BONE — Di tengah ancaman kemarau panjang yang kerap menjadi momok bagi sektor pertanian, sebuah percontohan embung di Desa Mappesangka, Kecamatan Ponre, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, menunjukkan bahwa keterbatasan air bukan berarti petani harus menyerah pada keadaan.
Embung yang dirancang dengan sistem bor celup dan gravitasi air tanpa menggunakan pompa tersebut tetap mampu eksis menyediakan kebutuhan air meski musim kemarau berkepanjangan melanda.
Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., MM, didampingi Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Bone, Nurdin, SP., M.Si, melihat secara langsung keberadaan dan sistem kerja percontohan embung tersebut di Desa Mappesangka.
Kunjungan itu menjadi kesempatan untuk memastikan secara langsung efektivitas inovasi pengelolaan sumber daya air yang diharapkan dapat mendukung keberlangsungan sektor pertanian Kabupaten Bone.
Yang menarik, sistem embung ini tidak bergantung pada pompa untuk mengalirkan air. Air dari sumber bor celup dimanfaatkan dan dialirkan menggunakan sistem gravitasi, sehingga lebih sederhana dalam pengoperasian sekaligus dapat menghemat penggunaan energi.
Di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu, model seperti ini menjadi salah satu alternatif yang sangat penting. Ketika sebagian lahan pertanian menghadapi ancaman kekeringan, ketersediaan air menjadi faktor penentu keberlanjutan produksi.
Percontohan di Mappesangka membuktikan bahwa dengan teknologi sederhana yang disesuaikan dengan kondisi wilayah, sumber air dapat dimanfaatkan secara optimal untuk membantu mempertahankan aktivitas pertanian.
Bagi petani, keberadaan embung tersebut bukan sekadar bangunan penampung air. Ia menjadi harapan agar lahan tetap produktif ketika hujan tak kunjung turun.
Sistem gravitasi juga memberikan nilai lebih karena distribusi air dapat dilakukan tanpa ketergantungan pada mesin pompa secara terus-menerus. Selain mengurangi biaya operasional, pola tersebut berpotensi menjadi model pengelolaan air yang dapat dikembangkan di wilayah lain yang memiliki karakteristik serupa.
Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman dalam kunjungannya melihat langsung kondisi embung dan aliran air yang tetap berjalan pada musim kemarau. Percontohan tersebut sekaligus memperlihatkan pentingnya inovasi dalam menghadapi perubahan iklim dan fenomena El Nino yang dapat berdampak langsung terhadap ketersediaan air bagi sektor pertanian.
Kabupaten Bone sebagai salah satu daerah dengan aktivitas pertanian yang besar membutuhkan strategi pengelolaan air yang tidak hanya mengandalkan curah hujan. Infrastruktur seperti embung, sumur bor, serta sistem distribusi air yang efisien menjadi bagian penting dalam menjaga produktivitas pertanian.
Dari Desa Mappesangka, sebuah pesan sederhana muncul: ketika air dikelola dengan tepat, musim kemarau tidak selalu berarti akhir dari aktivitas pertanian.
Percontohan embung anti-El Nino ini diharapkan dapat menjadi contoh nyata bahwa inovasi berbasis kondisi lokal mampu memberikan solusi bagi petani, sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah di tengah tantangan perubahan iklim.
Di saat langit masih menyimpan panas kemarau, air yang mengalir dari sistem gravitasi di Mappesangka menjadi bukti bahwa ikhtiar menjaga pertanian tidak boleh berhenti hanya karena hujan belum kembali. (*)


Tinggalkan Balasan