BONE – Maraknya penyebaran informasi yang belum terverifikasi di media sosial kembali menjadi perhatian berbagai kalangan. Informasi yang diduga mengandung unsur hoaks berpotensi memicu kegaduhan, menyesatkan masyarakat, hingga berdampak pada reputasi seseorang.

Belakangan ini, konten terkait Bupati dan Ketua DPRD Konoha ramai beredar di berbagai platform media sosial. Informasi tersebut disebut pertama kali diunggah oleh akun Lambe Turah Bone.

Peredaran konten itu menuai sorotan dan menimbulkan keresahan. Bahkan, kelompok pemuda Ancol Pathend dikabarkan telah melaporkan yang diduga pemilik akun Lambe Turah Bone inisial FA, kepada pihak kepolisian atas dugaan kegaduhan yang ditimbulkan oleh konten tersebut.

Meski demikian, kebenaran informasi yang beredar perlu dipastikan melalui verifikasi dan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Masyarakat juga diimbau tidak terburu-buru mengambil kesimpulan sebelum ada kejelasan mengenai fakta yang sebenarnya. Di tengah derasnya arus informasi digital, setiap pengguna media sosial memiliki tanggung jawab untuk memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya kepada orang lain.

Akademisi Tekankan Pentingnya Literasi Digital

Akademisi Muh. Tamrin, S.Pd., M.Pd., mengingatkan bahwa literasi digital merupakan kemampuan penting yang harus dimiliki masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum teruji kebenarannya. Menurutnya, masyarakat perlu membiasakan diri memeriksa sumber informasi, memahami konteks pemberitaan, serta membandingkan informasi dengan sumber terpercaya sebelum mengambil kesimpulan. “Media sosial seharusnya menjadi sarana berbagi informasi yang bermanfaat, bukan tempat menyebarkan kabar yang belum tentu benar. Masyarakat harus membangun budaya berpikir kritis dan tidak langsung percaya pada setiap informasi yang muncul di beranda media sosial,” ujar akademisi IAIN dan STAI Al-Ghazali tersebut, Kamis (22/10/2026).

Ia juga mengingatkan bahwa kebebasan berekspresi di ruang digital harus diiringi dengan tanggung jawab. Setiap unggahan, komentar, maupun konten yang dibagikan dapat menimbulkan dampak bagi orang lain. Karena itu, edukasi mengenai etika bermedia sosial dan kemampuan memilah informasi perlu terus ditingkatkan, mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, kampus, hingga masyarakat luas. (*)