BONE – Di tengah derasnya arus digital yang membuat ilmu pengetahuan dapat diakses hanya melalui genggaman tangan, peran guru kini menghadapi tantangan baru. Bukan lagi sekadar menjadi sumber pengetahuan, melainkan menjadi penuntun karakter dan akhlak generasi muda.

Semangat itulah yang mewarnai Workshop Bimbingan Mental, Penguatan Karakter dan BerAmal bertema “Menata Hati, Menyatukan Langkah” yang digelar Lembaga Kajian Pancasila Lapatau Matanna Tikka di Aula Lamellong, Kabupaten Bone, Sabtu (25/7/2026). Kegiatan ini diikuti ratusan guru Sekolah Dasar se-Kabupaten Bone sebagai bagian dari upaya memperkuat pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Pancasila dan budaya lokal Bugis.

Workshop dibuka oleh Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bone, Baharuddin, S.Pd., M.M. Turut hadir Hj. Andi Rasna, S.Pd., M.Pd., Kepala Bidang PAUD dan Dikmas yang juga menjadi narasumber serta Ketua Forum Gerakan Pancasila Andi Anzari, SH.

Namun, suasana menjadi semakin reflektif ketika Dewan Pakar Lembaga Kajian Gerakan Pancasila, Dr. Aksi Hamzah, M.Si., mengajak para guru melihat realitas pendidikan dari sudut pandang yang berbeda.

“Hari ini sepertinya ilmu pengetahuan tidak lagi penting diajarkan di sekolah. Kenapa? Karena sumber pengetahuan sudah terbuka. Semua ada di telepon genggam,” ungkapnya di hadapan peserta.

Menurutnya, anak-anak saat ini hidup di era ketika informasi begitu mudah ditemukan. Mereka mungkin tidak mengetahui jawaban secara langsung, tetapi mampu menemukan solusi melalui internet. Fenomena itu, kata Aksi Hamzah, telah mengubah wajah pendidikan.

“Anak-anak kita menjadi generasi yang serba tidak tahu, tetapi serba bisa. AC rusak misalnya, mereka tidak tahu cara memperbaikinya, tetapi bisa karena tinggal membuka YouTube dan mengikuti tutorialnya,” ujarnya.

Di tengah kondisi tersebut, ia menilai fungsi guru pun ikut berubah. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber ilmu pengetahuan. Yang justru semakin dibutuhkan adalah sosok pendidik yang mampu membentuk karakter, etika, dan akhlak peserta didik.

“Satu-satunya yang tersisa buat kita sebagai guru adalah menjadi guru perilaku, guru akhlak. Andaikan boleh saya usulkan, hentikan dulu semua mata pelajaran selama satu tahun. Didik anak-anak kita agar mereka memiliki etika dan perilaku yang baik,” katanya yang langsung disambut tepuk tangan peserta.

Kegelisahan terhadap lunturnya karakter generasi muda, lanjutnya, menjadi alasan lahirnya berbagai program Forum Gerakan Pancasila. Menurutnya, pembangunan sumber daya manusia tidak cukup hanya dengan kecakapan akademik, tetapi harus dibangun di atas fondasi nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur.

Sebagai orang Bone, ia mengingatkan bahwa warisan terbesar yang dimiliki masyarakat Bugis bukanlah bangunan bersejarah ataupun benda pusaka, melainkan falsafah hidup yang menjunjung tinggi kesantunan, kejujuran, dan harga diri.

Melalui workshop ini, Lembaga Kajian Pancasila Lapatau Matanna Tikka menawarkan konsep pendidikan karakter yang mengintegrasikan pesan-pesan leluhur Bugis dengan nilai-nilai Pancasila sehingga kembali hadir dalam kehidupan sekolah.

Program tersebut, katanya, sejalan dengan komitmen Pemerintah Kabupaten Bone yang mendorong penguatan budaya lokal sebagai bagian dari pembangunan karakter peserta didik.

Selain persoalan karakter, Aksi Hamzah juga mengingatkan pentingnya mempersiapkan generasi Bone menghadapi dunia tanpa sekat. Menurutnya, peluang kerja saat ini tidak lagi dibatasi wilayah, melainkan kemampuan individu, terutama dalam penguasaan bahasa asing.

“Sekat antarnegara sudah hilang. Anak-anak kita harus berani bermimpi bekerja di Australia, Jepang, Korea, Vietnam atau negara lain. Hambatan terbesar kita hanya satu, yaitu penguasaan bahasa,” ujarnya.

Karena itu, ia mendorong para guru untuk terus berinovasi agar sekolah mampu melahirkan peserta didik yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga percaya diri, berkarakter, memiliki daya saing global, tanpa kehilangan identitas budaya Bugis yang santun dan bermartabat.

Menutup sambutannya, Aksi Hamzah menegaskan komitmen Forum Gerakan Pancasila untuk mendampingi dunia pendidikan di Kabupaten Bone. Ia berharap sinergi dengan pemerintah daerah mampu melahirkan model pendidikan karakter yang benar-benar berdampak bagi peserta didik.

