BONE – Menjelang sore, Lapangan Merdeka Bone perlahan dipenuhi penonton. Di pinggir lapangan, anak-anak berlarian sambil membawa bola voli, para suporter berdiri berkelompok mengenakan atribut klub kebanggaan, sementara para pemain melakukan pemanasan dengan tatapan penuh fokus. Ketika peluit pertama dibunyikan, riuh tepuk tangan dan sorak-sorai seketika memenuhi udara.

Selama tiga hari pelaksanaan Beramal Cup 2026, sejak Minggu (26/7) hingga Selasa (28/7), Lapangan Merdeka bukan sekadar arena pertandingan. Tempat ini menjelma menjadi ruang bertemunya semangat kompetisi, persaudaraan antarklub, dan harapan lahirnya atlet-atlet terbaik Sulawesi Selatan.

Puluhan klub putra dan putri dari berbagai daerah hadir membawa ambisi yang sama: tampil maksimal dan membuktikan kualitas permainan mereka. Nama-nama besar seperti Porprov Bone, Porprov Soppeng, JVC Wajo, Cakarnalis Wajo, Polewali, Mines Soro, Trikora Wajo, MBG Bone, BVB Bone, Bhayangkara Asbaka, hingga klub-klub lokal lainnya silih berganti menunjukkan kemampuan terbaik di lapangan.

Hari pertama langsung memperlihatkan dominasi tim-tim binaan Porprov. Tiga pertandingan yang berlangsung seluruhnya berakhir dengan kemenangan dua set langsung.

Porprov Bone membuka langkah meyakinkan dengan menundukkan Tellu Siattingnge 2-0. Dominasi itu berlanjut saat Porprov Soppeng mengatasi Pemuda Volly dengan skor identik. Menutup pertandingan hari pertama, Porprov Bone kembali menunjukkan kualitasnya setelah mengalahkan Empat Putra tanpa kehilangan satu set.

Hasil tersebut menjadi penanda bahwa pembinaan atlet melalui program Porprov masih melahirkan tim-tim yang solid dan layak diperhitungkan dalam persaingan bola voli daerah.

Memasuki hari kedua, atmosfer kompetisi mulai berubah. Persaingan semakin merata dan setiap pertandingan menghadirkan cerita berbeda.

TBC Girls tampil percaya diri saat mengalahkan SMAN 10 Bone dengan skor 2-0. Tea Manis Tonra juga mencatat kemenangan bersih atas Kopi Lotong B.

Di sektor putra, Pallas Kampong B sukses menghentikan langkah All Star Bone, sedangkan MPB VC Bone tampil efektif ketika menumbangkan Kopi Lotong. Laga penutup menjadi milik Mare yang mengalahkan Tellu Siattingnge dua set langsung.

Meski mayoritas pertandingan berakhir dalam dua set, setiap poin tetap berlangsung ketat. Reli panjang, blok rapat, dan smash keras silih berganti mengundang tepuk tangan penonton yang memadati sisi lapangan.

Puncak ketegangan hadir pada hari ketiga.

Kopi Lotong C membuka pertandingan dengan kemenangan atas MVC Bone. Pulau Sembilan Sinjai kemudian mengatasi Mandiri Girls sebelum Kajuara Prime tampil dominan saat mengalahkan BVB Bone. Bhayangkara Asbaka Gowa juga memastikan kemenangan meyakinkan atas Cakarnalis Wajo.

Namun pertandingan yang paling menyita perhatian hadir pada laga penutup.

Waterlife menjadi satu-satunya tim yang harus berjuang hingga tiga set sebelum akhirnya mengalahkan Pemula Mare dengan skor 2-1. Pertandingan itu menghadirkan reli-reli panjang, perubahan strategi, serta semangat pantang menyerah dari kedua tim yang membuat penonton beberapa kali berdiri memberikan aplaus.

Laga tersebut seolah menggambarkan wajah sesungguhnya Beramal Cup. Bukan hanya soal siapa yang menang atau kalah, melainkan tentang keberanian bertarung hingga poin terakhir.

Ketua Umum Pengkab PBVSI Kabupaten Bone, H. Muslimin, SE., MM, mengatakan Beramal Cup 2026 memang dirancang menjadi wadah pembinaan sekaligus ajang silaturahmi antarklub bola voli di Sulawesi Selatan.

Menurutnya, kehadiran puluhan klub dari berbagai daerah membuktikan bahwa minat terhadap olahraga bola voli masih sangat tinggi. Selain menjadi ajang kompetisi, turnamen ini juga memberi kesempatan bagi atlet-atlet muda untuk mengukur kemampuan mereka menghadapi lawan dengan karakter permainan yang berbeda.

Antusiasme masyarakat Bone pun menjadi warna tersendiri. Setiap sore, tribun dan sisi Lapangan Merdeka dipenuhi penonton yang datang bersama keluarga maupun komunitas untuk memberikan dukungan kepada tim favorit mereka.

Sorak-sorai penonton menjadi energi tambahan bagi setiap pemain yang berlaga. Tidak sedikit pertandingan yang berubah semakin sengit karena dukungan dari tribun membuat para atlet enggan menyerah begitu saja.

Beramal Cup 2026 akhirnya kembali menegaskan bahwa bola voli masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat Bone. Di balik setiap servis, smash, blok, dan selebrasi kemenangan, tersimpan semangat sportivitas, persaudaraan, serta harapan agar dari lapangan sederhana ini lahir atlet-atlet yang kelak mampu mengharumkan nama Bone dan Sulawesi Selatan di tingkat yang lebih tinggi.

Ketika matahari mulai tenggelam di ufuk barat dan peluit panjang mengakhiri pertandingan, satu hal yang tersisa bukan hanya catatan skor di papan pertandingan. Yang paling membekas adalah semangat kebersamaan yang tumbuh di antara para pemain, pelatih, dan penonton—sebuah semangat yang menjadikan Beramal Cup lebih dari sekadar turnamen bola voli. (*)