BONE– Muslimah Wahdah Islamiyah Bone menggelar kegiatan Gema Majelis Taklim dengan mengangkat tema “Musibah Menguji, Iman Menguatkan, Jaga Bangsa dari Kehancuran Moralitas” pada Ahad (25/10/2026), bertempat di Aula Masjid Al Markaz Al Ma’arif, Jalan Ahmad Yani.

Kegiatan ini menghadirkan Rosniar, S.Pd. (Ummu Thufail) sebagai pemateri. Sebanyak 278 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Mereka berasal dari sekitar 30 kelompok majelis taklim, tiga instansi, BKMT, Pokja Penyuluh, serta peserta umum.

Dalam sambutannya, Wakil Sekretaris Muslimah Wahdah Islamiyah Bone, Ustadzah A. Nirwana Yusma, S.Pd., M.Pd., menyampaikan apresiasi atas kehadiran dan antusiasme para peserta. Kehadiran ratusan muslimah dalam kegiatan ini diharapkan menjadi bukti semangat untuk terus menuntut ilmu, memperkuat keimanan, dan mengambil peran dalam menjaga moralitas masyarakat.

Dalam pemaparannya, Rosniar menekankan bahwa musibah dapat menimpa siapa saja, bukan hanya orang yang melakukan dosa. Oleh karena itu, setiap muslimah perlu mengambil pelajaran dari berbagai ujian yang terjadi dan senantiasa melakukan introspeksi diri.

Salah satu hal yang disoroti pemateri adalah berkurangnya orang-orang yang mengajak kepada kebaikan. Menurutnya, keberadaan majelis ilmu memiliki peran penting dalam menjaga keimanan dan membangun masyarakat yang lebih baik. Karena itu, seorang muslimah tidak cukup hanya menghadiri majelis taklim untuk memperbaiki dirinya sendiri, tetapi juga perlu mengajak orang lain untuk turut merasakan manfaatnya.

“Jangan hanya kita sendiri yang bergabung dalam majelis ilmu, tetapi ajaklah orang lain untuk ikut belajar dan mendekatkan diri kepada Allah,” demikian pesan yang ditekankan dalam kajian tersebut.

Pemateri juga mengajak peserta untuk merenungi berbagai peristiwa yang terjadi, termasuk kondisi kekeringan yang tengah dihadapi. Hal tersebut menjadi momentum untuk memperbanyak istigfar, mengevaluasi diri, dan memohon ampun kepada Allah. Ia mengingatkan agar berbagai musibah tidak hanya dipandang sebagai kesulitan, tetapi juga sebagai kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengan Sang Pencipta.

Lebih lanjut, Rosniar menjelaskan bahwa musibah dapat menjadi pengingat atas perbuatan manusia sekaligus jalan penghapusan dosa bagi seorang mukmin. Setiap keadaan juga merupakan ujian dari Allah. Ketika memperoleh kesenangan, manusia diuji untuk bersyukur. Sementara ketika ditimpa kesulitan, manusia diuji untuk bersabar.

Ia mengingatkan bahwa tidak sedikit orang yang justru kembali mendekat kepada Allah setelah mengalami musibah. Sebaliknya, ada pula orang yang ketika dianugerahi kekayaan, kesehatan, dan kesuksesan justru semakin jauh dari-Nya. Karena itu, baik kesenangan maupun kesulitan hendaknya menjadi jalan untuk semakin meningkatkan keimanan dan ketakwaan.

Dalam konteks tersebut, memperbanyak kehadiran muslimah dalam majelis taklim menjadi salah satu ikhtiar penting untuk menguatkan keimanan, menyebarkan kebaikan, dan membangun lingkungan masyarakat yang lebih religius. Majelis taklim diharapkan tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang untuk melahirkan muslimah yang mampu mengajak keluarga dan masyarakat kepada kebaikan.

Kajian ini juga menegaskan pentingnya membangun kesabaran dan rasa syukur sebagai bekal menghadapi berbagai ujian kehidupan. Sebagaimana tagline yang disampaikan pemateri, *“Tau Bone… Maraja Sukkuru’na, Maraja Sabbara’na,”* yang mengandung pesan tentang pentingnya memperbesar rasa syukur dan memperkuat kesabaran dalam menghadapi setiap keadaan.

Melalui kegiatan Gema Majelis Taklim ini, Muslimah Wahdah Islamiyah Bone berharap semakin banyak muslimah yang tergerak untuk menghadiri majelis ilmu, mengajak orang lain kepada kebaikan, serta berkontribusi dalam menjaga moralitas bangsa. Dengan iman yang kokoh, kesabaran dalam menghadapi ujian, dan semangat menyebarkan kebaikan, muslimah diharapkan mampu menjadi bagian dari solusi bagi berbagai persoalan umat dan masyarakat. (*)