru. Aktivitas perdagangan semakin hidup, peluang usaha bertambah, dan perputaran uang di tingkat masyarakat berlangsung lebih dinamis. Bagi banyak keluarga, usaha kecil menjadi sumber penghasilan yang mampu menopang kebutuhan sehari-hari.
Namun, kekuatan utama ekonomi Bone tetap bertumpu pada sektor pertanian. Sebagai daerah agraris, kehidupan masyarakat Bone tidak bisa dilepaskan dari sawah, ladang, dan hasil panen. Dalam beberapa waktu terakhir, petani menikmati peningkatan harga gabah dan jagung yang berdampak langsung terhadap pendapatan mereka.
Kondisi tersebut tidak terjadi begitu saja. Pemerintah Kabupaten Bone aktif mendukung berbagai program nasional di bidang pangan, mulai dari peningkatan produksi pertanian, kelancaran distribusi hasil panen, hingga penguatan rantai pasok. Dukungan itu membantu menjaga stabilitas ekonomi pedesaan yang menjadi fondasi penting perekonomian daerah.
Ketika sektor pertanian tumbuh, dampaknya menjalar ke berbagai sektor lainnya. Daya beli masyarakat meningkat, aktivitas perdagangan semakin ramai, sektor jasa bergerak lebih aktif, dan usaha-usaha kecil di desa maupun kota ikut merasakan manfaatnya.
Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi yang dicapai Bone tidak hanya berorientasi pada peningkatan angka statistik. Pemerintah daerah juga berupaya memastikan manfaat pembangunan dapat dirasakan oleh kelompok masyarakat yang paling membutuhkan.
Berbagai program pengentasan kemiskinan ekstrem terus diperkuat melalui penyerapan tenaga kerja, pelatihan keterampilan, serta bantuan usaha produktif bagi keluarga kurang mampu. Tujuannya adalah menciptakan peluang ekonomi yang lebih luas sehingga masyarakat dapat meningkatkan taraf hidup dan keluar dari lingkaran kemiskinan.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak semata-mata dipandang sebagai pencapaian makro, melainkan sebagai instrumen untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara nyata.
Kekuatan ekonomi Bone juga tercermin dari besarnya nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Data terbaru menunjukkan PDRB Kabupaten Bone atas dasar harga berlaku mencapai Rp54,21 triliun, sementara PDRB atas dasar harga konstan tercatat Rp28,45 triliun.
Secara nominal, capaian tersebut menempatkan Bone sebagai daerah dengan nilai PDRB terbesar kedua di Sulawesi Selatan setelah Kota Makassar. Besarnya nilai tersebut menggambarkan tingginya aktivitas ekonomi yang berlangsung di daerah ini.
Bagi masyarakat awam, PDRB dapat dipahami sebagai total nilai barang dan jasa yang dihasilkan dalam suatu wilayah selama satu tahun. Semakin besar nilai PDRB, semakin besar pula aktivitas ekonomi yang terjadi. PDRB atas dasar harga berlaku mencerminkan nilai ekonomi berdasarkan harga saat ini, sedangkan PDRB atas dasar harga konstan digunakan untuk mengukur pertumbuhan ekonomi riil karena telah menghilangkan pengaruh inflasi.
Sementara itu, secara regional, Sulawesi Selatan menunjukkan performa ekonomi yang sangat positif. Kabupaten Sinjai tampil sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi, mencapai 11,14 persen. Kinerja tersebut didorong oleh kuatnya sektor pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah, termasuk peningkatan produksi dan ekspor hasil pertanian.
Sejumlah daerah lain juga mencatat pertumbuhan yang mengesankan. Maros tumbuh 9,83 persen, disusul Pangkep 9,54 persen, Soppeng 9,47 persen, dan Gowa 9,39 persen. Capaian ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi semakin merata dan tidak hanya terpusat di satu wilayah.
Secara keseluruhan, rata-rata pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan mencapai 6,88 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional yang berada pada angka 5,61 persen. Kondisi tersebut semakin mempertegas posisi Sulawesi Selatan sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi utama di kawasan Indonesia Timur.
Menariknya, hampir seluruh kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan berhasil mencatatkan pertumbuhan positif. Hanya Kabupaten Luwu Timur yang mengalami kontraksi ekonomi sebesar 2,31 persen. Meski demikian, kondisi tersebut tidak mengurangi optimisme terhadap kinerja ekonomi provinsi secara keseluruhan karena mayoritas daerah mampu menjaga momentum pertumbuhan.
Kabupaten-kabupaten seperti Bone, Bulukumba, Barru, Luwu, Pinrang, dan Wajo bahkan mencatatkan pertumbuhan di atas 7 persen. Sementara Kota Makassar sebagai pusat ekonomi provinsi tetap memberikan kontribusi yang kuat dengan pertumbuhan 6,61 persen.
Capaian ini menjadi sinyal bahwa roda perekonomian Sulawesi Selatan terus bergerak dengan kokoh. Dukungan sektor pertanian, perdagangan, industri pengolahan, dan meningkatnya aktivitas ekspor menjadi fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan pertumbuhan.
Bagi Bone, capaian pertumbuhan 7,84 persen bukan sekadar angka dalam laporan statistik. Di baliknya terdapat kerja pembangunan yang terus berjalan, aktivitas ekonomi masyarakat yang semakin hidup, serta harapan baru bagi peningkatan kesejahteraan warga. Jika momentum ini dapat dipertahankan, Bone berpeluang memperkuat posisinya sebagai salah satu kekuatan ekonomi utama di Sulawesi Selatan dan kawasan Indonesia Timur. (*)


Tinggalkan Balasan