BONE — Suasana berbeda terasa di salah satu situs cagar budaya di Jalan Makmur, Watampone, Rabu (22/7/2026). Di tengah jejak sejarah yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya sejak 2023, Pemerintah Kabupaten Bone mengawali rangkaian Gau Maraja 2026 melalui konferensi pers yang mempertemukan pemerintah daerah, insan pers, pegiat budaya, dan kurator.
Hadir dalam kesempatan itu Penjabat Sekretaris Daerah Bone Hj. Andi Tenriawaru, Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Bone Hj. Andi Murni, Kepala Dinas Perindustrian Andi Promal Pawi, serta Koordinator Gau Maraja Irfan Syam.
Pemilihan situs cagar budaya sebagai lokasi konferensi pers bukan sekadar pertimbangan seremonial. Tempat itu menjadi simbol semangat yang diusung Gau Maraja: menghidupkan kembali ruang-ruang sejarah sebagai pusat aktivitas budaya masyarakat.
Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Bone Hj. Andi Murni menjelaskan, lokasi tersebut sengaja diperkenalkan kepada publik agar masyarakat semakin mengenal kekayaan cagar budaya yang dimiliki Bone.
“Tempat ini merupakan salah satu cagar budaya Kabupaten Bone yang telah ditetapkan pada tahun 2023. Selain memiliki nilai sejarah yang kuat, situs ini juga menjadi salah satu ruang yang diaktivasi dalam pelaksanaan Gau Maraja tahun ini,” ujarnya.
Ia menegaskan, pelaksanaan Gau Maraja merupakan momentum langka bagi Bone. Festival kebudayaan yang digagas Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Sulawesi Selatan bersama Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia itu digelar secara bergilir di kabupaten dan kota se-Sulawesi Selatan. Tahun 2026, giliran Bone dipercaya menjadi tuan rumah.
Menurut Andi Murni, kesempatan tersebut harus dimanfaatkan seluruh elemen masyarakat karena bisa jadi baru akan kembali ke Bone puluhan tahun mendatang.
“Gau Maraja bukan milik pemerintah daerah ataupun Dinas Kebudayaan. Ini milik kita semua. Kalau menunggu giliran lagi, mungkin sekitar 20 tahun mendatang baru kembali ke Bone,” katanya.
Ia juga mengajak media menjadi mitra dalam memperkenalkan Gau Maraja kepada masyarakat, mulai dari konsep, rangkaian kegiatan hingga nilai budaya yang ingin diwariskan.
Tahun ini Gau Maraja mengangkat tema “Simfoni Lumbung: Merayakan Pangan dan Budaya.” Tema tersebut lahir dari identitas Bone sebagai daerah agraris sekaligus salah satu penyangga pangan nasional.
Bagi Bone, pangan bukan hanya persoalan ekonomi, melainkan bagian dari kebudayaan yang diwariskan turun-temurun. Tradisi bertani, lumbung padi, hingga gotong royong masyarakat menjadi cerita yang akan diangkat dalam berbagai pertunjukan dan aktivitas selama Gau Maraja berlangsung.
Koordinator Gau Maraja Irfan Syam mengatakan, Bone menjadi salah satu penyelenggara dengan konsep paling panjang dibanding pelaksanaan di daerah lain.
“Kalau sebelumnya Gau Maraja hanya berlangsung satu atau dua hari, di Bone insyaallah berlangsung selama enam hari penuh seperti Pekan Kebudayaan dengan berbagai kegiatan,” jelasnya.
Berbagai lokasi akan menjadi panggung pelaksanaan, tidak hanya di pusat Kota Watampone, tetapi juga menjangkau wilayah utara, selatan, hingga kawasan perbatasan. Penyebaran lokasi ini dimaksudkan agar masyarakat dari berbagai kecamatan dapat ikut menikmati dan menjadi bagian dari perayaan budaya tersebut.
Menurut Irfan, konsep tersebut mencerminkan semangat Assikabinettang atau kebersamaan, di mana pemerintah, komunitas budaya, seniman, akademisi, dan masyarakat bergotong royong menghadirkan pesta budaya yang inklusif.
“Gau Maraja bukan hanya sebuah festival. Ini adalah orkestrasi seluruh unsur kebudayaan yang dirayakan bersama. Setelah selesai nanti, kami berharap lahir legacy yang terus hidup dan menguatkan ekosistem kebudayaan Bone,” ujarnya.
Selain pertunjukan budaya, Gau Maraja juga membuka ruang kolaborasi melalui berbagai skema fasilitasi kebudayaan dari Kementerian Kebudayaan, termasuk Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan (FPK) dan Dana Indonesiana sebagai dukungan bagi komunitas budaya.
Mewakili Bupati Bone, Penjabat Sekretaris Daerah Bone Hj. Andi Tenriawaru menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia dan pihak yang telah mempersiapkan Gau Maraja.
Menurutnya, konferensi pers tersebut bukan sekadar penyampaian informasi, melainkan awal dari gerakan bersama untuk memperkuat identitas budaya Kabupaten Bone.
“Ini merupakan langkah awal membangun optimisme sekaligus mengajak seluruh masyarakat menjadi bagian dari gerakan pelestarian dan kemajuan kebudayaan Kabupaten Bone,” katanya.
Ia menilai Bone memiliki sejarah panjang dan peradaban besar yang menjadi kebanggaan Sulawesi Selatan. Di tengah perkembangan zaman, pelestarian budaya harus berjalan beriringan dengan pembangunan daerah.
Tenriawaru memaparkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir pembangunan Bone menunjukkan tren positif, mulai dari pertumbuhan ekonomi, pemerataan infrastruktur, peningkatan pelayanan publik, penguatan sektor pertanian, perkembangan UMKM, hingga peningkatan kualitas pendidikan dan layanan kesehatan.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten Bone berkomitmen terus membuka ruang bagi komunitas budaya, seniman, akademisi, dan generasi muda untuk membangun ekosistem kebudayaan yang sehat, produktif, dan berkelanjutan.
Ia juga menaruh harapan besar kepada insan pers agar menjadi mitra strategis dalam mengenalkan kekayaan budaya Bone kepada publik yang lebih luas.
“Peran media sangat penting dalam mengabarkan kekayaan budaya Bone hingga tingkat nasional bahkan internasional,” ujarnya.
Lebih dari sekadar festival tahunan, Gau Maraja di Bone diproyeksikan menjadi ruang temu antara sejarah, seni, tradisi, dan masa depan. Dari situs cagar budaya yang menjadi saksi perjalanan peradaban hingga lumbung-lumbung pangan yang menjadi simbol kesejahteraan masyarakat Bugis, seluruh rangkaian kegiatan akan memperlihatkan bagaimana kebudayaan tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Enam hari pelaksanaan Gau Maraja bukan hanya akan menghadirkan pertunjukan seni, tetapi juga menjadi ajang memperkuat identitas daerah, menggerakkan ekonomi kreatif, menghidupkan kembali situs-situs budaya, serta menumbuhkan rasa bangga masyarakat terhadap warisan leluhur.
Ketika harmoni budaya dipadukan dengan semangat menjaga kedaulatan pangan, Bone tidak hanya menjadi tuan rumah sebuah festival, tetapi juga memperlihatkan kepada Sulawesi Selatan bahwa kebudayaan adalah fondasi pembangunan yang terus tumbuh bersama masyarakatnya. (*)


Tinggalkan Balasan