BONE– Halaman Rumah Jabatan Bupati Bone di Jalan Petta Ponggawae, Watampone, Senin (13/7/2026), tampak berbeda dari biasanya. Di bawah langit pagi yang cerah, para kepala sekolah, pengawas pendidikan, komite sekolah, hingga pengelola bank sampah berkumpul membawa satu semangat yang sama: mengubah cara masyarakat memandang sampah.
Hari itu, Pemerintah Kabupaten Bone secara resmi meluncurkan GAAS BERAMAL (Galakkan Aksi Ambil Sampah Bersih, Asri, Mandiri, Aman, Lestari), sebuah gerakan yang menempatkan sekolah sebagai garda terdepan dalam membangun budaya peduli lingkungan. Peluncuran tersebut dirangkaikan dengan penandatanganan Pernyataan Komitmen untuk mewujudkan budaya sekolah yang bersih, sehat, asri, mandiri, aman, dan lestari melalui pelaksanaan program GAAS BERAMAL secara berkelanjutan di seluruh satuan pendidikan Kabupaten Bone.
Komitmen bersama itu ditandatangani oleh Ketua K3S Kecamatan Tanete Riattang Hj. Andi Bulkis, S.Pd., Ketua K3S Kecamatan Tanete Riattang Barat Juraeje, S.Pd., M.Pd., Ketua K3S Kecamatan Tanete Riattang Ruslianto Asmara, S.Pd., Ketua Komite, Ketua MKKS SMP Kabupaten Bone Muhammad Arfah, S.Pd., M.Pd., Direktur KSM Harapan Sehat TPS 3R Palakka Dr. H. Syarifuddin Yusmar, M.Ag., Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bone Baharuddin, S.Pd., M.M., serta Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M.
Bagi Dinas Pendidikan Kabupaten Bone, GAAS BERAMAL bukan sekadar program kebersihan, melainkan gerakan perubahan budaya yang dimulai dari lingkungan sekolah hingga ke rumah-rumah warga.
Dalam laporannya, Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bone Baharuddin menjelaskan bahwa GAAS BERAMAL merupakan program inisiasi Bupati Bone yang dijalankan Dinas Pendidikan sebagai upaya mempercepat penanganan persoalan sampah di Kabupaten Bone.
Menurutnya, sekolah memiliki potensi besar menjadi pusat edukasi lingkungan karena melibatkan guru, kepala sekolah, peserta didik, serta orang tua melalui komite sekolah. Seluruh unsur tersebut diharapkan bergerak bersama menghadapi persoalan sampah yang telah menjadi fenomena sosial.
Keunikan program ini terletak pada keterlibatan keluarga. Tidak hanya sampah yang dihasilkan di sekolah, peserta didik juga diajak membawa sampah dari rumah untuk dipilah di sekolah. Tempat pemisahan sampah disediakan agar sampah plastik dan kertas dapat dikelola secara terpisah sebelum disalurkan kepada pengelola sampah.
Melalui kerja sama dengan komite sekolah dan KSM Harapan Sehat TPS 3R Palakka, sampah yang telah terkumpul akan dijemput dan ditimbang setiap pekan. Hasil pengelolaannya kemudian menjadi sumber pendanaan tambahan yang dapat dimanfaatkan sekolah untuk mendukung berbagai kegiatan yang belum dapat dibiayai melalui dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
“Program ini kami laksanakan bersama vendor KSM Harapan Sehat TPS 3R Palakka sebagai bentuk kolaborasi dalam mengatasi timbunan sampah yang terus diproduksi setiap hari. Kami berharap gerakan ini mampu membangun komitmen bersama sehingga Bone dapat menjadi proyek percontohan penanganan sampah sekaligus mendukung upaya mempertahankan Piala Adipura,” ujar Baharuddin.
Sementara itu, Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman menegaskan bahwa keberhasilan GAAS BERAMAL sangat bergantung pada kedisiplinan seluruh warga sekolah dalam mengelola sampah sejak dari sumbernya.
Ia mengingatkan agar tidak ada lagi kebiasaan membuang sampah sembarangan. Bahkan, apabila belum menemukan tempat sampah, masyarakat diminta menyimpan sampahnya terlebih dahulu hingga menemukan lokasi pembuangan yang benar.
“Kalau perlu sampahnya dikantongi. Tisu pun dikantongi, jangan dibuang sembarangan,” tegasnya.
Bupati juga memberikan penekanan khusus kepada seluruh sekolah di Kabupaten Bone agar tidak lagi membuang sampah ke luar lingkungan sekolah. Menurutnya, sekolah yang masih melakukan hal tersebut akan memperoleh penilaian nol dalam evaluasi program.
Sebaliknya, sekolah yang mampu mengolah dan mendaur ulang sampah akan memperoleh nilai tertinggi karena telah menerapkan prinsip pengelolaan sampah secara mandiri.
“Kita ingin seperti Jepang, mengolah sampah dari rumah tangga sendiri. Sebenarnya sampah itu bukan untuk dibuang, tetapi memiliki nilai ekonomi. Sampah bisa menjadi uang, bisa menjadi barang yang bermanfaat kembali,” ungkapnya.
Ia juga meminta agar setiap sekolah memiliki tempat sampah yang memadai serta menerapkan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Kepada para pengawas sekolah dan Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S), Bupati meminta agar program tersebut dikawal secara serius.
Sebagai tindak lanjut, seluruh kepala sekolah dijadwalkan mengikuti evaluasi bersama pada pekan berikutnya untuk memastikan implementasi GAAS BERAMAL berjalan sesuai komitmen yang telah dibangun.
Peluncuran GAAS BERAMAL menjadi penanda bahwa perjuangan menjaga lingkungan tidak selalu dimulai dari proyek besar. Ia bisa dimulai dari langkah sederhana: melihat sampah, mengambilnya, memilahnya, lalu mengolahnya menjadi sesuatu yang bernilai.
Dari tangan-tangan kecil para peserta didik, dari ruang-ruang kelas, hingga ke halaman rumah masing-masing, Pemerintah Kabupaten Bone berharap akan tumbuh sebuah budaya baru—budaya yang menjadikan kebersihan bukan sekadar slogan, tetapi bagian dari karakter masyarakat Bone menuju daerah yang bersih, asri, mandiri, aman, dan lestari. (*)


Tinggalkan Balasan