BONE– Di tengah semarak peringatan Hari Jadi Bone (HJB) ke-696, Senin, 6 April 2026, ada satu sosok yang hadir bukan sekadar sebagai tamu undangan, tetapi sebagai simbol kerja keras, dedikasi, dan ketekunan panjang dalam dunia pendidikan. Dialah Murniati, S.Pd., M.Pd kepala sekolah yang menjadikan lingkungan sebagai ruang belajar hidup bagi generasi masa depan.
Momentum itu terasa istimewa ketika Pemerintah Kabupaten Bone memberikan undangan khusus kepadanya. Di Kompleks Rumah Jabatan Bupati Bone, di hadapan para tamu undangan, penghargaan Adiwiyata Mandiri diserahkan langsung oleh Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., MM, disaksikan Wakil Bupati Bone Dr. H. Andi Akmal Pasluddin, MM. Tepuk tangan yang mengiringi penyerahan itu bukan sekadar seremoni, melainkan pengakuan atas sebuah perjalanan panjang yang penuh konsistensi.
Predikat Sekolah Adiwiyata Mandiri yang diraih SD Negeri 23 Jeppe’e bukanlah capaian biasa. Itu adalah penghargaan tertinggi bagi sekolah berbudaya lingkungan di Indonesia. Lebih dari itu, capaian ini mencatat sejarah baru menjadi yang pertama di Kabupaten Bone, sekaligus sekolah dasar pertama yang berhasil meraihnya.
Namun di balik pencapaian gemilang itu, ada proses panjang yang tidak instan. Murniati mengisahkan bagaimana langkah kecil dimulai sejak 2016, saat sekolahnya meraih Adiwiyata tingkat kabupaten. Dua tahun berselang, penghargaan tingkat provinsi diraih, disusul tingkat nasional pada 2022. Hingga akhirnya, pada 2025, predikat tertinggi Adiwiyata Mandiri berhasil digenggam sebuah puncak dari perjalanan hampir satu dekade.
“Semua ini tidak instan. Butuh komitmen, kerja sama, dan konsistensi,” ungkap Murniati.
Di bawah kepemimpinannya, SDN 23 Jeppe’e tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang praktik nyata kepedulian lingkungan. Program pengelolaan sampah berbasis 3R (Reduce, Reuse, Recycle) diterapkan secara disiplin. Bank sampah menjadi bagian dari budaya sekolah. Taman hijau dan apotek hidup tumbuh subur, menjadi laboratorium alam bagi siswa. Bahkan, nilai-nilai pendidikan lingkungan diintegrasikan ke dalam seluruh mata pelajaran.
Yang menarik, semua program itu tidak berjalan sendiri. Seluruh warga sekolah guru, siswa, hingga tenaga kependidikan terlibat aktif, menjadikan gerakan ini sebagai budaya, bukan sekadar program.
Perjalanan Murniati sendiri dimulai dari bawah. Ia mengawali karier sebagai guru ASN pada tahun 1991 di SD Negeri 34 Lemoape, Kecamatan Palakka. Perpindahan demi perpindahan dijalaninya dari SDN 31 Pasempe hingga SDN 24 Macanang, sebelum akhirnya pada Maret 2014 dipercaya memimpin SDN 23 Jeppe’e.
Sebagai kepala sekolah, ia tidak hanya fokus pada lingkungan, tetapi juga prestasi akademik dan kreativitas siswa. Berbagai capaian berhasil diraih, mulai dari juara dalam event tingkat kabupaten, Juara II Produk Pameran Pengelolaan Sampah oleh DLH Bone, hingga menembus lima besar Olimpiade Matematika di Universitas Hasanuddin.
Dedikasinya bahkan mendapat pengakuan internasional. Pada tahun 2016, ia menerima penghargaan Education Award kategori Dedication in Field of Education dari International Human Resources Development Program (IHRDP) Foundation.
Kini, di panggung Hari Jadi Bone, Murniati tidak hanya membawa pulang penghargaan. Ia membawa pesan kuat bahwa perubahan besar bisa dimulai dari sekolah kecil, dari langkah sederhana, dan dari komitmen yang dijaga tanpa henti.
Di tangannya, sekolah bukan sekadar tempat menimba ilmu, tetapi ruang membentuk karakter—di mana anak-anak belajar mencintai bumi, memahami tanggung jawab, dan menanam harapan untuk masa depan yang lebih hijau. (*)



Tinggalkan Balasan