BONE– Aula Utama Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone pada Senin (2/6/2026) terasa berbeda. Setelah mengikuti upacara peringatan Hari Lahir Pancasila, seluruh sivitas akademika berkumpul dalam satu momentum penting: menyaksikan serah terima jabatan rektor dari Prof. Syahabuddin kepada Prof. Lukman Arake.

Prosesi yang berlangsung khidmat itu bukan sekadar pergantian pucuk pimpinan. Ia menjadi penanda berakhirnya satu babak perjalanan IAIN Bone sekaligus awal langkah baru menuju cita-cita yang lebih besar.

Rangkaian acara diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars IAIN Bone, dilanjutkan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, doa bersama, penandatanganan berita acara, hingga penyerahan memori jabatan. Setiap tahapan berlangsung dalam suasana penuh penghormatan terhadap perjalanan institusi yang terus bertumbuh.

Prof. Lukman Arake sendiri sebelumnya telah dilantik oleh Menteri Agama sebagai Rektor IAIN Bone periode 2026–2030 pada 11 Mei 2026. Sementara itu, Prof. Syahabuddin resmi mengakhiri masa kepemimpinannya yang dimulai sejak 2022.

Dalam sambutan perpisahannya, Prof. Syahabuddin menyampaikan pesan yang sarat makna. Dengan nada tenang, ia mengingatkan bahwa jabatan hanyalah amanah yang memiliki batas waktu.

“Jabatan itu, jika bukan kita yang meninggalkan, kita yang akan ditinggalkan,” ujarnya.

Pesan tersebut seakan menjadi refleksi perjalanan kepemimpinannya selama empat tahun terakhir. Di hadapan seluruh civitas akademika, ia mengajak semua pihak untuk tetap bersatu dan memberikan dukungan penuh kepada rektor yang baru.

Lebih dari itu, Prof. Syahabuddin juga menitipkan sejumlah agenda strategis yang belum sepenuhnya rampung. Salah satu yang paling penting adalah upaya alih status IAIN Bone menjadi Universitas Islam Negeri (UIN).

“Saya meminta kepada Bapak Rektor untuk meneruskan apa yang telah kita capai, khususnya alih bentuk menjadi UIN. Potensi yang kita miliki, semua kita tumpahkan. Kedua, 2027 insyaallah kita akan mendapat SBSN,” tegasnya.

Menjelang akhir sambutannya, suasana aula semakin haru. Ia menyampaikan permohonan maaf atas segala kekurangan selama memimpin serta berharap seluruh ikhtiar yang telah dilakukan bersama menjadi amal jariah.

“Suksesnya Rektor adalah suksesnya kita semua. Karena kita adalah penumpang. Saya sekali lagi memohon maaf atas segala kekurangan dan khilaf selama menjabat sebagai Rektor. Semoga apa yang telah kita lakukan bersama menjadi amal jariah kita semua,” tuturnya.

Tongkat estafet kemudian berpindah kepada Prof. Lukman Arake. Dalam pidato perdananya sebagai rektor, ia memilih menempatkan dirinya bukan sebagai figur sentral, melainkan bagian dari keluarga besar IAIN Bone.

“Memang secara struktural saya yang diamanahi sebagai Rektor, namun saat berbicara tentang kampus ini, kita semua adalah satu kesatuan yang tidak mungkin terpisahkan. Karena kampus ini adalah rumah kita,” katanya.

Ia kemudian mengajak hadirin menengok berbagai capaian yang berhasil diraih pada masa kepemimpinan Prof. Syahabuddin. Menurutnya, sejumlah prestasi tersebut bahkan menjadi catatan bersejarah bagi perjalanan STAIN dan IAIN Bone.

Kehadiran mahasiswa asing, jurnal Al-Dustur yang berhasil menembus indeks Scopus, pengukuhan 17 Guru Besar, hingga semakin kuatnya langkah menuju transformasi menjadi UIN menjadi bukti perkembangan signifikan kampus tersebut dalam beberapa tahun terakhir.

“Beliau selama kepemimpinannya sudah banyak keberhasilan. Bahkan saya berani mengatakan ada beberapa keberhasilan yang baru terjadi dalam sejarah per-STAIN-an dan per-IAIN-an Bone,” ungkapnya.

Di tengah pidato yang penuh apresiasi itu, Prof. Lukman juga berbagi kisah personal yang menggambarkan kedekatannya dengan Prof. Syahabuddin. Ia mengenang momen ketika sedang menanti kabar pengusulan jabatan Guru Besar.

“Yang tidak bisa saya lupakan adalah saat proses pengusulan Guru Besar. Beliau menelepon saya jam dua malam dan menyampaikan, ‘Selamat, Anda sudah jadi Profesor.’ Intinya, beliau adalah guru saya,” kenangnya.

Ke depan, Prof. Lukman menegaskan tiga prioritas utama yang akan menjadi fokus kepemimpinannya selama empat tahun mendatang. Pertama, mempercepat proses transformasi IAIN Bone menjadi UIN. Kedua, melanjutkan pembangunan dan pengembangan infrastruktur kampus. Ketiga, mempercepat pengurusan jabatan Guru Besar bagi dosen yang telah memenuhi persyaratan.

Dengan 23 program studi yang kini dikelola, termasuk Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang baru dibuka, ia optimistis kampus dapat terus berkembang jika seluruh elemen bergerak bersama.

“Apapun yang kita laksanakan, seberat apapun bebannya, kalau kita solid maka semuanya akan terasa ringan. Itulah yang akan kita lakukan empat tahun ke depan,” tegasnya.

Menjelang akhir acara, suasana hangat semakin terasa ketika sivitas akademika menyerahkan cendera mata kepada kedua rektor. Berbagai persembahan turut mewarnai penutupan kegiatan, menghadirkan senyum, tepuk tangan, sekaligus rasa haru dari para hadirin.

Di balik prosesi serah terima jabatan itu, tersimpan harapan besar bagi masa depan IAIN Bone. Sebuah estafet kepemimpinan telah berlangsung, membawa warisan capaian dari masa lalu dan harapan baru untuk masa depan. Kini, perjalanan menuju UIN Bone berada di tangan kepemimpinan yang baru, dengan semangat kebersamaan sebagai modal utama untuk melangkah lebih jauh. (*)