BONE– Di antara puluhan anak muda yang bersiap membawa nama Kabupaten Bone ke tingkat nasional, ada satu sosok yang mungkin mendapat sorotan lebih. Ia adalah Andi Asram Sulaiman, putra Bupati Bone terpilih, H. Andi Asman Sulaiman.
Andi Asram menjadi salah satu dari 32 peserta yang tergabung dalam Kontingen Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Bone menuju Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur. Bersama rekan-rekannya, ia akan membawa semangat dan nama Bone dalam Jambore Nasional XII yang dijadwalkan berlangsung pada 12–20 Agustus 2026.
Namun, perjalanan menuju Cibubur bagi Andi Asram bukan sekadar tentang status sebagai putra seorang kepala daerah. Ia berada di sana setelah melewati proses yang sama dengan peserta lainnya seleksi dan persiapan untuk menjadi bagian dari kontingen yang dipercaya mewakili Bone di ajang nasional.
Kontingen Kwarcab Bone sendiri berjumlah 38 orang. Mereka terdiri atas dua pimpinan kontingen, empat pembina pendamping, dan 32 peserta. Puluhan anggota Pramuka tersebut kini membawa satu misi bersama: tampil sebaik mungkin sekaligus mengangkat kembali nama Pramuka Bone di pentas nasional.
Bagi Bupati Bone, keberangkatan kontingen ini menjadi kebanggaan tersendiri. Para peserta dinilai telah melewati proses seleksi yang tidak mudah hingga akhirnya dipercaya menjadi wakil daerah.
“Saya ingin prestasi terus ditingkatkan dan mengharumkan nama baik Bone. Kalian adalah putra-putri terbaik yang telah melalui proses seleksi yang tidak mudah. Tampilkan kemampuan terbaik di Bumi Perkemahan Cibubur,” pesan Andi Asman kepada para peserta.
Tetapi ada pesan lain yang jauh lebih dalam dari sekadar target prestasi.
Sebagai Ketua Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Bone, Andi Asman menitipkan harapan agar para peserta tidak hanya pulang membawa pengalaman atau penghargaan. Mereka juga diharapkan mampu menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali kebanggaan terhadap Gerakan Pramuka di Bone.
“Ingat, dahulu Pramuka Bone dikenal di mana-mana. Mari kita kembalikan marwah Pramuka Bone,” ujarnya.
Pesan itu menjadi semacam pengingat bahwa Jambore Nasional bukan hanya tentang tenda, kegiatan lapangan, atau persaingan antarkontingen. Di balik riuhnya perkemahan, ada proses pembentukan karakter yang menjadi bagian penting dari pendidikan kepramukaan.
“Jambore Nasional bukan sekadar perkemahan, tetapi menjadi tempat membangun karakter, memperkuat persatuan, kebersamaan, dan jiwa nasionalisme,” lanjutnya.
Bagi Andi Asram dan 31 peserta lainnya, perjalanan menuju Cibubur pun menjadi lebih dari sekadar perjalanan mengikuti kegiatan nasional. Mereka membawa identitas Bone di pundak masing-masing.
Di tengah ribuan peserta dari berbagai daerah di Indonesia, mereka akan bertemu dengan generasi muda yang memiliki latar belakang berbeda, tetapi dipersatukan oleh semangat yang sama: Pramuka.
Bukan hanya bagaimana menunjukkan kemampuan terbaik, tetapi juga bagaimana menjaga sikap, membangun persahabatan, belajar dari keberagaman, dan pulang membawa pengalaman yang dapat dibagikan kepada generasi Pramuka berikutnya di Bone.
Andi Asram mungkin berangkat sebagai putra Bupati Bone. Namun di Bumi Perkemahan Cibubur, ia dan seluruh anggota kontingen akan berdiri sebagai satu kesatuan: Pramuka Bone.
Mereka membawa satu nama, satu daerah, dan satu harapan—mengembalikan kejayaan serta marwah Pramuka Bone di tingkat nasional. (*)


Tinggalkan Balasan