BONE– Watampone tak lagi sekadar menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Bone. Kota ini perlahan menjelma menjadi wajah baru yang lebih bersih, hijau, dan tertata. Perubahan itu bukan hadir begitu saja, melainkan lahir dari gerakan yang dibangun secara konsisten, dimulai dari keteladanan seorang pemimpin hingga tumbuh menjadi budaya masyarakat.

Sejak H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M. mengemban amanah sebagai Bupati Bone didampingi H. Andi Akmal Pasluddin sebagai Wakil Bupati Bone pada 20 Februari 2025, semangat pembenahan kota langsung bergulir. Baginya, kebersihan bukan sekadar program pemerintah, melainkan cerminan karakter sebuah daerah. Karena itu, ia memilih turun langsung ke lapangan, mengajak masyarakat, aparatur, hingga seluruh elemen pemerintahan menjadikan kebersihan sebagai gerakan bersama.
Setiap pagi, denyut aktivitas kebersihan sudah terasa di berbagai sudut Kota Watampone. Satgas kebersihan dari tingkat kelurahan bergerak berdampingan dengan petugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH), menyapu jalan, membersihkan drainase, hingga menata ruang-ruang publik. Ketika matahari mulai condong ke barat, sekitar pukul 14.00 WITA, petugas DLH kembali turun menyisir jalan-jalan utama agar wajah kota tetap bersih hingga malam hari.
Gerakan itu tidak bergantung pada kehadiran bupati di lokasi. Bahkan ketika menjalankan tugas dinas di luar daerah, rutinitas kebersihan tetap berlangsung sebagaimana mestinya. Hal itu menjadi bukti bahwa budaya bersih mulai mengakar dalam sistem pemerintahan maupun kesadaran masyarakat.
Komitmen tersebut juga diwujudkan melalui tanggung jawab bersama di tiga kecamatan kota, yakni Kecamatan Tanete Riattang, Tanete Riattang Barat, dan Tanete Riattang Timur. Para camat dan lurah diberi amanah untuk memastikan wilayah masing-masing bebas dari sampah. Seluruh jajaran Dinas Lingkungan Hidup pun menandatangani komitmen bersama mewujudkan Watampone sebagai kota yang bersih dan nyaman.
Hasilnya kini mulai terlihat. Wajah Kota Watampone berubah. Jalan-jalan utama tampak lebih rapi, ruang terbuka hijau semakin terawat, dan kawasan ikon kota seperti Lapangan Merdeka serta Taman Bunga Arung Palakka tampil lebih indah sebagai ruang publik yang ramah bagi masyarakat.
Perubahan fisik itu ternyata diikuti perubahan pola pikir masyarakat. Kesadaran untuk menjaga kebersihan tumbuh perlahan. Masyarakat mulai merasa memiliki kotanya sendiri sehingga menjaga kebersihan bukan lagi karena instruksi pemerintah, melainkan menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.
Keberhasilan tersebut tidak luput dari perhatian pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat. Dalam waktu yang relatif singkat, Kabupaten Bone berhasil masuk dalam 10 terbaik nasional Tata Kelola Persampahan serta kembali menyandang predikat Daerah Adipura, sebuah pengakuan atas komitmen daerah dalam menjaga kualitas lingkungan perkotaan.
Namun, bagi Bupati Bone, penghargaan bukanlah tujuan utama.
“Penghargaan itu nomor dua. Yang paling penting adalah membangun kesadaran masyarakat. Target kita bukan hanya meraih Adipura, tetapi Bone harus ber-Adipura setiap hari, ber-Adipura setiap saat,” ujarnya.
Komitmen menjaga kebersihan juga berjalan beriringan dengan upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ruang-ruang publik yang telah tertata kini menjadi pusat aktivitas ekonomi warga. Taman Bunga Arung Palakka dan Lapangan Merdeka menjadi sentra UMKM yang setiap hari ramai dikunjungi masyarakat.
Setiap pelaksanaan Car Free Day pada hari Minggu, pemerintah daerah membuka ruang bagi pelaku UMKM Pra Sejahtera untuk memasarkan berbagai produk kuliner dan usaha kecil. Kekhawatiran bahwa aktivitas perdagangan akan menimbulkan tumpukan sampah justru tidak terbukti. Sebaliknya, para pedagang menunjukkan kepedulian tinggi terhadap kebersihan. Setelah aktivitas jual beli selesai, mereka membersihkan area berjualan sebelum meninggalkan lokasi.
Kesadaran tersebut menjadi gambaran bahwa kebersihan telah menjadi tanggung jawab bersama, bukan semata tugas pemerintah.
Semangat itu kembali terlihat pada Jumat, 24 Juli 2026, ketika Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman memimpin langsung apel korve, kerja bakti, dan gotong royong yang merupakan tindak lanjut instruksi Presiden Prabowo Subianto untuk melaksanakan aksi bersih lingkungan secara serentak.
Apel yang digelar di Lapangan Merdeka Bone diikuti Aparatur Sipil Negara, personel TNI-Polri, Satgas Kebersihan, mahasiswa, serta berbagai unsur masyarakat. Dari lapangan tersebut, peserta kemudian bergerak menuju sejumlah titik di Kota Watampone.
Salah satu lokasi yang menjadi perhatian utama adalah kawasan eks Pasar Sentral Watampone, khususnya bantaran sungai yang masih kerap dijadikan tempat pembuangan sampah. Di lokasi itu, Bupati Bone tidak hanya memberikan arahan, tetapi turut menyaksikan langsung proses pembersihan sebagai bentuk komitmen bahwa penataan kota harus dimulai dari kawasan-kawasan yang selama ini menjadi persoalan.
Perjalanan Watampone menuju kota yang bersih memang belum selesai. Masih ada pekerjaan rumah yang harus dituntaskan. Namun, perubahan yang telah terlihat hari ini menunjukkan bahwa ketika pemerintah memberi teladan, aparatur bekerja dengan konsisten, dan masyarakat ikut bergerak, wajah sebuah kota dapat berubah.
Watampone kini bukan hanya lebih bersih dan lebih hijau. Kota ini sedang membangun identitas baru—sebagai kota yang tumbuh dari semangat gotong royong, kesadaran kolektif, dan keyakinan bahwa kebersihan adalah investasi bagi masa depan. (*)


Tinggalkan Balasan