BONE — Hanya dalam waktu kurang dari delapan bulan, wajah sepak bola Kabupaten Bone menunjukkan perubahan yang mencolok.
Pada Februari 2026, Persibone harus menelan kekalahan telak 0-21 dari Makassar City dalam lanjutan Liga 4 Sulawesi Selatan. Kala itu, tim asal Kabupaten Bone tersebut hanya membawa 10 pemain ke pertandingan karena terkendala persoalan pendanaan.
Kondisi itu menjadi salah satu gambaran beratnya perjalanan Persibone dalam mengikuti kompetisi. Keterbatasan jumlah pemain dan persoalan pembiayaan membuat langkah tim kebanggaan masyarakat Bone berada dalam situasi sulit.
Laga tersebut berlangsung pada Kamis (12/2/2026). Skor besar 0-21 pun menjadi catatan pahit yang sulit dilupakan dalam perjalanan sepak bola Bone.
Namun, cerita itu tidak berhenti di sana. Kurang dari delapan bulan kemudian, sepak bola Bone menghadirkan kisah yang berbeda melalui Bone Beramal FC. Tim tersebut berhasil menjuarai Piala Gubernur Sulsel 2026 setelah menaklukkan Sidrap United pada partai final di Stadion Gelora BJ Habibie, Kota Parepare, Senin (21/9/2026).
Perubahan itu terasa semakin kuat ketika trofi juara akhirnya dibawa pulang ke Bone.
Ribuan masyarakat menyambut keberhasilan tersebut dengan penuh antusias. Pada Rabu (23/9/2026), trofi Piala Gubernur Sulsel 2026 diarak keliling Kota Watampone.
Arak-arakan itu bukan sekadar perayaan sebuah gelar. Di balik trofi tersebut tersimpan perjalanan panjang sebuah tim yang beberapa bulan sebelumnya harus berjuang dengan keterbatasan.
Dukungan pemerintah daerah turut menjadi bagian dalam perjalanan Bone Beramal FC. Di bawah dukungan Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman, tim tersebut mampu melewati rangkaian pertandingan hingga akhirnya keluar sebagai juara.
Manager Bone Beramal FC, Edy Saputra Syam, menyampaikan apresiasi atas dukungan yang diberikan Bupati Bone.
“Alhamdulillah, dengan dukungan Bapak Bupati Bone, alhamdulillah Bone Beramal FC juara Piala Gubernur Sulsel 2026,” kata Edy, Rabu (23/9/2026).
Kepala BKPSDM Bone itu mengaku bersyukur atas dukungan langsung Bupati Bone yang turut mendorong semangat para pemain dan ofisial selama mengikuti turnamen.
Menurut Edy, keberhasilan tersebut bukan hasil kerja satu pihak. Gelar juara lahir dari kolaborasi pemain, ofisial, manajemen, pemerintah daerah, serta dukungan masyarakat Bone.
Jika Februari lalu nama Persibone tercatat dalam pertandingan yang berakhir dengan skor 0-21, September ini nama Bone kembali menjadi sorotan lewat sebuah trofi juara.
Dua peristiwa itu memperlihatkan betapa dinamisnya perjalanan sepak bola sebuah daerah.
Dari hanya membawa 10 pemain ke lapangan karena persoalan pendanaan, hingga mampu mengangkat trofi di Stadion Gelora BJ Habibie, perjalanan tersebut menjadi bagian dari cerita pembinaan sepak bola Kabupaten Bone sepanjang 2026.
Perubahan itu juga menunjukkan bahwa perjalanan sebuah tim tidak hanya ditentukan oleh hasil di lapangan. Kesiapan tim, dukungan pemerintah daerah, manajemen, serta keterlibatan masyarakat turut menjadi bagian penting dalam membangun sebuah prestasi.
Bagi masyarakat Bone, trofi Piala Gubernur Sulsel 2026 menjadi lebih dari sekadar gelar juara. Trofi itu menjadi penanda bahwa setelah melewati salah satu titik terberatnya, sepak bola Bone mampu menghadirkan cerita berbeda dalam waktu yang relatif singkat.
Dari skor 0-21 pada Februari, hingga perayaan juara pada September.
Sebuah perjalanan yang memperlihatkan bahwa dalam sepak bola, cerita hari ini belum tentu menjadi cerita yang sama beberapa bulan kemudian. (*)


Tinggalkan Balasan