MAKASSAR — Perjalanan panjang H. Muslimin, SE., MM., menuju puncak akademik akhirnya berbuah manis. Di tengah kesibukannya sebagai legislator dan pengurus organisasi olahraga, ia berhasil meraih gelar Doktor Ilmu Manajemen pada Program Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar.
Sidang Promosi Doktor yang digelar pada Sabtu, 8 Agustus 2026, pukul 10.00–12.00 WITA di Aula PJJ Lantai I Pascasarjana UMI, menjadi momentum penting dalam perjalanan akademiknya.
Hasilnya pun membanggakan. H. Muslimin dinyatakan lulus dengan predikat pujian (cumlaude) setelah memperoleh nilai ujian 92,5 dengan nilai A dan IPK 3,99.
Dalam sidang terbuka tersebut, H. Muslimin mempertahankan disertasi berjudul “Pengaruh Gaya Kepemimpinan, Kompetensi Digital dan Keadilan Organisasi terhadap Kinerja Aparatur Sipil Negara melalui Kepuasan Kerja di Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Bone.”
Ketua Sidang Ujian Promosi Doktor menyatakan H. Muslimin, mahasiswa Program Studi Doktor Ilmu Manajemen dengan peminatan Manajemen Sumber Daya Manusia, dinyatakan lulus dengan predikat pujian.
“Mulai saat ini Saudara dinyatakan berhak menyandang gelar akademik Doktor, yang disingkat Dr. D besar, r kecil,” demikian penegasan Ketua Sidang dalam prosesi pengukuhan tersebut.
H. Muslimin juga tercatat sebagai alumni Doktor Ilmu Manajemen UMI ke-631.
Mengawinkan Politik, Organisasi, dan Akademik
Gelar doktor tersebut melengkapi perjalanan H. Muslimin yang selama ini aktif di berbagai bidang. Ia dikenal sebagai Ketua Fraksi Partai NasDem DPRD Bone dan dipercaya menjabat Ketua Umum Pengkab PBVSI Bone periode 2026–2030.
Di tengah aktivitas politik dan organisasi, ia memilih tetap menekuni dunia akademik. Disertasinya pun tidak jauh dari realitas birokrasi dan pemerintahan yang bersentuhan dengan tugasnya sebagai legislator.
Penelitian tersebut mengkaji bagaimana gaya kepemimpinan, kompetensi digital, dan keadilan organisasi memengaruhi kinerja Aparatur Sipil Negara (ASN), dengan kepuasan kerja ditempatkan sebagai variabel mediasi.
Lokasi penelitian dipusatkan di Sekretariat DPRD Kabupaten Bone, sebuah institusi yang memiliki posisi strategis dalam mendukung pelaksanaan fungsi legislasi, penganggaran, pengawasan, dan administrasi DPRD.
Menurut H. Muslimin, penelitian itu berangkat dari kebutuhan meningkatkan kinerja ASN menghadapi tuntutan tata kelola pemerintahan yang semakin dinamis, profesional, transparan, dan berbasis digital.
“Transformasi digital dalam birokrasi memerlukan ASN yang kompeten, adaptif, dan mampu memberikan pelayanan publik secara cepat, transparan, serta akuntabel,” paparnya dalam sidang.
Ketika Teknologi Bertemu Kepemimpinan
Penelitian H. Muslimin menunjukkan bahwa peningkatan kinerja ASN tidak semata-mata bergantung pada teknologi dan sistem birokrasi.
Ada faktor manusia yang menjadi penentu, yakni bagaimana seorang pemimpin mengelola organisasi, sejauh mana aparatur memiliki kompetensi digital, serta apakah mereka merasakan keadilan di lingkungan kerja.
Data penelitian menunjukkan sekitar 40 persen ASN memiliki tingkat literasi digital menengah hingga tinggi. Sementara itu, Indeks Profesionalitas ASN tahun 2022 tercatat 60,39. Di Kabupaten Bone, Indeks Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) meningkat dari 2,85 menjadi 3,18.
Angka tersebut memperlihatkan adanya perkembangan dalam transformasi pemerintahan digital. Namun, H. Muslimin menilai penguatan kapasitas aparatur tetap diperlukan agar transformasi tersebut tidak berhenti pada penerapan teknologi, tetapi benar-benar menghasilkan peningkatan kualitas pelayanan publik.
Penelitian dilakukan terhadap populasi 240 ASN di Sekretariat DPRD Kabupaten Bone. Dari jumlah tersebut, diperoleh 236 responden, dengan tingkat respons mencapai 98,33 persen.
Komposisi responden relatif berimbang dari sisi gender, yakni 125 laki-laki atau 52,97 persen dan 111 perempuan atau 47,03 persen.
Kelompok usia terbesar berada pada rentang 35–44 tahun, yakni 52,12 persen. Dari sisi pendidikan, lulusan S1 mendominasi dengan 45,74 persen, sementara secara kumulatif 79,66 persen responden memiliki pendidikan minimal S1.
