BONE– Halaman Vihara Dharma Palakka di Jalan Pepaya, Kelurahan Macege, Kecamatan Tanete Riattang Barat, Kabupaten Bone, dipenuhi wajah-wajah penuh sukacita. Umat Buddha dari berbagai wilayah berkumpul untuk merayakan Hari Raya Tri Suci Waisak 2568 Buddhist Era (BE) Tahun 2026, sebuah momentum suci yang tidak hanya menjadi perayaan keagamaan, tetapi juga ruang memperkuat persaudaraan dan kebersamaan di tengah keberagaman.

Perayaan yang dipusatkan di Vihara Dharma Palakka pada Minggu, 31 Mei 2026, berlangsung mulai pukul 16.00 Wita. Namun, semangat Waisak sesungguhnya telah terasa sejak pagi hari melalui kegiatan Pindapata, sebuah tradisi Buddhis yang sarat makna berbagi dan kepedulian sosial.

Sejak pukul 07.00 Wita, para bhikkhu dan umat Buddha mengikuti prosesi Pindapata yang menyusuri sejumlah ruas jalan utama di Kabupaten Bone. Kegiatan tersebut berlangsung di 13 titik, di antaranya Jalan Makmur, Jalan Veteran, Jalan Masjid, Lapangan Merdeka, Jalan Ahmad Yani, Besse Kajuara, Agussalim, Sukawati, Jalan Salak, hingga berakhir di Vihara Dharma Palakka.

Di sepanjang perjalanan, masyarakat menyambut hangat prosesi tersebut. Warga memberikan persembahan berupa makanan dan kebutuhan pokok sebagai bentuk penghormatan sekaligus partisipasi dalam semangat berbagi yang menjadi bagian penting dari ajaran Buddha.

Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Kabupaten Bone, Hakim Lewa, menjelaskan bahwa Pindapata bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan simbol rasa syukur dan kepedulian terhadap sesama.

“Melalui kegiatan ini kami ingin menumbuhkan semangat kebersamaan dan budaya berbagi. Apa yang diberikan masyarakat menjadi bentuk dukungan terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang diajarkan dalam kehidupan beragama,” ujarnya.

Menurut Hakim, perayaan Waisak tahun ini juga menjadi momentum untuk mendoakan kemajuan daerah. Ia berharap Kabupaten Bone terus berkembang dalam suasana damai sehingga pembangunan dapat berjalan dengan baik dan masyarakat hidup dalam kesejahteraan.

“Tri Suci Waisak bukan hanya perayaan umat Buddha, tetapi juga menjadi ajang mempererat tali persaudaraan antarumat beragama. Kita belajar bahwa hidup berdampingan dalam kerukunan dan saling menghormati adalah kekuatan besar bagi daerah ini,” katanya.

Puncak ibadah Waisak dipimpin langsung oleh Samanera Dhammasadho. Dalam suasana khidmat, umat mengikuti rangkaian doa dan perenungan yang mengingatkan kembali pada tiga peristiwa agung dalam kehidupan Siddhartha Gautama, yakni kelahiran, pencapaian pencerahan sempurna, dan wafatnya Sang Buddha.

Namun, Waisak di Bone tahun ini tidak berhenti pada aspek spiritual semata. Edy Siouw selaku Panitia juga menegaskan bahwa perayaan tersebut sengaja dikemas sebagai ruang perjumpaan budaya dan sosial yang melibatkan berbagai elemen masyarakat se Sulsel yang dipusatkan di Kabupaten Bone.

“Perayaan ini akan dirangkaikan dengan kegiatan kesenian dan berbagi yang akan diselenggarakan pada tanggal 28 Juni 2026. Kami ingin menghadirkan kolaborasi budaya lokal, budaya nasional, serta tradisi Buddhis dalam satu ruang kebersamaan,” ungkapnya seusai melakukan audiensi dengan Bupati Bone baru-baru ini.

Menurut Edy, berbagai unsur turut dilibatkan dalam perayaan tersebut, mulai dari pemerintah daerah, Organisasi Perangkat Daerah (OPD), tokoh lintas agama, hingga tamu dari sejumlah daerah seperti Makassar, Mamuju, Parepare, dan Kendari.

Keterlibatan berbagai kalangan itu menjadi cerminan semangat inklusif yang terus dibangun oleh umat Buddha di Kabupaten Bone. Perbedaan latar belakang tidak menjadi sekat, melainkan jembatan yang memperkuat hubungan sosial dan rasa saling menghargai.

Bagi STI dan Vihara Dharma Palakka, Waisak bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Perayaan ini merupakan momentum untuk menghadirkan nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sosial sehari-hari. Kehadiran tokoh dan masyarakat lintas agama menjadi simbol bahwa keberagaman dapat tumbuh harmonis ketika dilandasi rasa hormat dan saling memahami.

Di tengah dinamika kehidupan modern yang kerap menghadirkan berbagai tantangan sosial, perayaan Tri Suci Waisak di Kabupaten Bone memberikan pesan sederhana namun mendalam: bahwa kedamaian lahir dari hati yang mampu berbagi, menghargai perbedaan, dan merawat persaudaraan.

Dari prosesi Pindapata yang menyusuri jalan-jalan kota hingga doa bersama di Vihara Dharma Palakka, Waisak 2568 BE menjadi pengingat bahwa nilai-nilai kemanusiaan selalu memiliki ruang untuk tumbuh. Dan di Bone, ruang itu hadir dalam wajah-wajah yang tersenyum, tangan-tangan yang saling memberi, serta semangat kebersamaan yang terus dijaga di tengah keberagaman. (*)