BONE — Dalam balutan kegiatan sederhana bertajuk “Morning Coffee Peresmian dan Pengujian Dermaga Pelabuhan Bajoe” dengan tema “ASDP Melayani”, Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., MM meresmikan sekaligus melakukan pengujian perdana dermaga yang menjadi salah satu simpul penting transportasi penyeberangan di Kabupaten Bone pada Kamis, 21 Mei 2026. Turut hadir Executif Direktur PT. ASDP Indonesia Feri (Persero) Regional 4, Ketua Komisi III DPRD Bone Indra Jaya dan Camat Tanete Riattang Timur Andi Habibie, ST., M.Si.
Peresmian ini bukan sekadar penandatanganan proyek infrastruktur, melainkan penanda dimulainya babak baru konektivitas dan pergerakan ekonomi masyarakat Bone. Dermaga Pelabuhan Bajoe selama ini menjadi urat nadi mobilitas penumpang dan distribusi logistik, terutama pada lintasan penyeberangan Bone–Kolaka.
Bupati Bone menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam percepatan pembangunan dan perbaikan fasilitas dermaga. “Saya sangat berterima kasih kepada semua pihak yang telah melakukan percepatan pembangunan dan perbaikan. Perbaikan ini menjadi langkah besar setelah kurun waktu sekitar 20 tahun, sehingga wajib kita jaga bersama,” ungkapnya.
Menurutnya, Pelabuhan Bajoe telah memberikan kontribusi besar terhadap pergerakan ekonomi daerah. Kehadiran dermaga yang lebih representatif diharapkan semakin memperkuat peran pelabuhan sebagai pusat aktivitas perdagangan dan distribusi.
Tidak hanya itu, Bupati juga menaruh harapan besar terhadap perluasan konektivitas transportasi laut dari Bone ke berbagai daerah lain. “Pelabuhan Bajoe tidak hanya melayani rute Bone–Kolaka. Kalau perlu, Bone bisa terhubung ke mana-mana. Perlu ada perluasan rute, salah satunya Bone–Baubau dan daerah lainnya,” ujarnya.
Pelabuhan Bajoe memang memiliki karakteristik yang istimewa. Dengan jembatan penghubung menuju pelabuhan yang membentang sekitar 7 kilometer dari garis pantai, pelabuhan ini disebut sebagai salah satu pelabuhan dengan akses terpanjang di Indonesia. Infrastruktur tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Bone, yang dikenal sebagai daerah Bumi Arung Palakka.
Bagi pemerintah daerah, pembangunan infrastruktur bukan hanya soal fisik, tetapi bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Kami dari pemerintah daerah hadir untuk meningkatkan derajat kesejahteraan masyarakat. Salah satu upaya yang dilakukan adalah percepatan pembangunan agar dapat selesai tepat waktu,” katanya.
Usai peresmian dan pengujian fasilitas, Bupati Bone juga menekankan pentingnya pemeliharaan sarana penyeberangan demi menjamin keselamatan dan kenyamanan pengguna jasa.
Hasil pengujian menunjukkan sistem hidrolik dermaga telah berfungsi dengan baik. Kondisi tersebut dinilai menjadi jaminan peningkatan akses transportasi yang lebih aman dan andal.
Keberadaan dermaga ini juga dipandang akan memberikan dampak langsung terhadap kelancaran distribusi barang dan aktivitas ekonomi masyarakat. Terlebih menjelang momentum besar seperti Hari Raya Idulfitri, ketika arus penumpang dan logistik meningkat signifikan.
“Masyarakat akan lebih menikmati kelancaran transportasi dan distribusi. Tempat ini menjadi pusat perputaran ekonomi yang sangat besar, terutama menjelang Lebaran,” tutur Bupati.
Momentum peresmian dinilai tepat karena berdekatan dengan periode pasca-Lebaran, ketika mobilitas masyarakat masih tinggi. Selain itu, proyek dermaga ini juga menjadi perhatian pemerintah pusat melalui dukungan Kementerian Perhubungan Republik Indonesia.