“Kami ingin pelatihan ini berbeda. Kalau selama ini banyak pelatihan yang tidak membuahkan hasil, kami ingin membuktikan bahwa kehadiran kami membawa perubahan nyata. Mulai hari ini, kami ingin Bapak dan Ibu pulang dengan semangat baru untuk membentuk generasi Bone yang berilmu, berakhlak, dan berkarakter,” pungkasnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bone, Baharuddin, S.Pd., M.M., yang hadir mewakili Bupati Bone mengajak para peserta melihat bahwa pembangunan daerah tidak hanya diukur dari angka-angka ekonomi atau panjang jalan yang berhasil dibangun, tetapi juga dari kualitas manusia yang mengisinya.

Ia menyampaikan bahwa berbagai upaya pembangunan yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Bone mulai menunjukkan hasil yang menggembirakan. Pertumbuhan ekonomi Bone pada tahun 2025 mencapai 6,03 persen, kemudian meningkat menjadi 7,84 persen pada triwulan pertama 2026. Menurutnya, capaian tersebut menjadi indikator bahwa arah pembangunan daerah berada di jalur yang tepat dan mampu mendorong aktivitas ekonomi masyarakat.

Di sektor infrastruktur, pemerintah terus mempercepat pembangunan dengan dukungan Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, serta APBD Kabupaten Bone. Pada tahun 2026, anggaran sekitar Rp620,87 miliar dialokasikan untuk pembangunan, peningkatan, dan pemeliharaan jalan serta jembatan.

“Alhamdulillah, realisasi pembangunan jalan telah mencapai sekitar 329 kilometer, jauh melampaui target awal 100 kilometer setiap tahun,” ungkap Baharuddin.

Namun di balik keberhasilan pembangunan fisik itu, ia menegaskan bahwa keberhasilan sejati tetap bergantung pada kualitas sumber daya manusia.

Pemerintah Kabupaten Bone, lanjutnya, juga terus memperkuat sektor pendidikan. Salah satunya melalui beroperasinya Sekolah Rakyat Kabupaten Bone di Comping, Kelurahan Bajoe, Kecamatan Tanete Riattang Timur. Sekolah tersebut diperuntukkan bagi masyarakat prasejahtera sebagai bentuk komitmen pemerintah menghadirkan pendidikan yang berkualitas dan merata, diperkuat dengan program pembagian seragam gratis bagi peserta didik.

Pembangunan daerah juga diperkuat melalui pengembangan Pelabuhan Pattiro sebagai pelabuhan umum dan peti kemas yang akan menopang kawasan industri nikel di Sulawesi Selatan, serta pengembangan Bandara Arung Palakka yang kini telah dilayani penerbangan Pelita Air dengan rute Bone–Parepare, Makassar, Kendari, dan Balikpapan.

Sementara itu, kolaborasi lintas sektor juga berhasil menurunkan angka kemiskinan dari 9,58 persen pada 2024 menjadi 9,13 persen pada 2025. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Bone pun meningkat dari 70,81 menjadi 71,63 pada periode yang sama.

Meski demikian, Baharuddin mengingatkan bahwa seluruh capaian pembangunan tersebut akan kehilangan makna apabila tidak dibarengi pembangunan karakter manusia.

Mengutip Surah Ar-Ra’d ayat 11, ia menegaskan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari perubahan diri.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

Menurutnya, tema workshop “Menata Hati, Menyatukan Langkah” bukan sekadar slogan, melainkan ajakan untuk membersihkan hati, memperkuat integritas, serta menjadikan profesi guru sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT.

“Menata hati berarti memperbaiki niat, memperkuat keikhlasan, dan menjadikan tugas mendidik sebagai pengabdian. Sedangkan menyatukan langkah berarti menyamakan visi seluruh pendidik untuk membangun pendidikan Bone yang maju, berkualitas, dan berkarakter,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan hadis Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa setiap amal bergantung pada niatnya. Pesan itu, menurutnya, sangat relevan bagi profesi guru yang setiap hari bukan hanya menyampaikan pelajaran, tetapi juga membentuk kepribadian anak-anak.

“Guru bukan sekadar mengajar. Guru membentuk karakter generasi bangsa. Anak-anak mungkin lupa apa yang diajarkan, tetapi mereka tidak akan pernah lupa bagaimana gurunya memberi teladan,” katanya.

Karena itu, pembangunan karakter guru menjadi fondasi utama untuk melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga jujur, disiplin, bertanggung jawab, religius, cinta tanah air, dan memiliki kepedulian sosial.

Workshop yang digelar Lembaga Kajian Pancasila Lapatau Matanna Tikka ini pun diharapkan menjadi ruang pembelajaran sekaligus ruang refleksi bagi para pendidik.

Di tengah derasnya perubahan zaman, guru dituntut bukan hanya mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga menjaga keteguhan nilai, moral, dan karakter. Sebab, masa depan Kabupaten Bone sesungguhnya sedang dibentuk hari ini—di ruang-ruang kelas, melalui keteladanan para guru.

Melalui semangat “Menata Hati, Menyatukan Langkah”, para pendidik di Kabupaten Bone diharapkan pulang bukan hanya membawa materi workshop, tetapi juga membawa tekad baru untuk menghadirkan sekolah sebagai tempat yang aman, nyaman, menyenangkan, penuh kasih sayang, serta menjadi ruang terbaik bagi lahirnya generasi unggul yang berakhlak mulia. (*)