BONE– Di sela hamparan kebun salak yang rindang di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M. bersama Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Bone Hj. Maryam Andi Asman tampak menyimak setiap penjelasan yang disampaikan para petani. Kunjungan tersebut bukan sekadar agenda seremonial, melainkan sebuah langkah untuk mempelajari keberhasilan daerah lain dalam mengembangkan komoditas unggulan yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dalam kunjungan studi tiru itu, rombongan Pemerintah Kabupaten Bone mengunjungi sentra budidaya salak madu atau salak pondoh di Sleman. Mereka mendapat penjelasan langsung dari Ketua Komunitas Perlindungan Indikasi Geografis (KPIG) Salak Pondoh Sleman mengenai seluruh proses budidaya, mulai dari teknik pembibitan, perawatan tanaman, proses penyerbukan atau kawin silang, hingga strategi pemasaran yang menjadikan salak pondoh sebagai salah satu buah unggulan nasional.
Menurut Ketua KPIG Salak Pondoh Sleman, salak madu yang kini dikenal luas merupakan hasil pengembangan melalui persilangan berbagai varietas salak. Inovasi tersebut menghasilkan buah dengan cita rasa yang lebih manis, tekstur renyah, serta memiliki karakteristik khas yang menjadi daya tarik di pasar. Keberhasilan itu tidak hanya didukung oleh teknik budidaya yang baik, tetapi juga melalui perlindungan Indikasi Geografis yang menjaga kualitas dan identitas produk asal Sleman.
Bagi Pemerintah Kabupaten Bone, pengalaman tersebut menjadi referensi berharga dalam menyusun langkah pengembangan sektor hortikultura di daerah. Potensi lahan yang dimiliki Kabupaten Bone dinilai membuka peluang untuk menghadirkan komoditas baru yang bernilai ekonomi tinggi apabila dikelola dengan perencanaan, pendampingan, dan inovasi yang tepat.
Kunjungan ini juga menjadi momentum untuk memperkuat semangat belajar dari keberhasilan daerah lain. Melalui studi tiru tersebut, Pemerintah Kabupaten Bone berharap budidaya salak madu dapat dikembangkan secara bertahap sesuai dengan kondisi agroklimat daerah, sehingga mampu menjadi sumber pendapatan baru bagi petani sekaligus memperluas pilihan komoditas pertanian unggulan.
Lebih jauh lagi, pengembangan salak madu di Bone diharapkan tidak berhenti pada aspek produksi semata. Dengan pengelolaan yang terintegrasi, kawasan budidaya berpotensi dikembangkan menjadi destinasi agrowisata yang mampu menarik kunjungan wisatawan, membuka peluang usaha bagi masyarakat, serta mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
Dari kebun-kebun salak di Sleman, Pemerintah Kabupaten Bone membawa pulang lebih dari sekadar pengetahuan tentang teknik budidaya. Yang dibawa adalah inspirasi bahwa sebuah komoditas pertanian, ketika dikelola secara profesional, didukung inovasi, dan melibatkan masyarakat, dapat tumbuh menjadi kekuatan ekonomi daerah. Harapannya, manisnya salak madu suatu hari nanti juga dapat menjadi manisnya kesejahteraan bagi masyarakat Kabupaten Bone. (*)


Tinggalkan Balasan