Ke depan, dermaga ini diharapkan menjadi pintu pembuka bagi pengembangan rute penyeberangan baru, khususnya konektivitas Bone–Buton, sebagai penguatan hubungan ekonomi antarwilayah di Sulawesi.
Harapan tersebut bukan tanpa alasan. Jalur distribusi pangan, termasuk komoditas beras dan kebutuhan pokok lainnya, diyakini akan semakin efisien dengan terbukanya konektivitas baru.
Dermaga Pelabuhan Bajoe kini bukan hanya menjadi tempat sandarnya kapal, tetapi simbol harapan baru bagi mobilitas, perdagangan, dan masa depan ekonomi Bone yang semakin terbuka menuju kawasan timur Indonesia.
General Manager PT ASDP Cabang Bone, Anom Sedayu Panatagama, mengungkapkan bahwa pelaksanaan pekerjaan rehabilitasi dan peningkatan Dermaga Bajoe tetap memperhatikan aspek teknis di lapangan, termasuk faktor cuaca yang dapat dimitigasi melalui pengaturan sistem kerja.
“Pada prinsipnya, karena ini merupakan pekerjaan teknis, faktor cuaca masih dapat dimitigasi melalui pergantian shift dan pengaturan jam kerja lainnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, peningkatan kapasitas Dermaga Bajoe diharapkan memberikan dampak signifikan terhadap kemampuan pelabuhan dalam mendukung distribusi logistik. Dengan kapasitas yang lebih besar, kemampuan dermaga dan pelabuhan dalam menerima serta menyalurkan arus logistik juga akan meningkat.
“Dengan adanya peningkatan kapasitas ini, tentu kemampuan dermaga dan pelabuhan untuk menerima distribusi logistik menjadi semakin besar. Dari situ, harapan kami akan terjadi peningkatan pendapatan jasa, baik dari sektor logistik maupun jasa lainnya,” katanya.
Selain itu, Anom juga menyebut adanya peluang penambahan trayek penyeberangan baru sebagai salah satu harapan besar Pemerintah Kabupaten Bone. Ke depan, konektivitas pelayaran tidak hanya berfokus pada lintasan Pelabuhan Bajoe–Kolaka, tetapi juga membuka lintasan-lintasan baru untuk memperluas distribusi logistik dari Sulawesi Selatan ke berbagai wilayah Indonesia Timur.
“Ada kemungkinan besar akan ada tambahan trayek. Ini menjadi salah satu harapan besar Pak Bupati, agar ke depan tidak hanya Pelabuhan Bajoe dan Kolaka saja, tetapi juga dibuka lintasan-lintasan lain. Dengan demikian, distribusi logistik dari Sulawesi Selatan dapat menjangkau lebih luas ke seluruh kawasan Indonesia Timur,” jelasnya.
Ia menambahkan, terdapat pula harapan pembukaan konektivitas menuju Baubau, serta usulan dari Pemerintah Kabupaten Bombana agar terjalin konektivitas dengan Pelabuhan Bajoe guna memperkuat jaringan transportasi dan distribusi antardaerah.
Terkait rehabilitasi dan peningkatan Dermaga Bajoe, Anom menjelaskan bahwa pekerjaan meliputi peningkatan pada sejumlah komponen utama, antara lain trestle atau akses penghubung menuju dermaga MB (Movable Bridge), serta pembongkaran dan penggantian seluruh struktur MB.
“Item pekerjaannya meliputi trestle, yaitu jalan penghubung menuju dermaga MB, kemudian MB-nya sendiri dibongkar dan diganti dengan yang baru, termasuk sistem hidroliknya. Hidrolik ini berfungsi untuk pergerakan maju-mundur dan menjadi salah satu pembeda utama antara dermaga plengsengan dengan dermaga MB. Seluruh komponen tersebut dibongkar, diganti yang baru, sekaligus ditingkatkan kapasitasnya,” tutupnya. (*)


Tinggalkan Balasan