Kepuasan Kerja Menjadi Kunci
Salah satu temuan menarik dalam penelitian H. Muslimin adalah posisi kepuasan kerja sebagai penghubung penting antara faktor organisasi dan kinerja ASN.
Hasil uji menunjukkan gaya kepemimpinan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja, dengan koefisien 0,330 dan nilai p 0,002.
Kompetensi digital juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja, dengan koefisien 0,495 dan nilai p 0,001. Bahkan, variabel ini menjadi faktor dengan pengaruh paling kuat terhadap kepuasan kerja dibandingkan tiga variabel independen lainnya.
Sementara keadilan organisasi memiliki koefisien 0,480 dengan nilai p 0,002, yang berarti turut memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja.
Yang paling menonjol adalah hubungan kepuasan kerja dengan kinerja ASN. Variabel tersebut memiliki koefisien 0,990 dengan nilai p 0,008.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa kepuasan kerja menjadi salah satu mekanisme penting dalam mendorong peningkatan kinerja aparatur.
Menariknya, gaya kepemimpinan dan keadilan organisasi tidak terbukti memberikan pengaruh langsung yang signifikan terhadap kinerja ASN. Pengaruh langsung gaya kepemimpinan tercatat -0,157 dengan nilai p 0,380, sedangkan keadilan organisasi -0,267 dengan nilai p 0,134.
Namun, ketika keduanya bekerja melalui kepuasan kerja, hasilnya berubah signifikan.
Pengaruh tidak langsung gaya kepemimpinan terhadap kinerja melalui kepuasan kerja mencapai 0,345 dengan nilai p 0,012. Sementara pengaruh tidak langsung keadilan organisasi mencapai 0,478 dengan nilai p 0,010.
Temuan itu memperkuat kesimpulan bahwa kepuasan kerja memediasi secara penuh pengaruh gaya kepemimpinan, kompetensi digital, dan keadilan organisasi terhadap kinerja ASN.
Pesan untuk Birokrasi Bone
Bagi H. Muslimin, temuan tersebut bukan sekadar angka statistik. Ia melihat hasil penelitian sebagai masukan yang dapat diterapkan dalam pengelolaan birokrasi.
Peningkatan kinerja ASN, menurutnya, perlu dilakukan secara lebih komprehensif. Tidak cukup hanya dengan mendorong penggunaan teknologi, tetapi juga harus dibarengi kepemimpinan yang mampu memberikan motivasi dan penghargaan, peningkatan kompetensi digital, serta penerapan prinsip keadilan di lingkungan organisasi.
Keadilan itu mencakup keadilan distributif, prosedural, maupun interaksional.
Dengan pendekatan tersebut, aparatur diharapkan tidak hanya mampu menyelesaikan pekerjaan secara administratif, tetapi juga memiliki kepuasan dan rasa memiliki terhadap organisasi.
Perjalanan Akademik yang Berujung Pengabdian
Sidang promosi doktor H. Muslimin dipimpin Prof. Dr. H. La Ode Husen, SH., M.Hum sebagai Ketua Sidang.
Ia didampingi promotor Prof. Dr. Ramlawati, SE., MM, serta ko-promotor Prof. Dr. Serlin Serang, SE., M.Si dan Dr. Arifin, SE., MP.
Dewan penguji terdiri atas Prof. Dr. H. Baso Amang, SE., M.Si, Prof. Dr. H. Amir Mahmud, SE., M.Si., MAK, Prof. Dr. Suriyanti, SE., MM, dan Dr. Hj. Budiandriani, SE., MM.
Sementara penguji eksternal adalah Prof. Dr. Buyung Sarita, SE., MS., Ph.D, serta penguji lintas disiplin ilmu Dr. H. Salle, SE., SH., MH.
Di hadapan para guru besar dan penguji, H. Muslimin menyampaikan disertasinya dengan menguraikan latar belakang penelitian, landasan teoritis, metode, hasil analisis, pembahasan, hingga implikasi penelitian.
Ia juga mengawali pemaparannya dengan memohon ridha Allah SWT serta mengharapkan perhatian, arahan, dan masukan konstruktif dari dewan penguji.
Kini, perjalanan akademik itu telah sampai di garis akhir.
Dari seorang legislator yang sehari-hari bergelut dengan persoalan masyarakat, H. Muslimin menambah satu capaian penting dalam perjalanan hidupnya: Doktor Ilmu Manajemen dengan predikat cumlaude dan IPK 3,99.
Gelar tersebut bukan hanya menjadi simbol pencapaian akademik, tetapi juga membawa sebuah pesan dari ruang sidang: bahwa birokrasi yang kuat membutuhkan kepemimpinan yang baik, aparatur yang melek digital, organisasi yang adil, dan—yang tak kalah penting—pegawai yang merasa dihargai dan puas dalam bekerja.
Dari UMI Makassar, gelar doktor itu kini melekat pada namanya. Selanjutnya, tantangan yang lebih besar adalah membawa pengetahuan tersebut kembali ke ruang pengabdian. (*)


Tinggalkan Balasan