
BONE– Perjalanan hidup tidak selalu bergerak lurus. Ada yang dimulai dari ruang kelas menuju dunia profesional, namun ada pula yang menempuh jalan sebaliknya berangkat dari lapangan, ditempa pengalaman, lalu kembali ke dunia akademik dengan capaian yang menginspirasi. Jalan itulah yang ditempuh Herman, S.Sos., M.Si.
Dosen Universitas Cahaya Prima itu resmi meraih gelar doktor pada Program Studi S3 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin setelah sukses mempertahankan disertasinya berjudul “Kemitraan Dalam Penanganan Hasil Perikanan Berbasis Ekspor di Kabupaten Bone”.
Momentum akademik tersebut bukan sekadar seremoni kelulusan, melainkan penanda dari perjalanan panjang seorang putra daerah yang tumbuh dari desa, meniti karier di dunia jurnalistik, lalu menapaki jenjang tertinggi pendidikan.
Dalam sidang promosi doktor, Herman dibimbing oleh Promotor Prof. Dr. H. Badu Ahmad bersama Co-Promotor Dr. H. Nurdin Nara. Ia juga diuji oleh sejumlah akademisi senior, yakni Prof. Dr. H. Akmal Ibrahim, Prof. Dr. Hasniati, Prof. Dr. Gita Susanti, serta penguji eksternal Prof. Dr. Dra. Hj. A. Cahaya., M.Si.
Yang menarik, Herman menyelesaikan studi doktoralnya dalam waktu relatif singkat. Ia tercatat mulai menjadi mahasiswa Program S3 FISIP Universitas Hasanuddin pada akhir 2023, aktif mengikuti perkuliahan sejak Januari 2024, dan berhasil menuntaskan pendidikan pada Mei 2026.
Di tengah proses akademik yang padat, produktivitasnya tetap terjaga. Selama menjalani pendidikan doktoral, Herman menghasilkan 11 karya ilmiah, termasuk satu publikasi internasional terindeks Scopus, serta menerbitkan dua buku ilmiah sebagai kontribusinya dalam pengembangan pendidikan tinggi dan penelitian.
Namun capaian itu menjadi semakin bermakna ketika ditarik kembali ke titik awal perjalanannya.
Herman lahir di Desa Mattirowalie, Kecamatan Bontocani, Kabupaten Bone wilayah yang jauh dari hiruk pikuk pusat pendidikan tinggi. Dari desa itu, ia kini tercatat sebagai orang pertama yang berhasil meraih gelar doktor atau strata tiga.
Kisah tersebut menjadi simbol bahwa keterbatasan geografis bukanlah batas bagi cita-cita. Perjalanan akademiknya kini menjadi inspirasi bagi generasi muda, khususnya di daerah terpencil, bahwa pendidikan tinggi tetap dapat diraih melalui ketekunan dan konsistensi.
Sebelum dikenal sebagai akademisi, Herman lebih dulu menghabiskan waktu panjang di dunia jurnalistik. Ketua Ikatan Wartawan Online (IWO) Kabupaten Bone ini juga pernah berkarier di Harian PT Radar Bone. Kariernya dimulai dari posisi reporter dengan tanggung jawab liputan kriminal dan hukum. Seiring waktu, cakupan liputannya berkembang hingga pemerintahan dan politik.
Belasan tahun berkecimpung di dunia pers membawanya hingga posisi Redaktur yang bertanggung jawab pada halaman hukum, kriminal, politik, dan pemerintahan.
Dunia jurnalistik membentuk karakter lapangannya: disiplin, kritis, dan dekat dengan realitas sosial. Namun di tengah kesibukan profesinya, Herman tidak pernah meninggalkan pendidikan.
Ia menuntaskan pendidikan Strata Satu di STIA Prima yang kini berkembang menjadi Universitas Cahaya Prima lalu melanjutkan studi magister. Kesempatan bergabung sebagai akademisi di almamaternya menjadi titik balik yang memperkuat dedikasinya di dunia pendidikan.
Sejak itu, ia mulai memfokuskan diri sebagai dosen sambil terus melanjutkan pendidikan hingga jenjang doktoral. Disertasi yang mengantarkannya meraih gelar doktor juga lahir dari kepeduliannya terhadap potensi daerah.
Dalam penelitiannya, Herman menemukan bahwa pengembangan ekspor perikanan di Kabupaten Bone memerlukan penguatan kemitraan antaraktor, kepemimpinan relasional, serta komitmen organisasi yang lebih kuat.
Menurutnya, potensi perikanan Bone sesungguhnya sangat besar, namun belum dimaksimalkan dalam sistem ekspor nasional. “Potensi perikanan ekspor di Kabupaten Bone sangat besar, tetapi perlu penguatan kemitraan, kepemimpinan relasional, dan komitmen organisasi agar pengelolaan hasil perikanan berjalan efektif serta mampu bersaing di pasar internasional,” ujarnya.
Ia menilai Kabupaten Bone memiliki posisi strategis karena dikelilingi wilayah dengan sumber daya perikanan yang melimpah. Dengan pengelolaan profesional dan sistem yang terintegrasi, Bone berpeluang menjadi salah satu pusat ekspor perikanan terbesar di Indonesia Timur.
Kini, setelah menuntaskan perjalanan akademiknya hingga gelar doktor, Herman tidak hanya membawa gelar baru di belakang namanya. Ia membawa cerita tentang kegigihan, Tentang seorang wartawan yang tak berhenti belajar, Tentang putra desa yang menembus batas.
Dan tentang keyakinan bahwa pendidikan dapat menjadi jalan perubahan bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi daerah yang dibesarkan dan diperjuangkan. (*)


Tinggalkan Balasan