BONE– Di sebuah sudut Kelurahan Maccope, waktu seolah berjalan dengan cara yang berbeda. Bukan karena ketenangan desa, melainkan karena satu hal mendasar yang belum terpenuhi: akses yang layak.

Selama bertahun-tahun, warga di wilayah ini menggantungkan harapan pada sebatang jembatan bambu sederhana yang membentang di atas sungai. Rapuh, bergoyang, dan jauh dari kata aman namun itulah satu-satunya penghubung antarwilayah yang mereka miliki.

Setiap pagi, langkah-langkah kecil anak sekolah menapaki bambu yang licin, berusaha menjaga keseimbangan sambil memanggul tas di punggung. Di waktu yang sama, para petani melintas dengan beban hasil panen padi dan jagung yang menjadi tumpuan hidup keluarga mereka.

Ketika musim hujan datang, cerita berubah menjadi lebih mencekam. Air sungai meluap, arus semakin deras, dan jembatan bambu berubah menjadi ancaman nyata.

“Dalam setahun, banjir bisa sampai tiga kali. Biasanya di bulan Mei, Juni, dan Juli,” ungkap Jumardi, Kepala Lingkungan Barang, saat ditemui Minggu (19/4/2026).

Banjir bukan sekadar genangan air. Ia memutus akses, menghentikan aktivitas, dan memaksa warga mengambil jalan panjang yang melelahkan.

“Kalau banjir, warga harus memutar sampai 30 kilometer,” lanjutnya.

Bayangkan: perjalanan yang biasanya singkat berubah menjadi puluhan kilometer. Anak-anak terancam absen sekolah. Petani kehilangan waktu dan kesempatan menjual hasil panen.

Namun di balik keterbatasan itu, ada keteguhan yang tak mudah runtuh.

Warga tetap melintas, menaklukkan rasa takut setiap hari. Mereka berjalan perlahan, menjaga langkah di atas bambu yang berderit, seolah meniti harapan yang tipis namun tak pernah putus.

Kisah panjang perjuangan warga akhirnya mengetuk perhatian banyak pihak. Salah satunya datang dari Kodim 1407/Bone.

Melalui program kepedulian terhadap masyarakat, TNI turun langsung ke lapangan. Mereka tidak hanya melihat, tetapi juga bertindak membangun jembatan yang lebih layak bagi warga.

Komandan Kodim 1407/Bone, Letkol Inf. Laode Muhammad Idrus, menegaskan bahwa pembangunan ini bukan sekadar proyek, melainkan bentuk nyata keberpihakan kepada rakyat.

“Kami turun langsung melihat kesulitan masyarakat. Karena itu pembangunan jembatan ini menjadi prioritas,” ujarnya.

Bagi TNI, akses bukan hanya soal jalan atau jembatan. Ia adalah denyut kehidupan: jalur ekonomi, pendidikan, hingga keselamatan masyarakat.

Jembatan yang tengah dibangun diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang. Tak lagi bambu yang rapuh, melainkan konstruksi yang kokoh dan aman dilalui siapa saja.

“InsyaAllah dalam beberapa bulan ke depan sudah bisa dilewati,” tambahnya.

Bagi warga Kecamatan Awangpone, jembatan bukan sekadar infrastruktur. Ia adalah simbol perubahan.

Perubahan dari rasa was-was menjadi rasa aman.
Dari keterisolasian menuju keterhubungan.
Dari keterbatasan menuju peluang.

Suatu hari nanti, anak-anak tidak lagi harus menunduk takut saat melangkah. Para petani bisa melintas tanpa khawatir kehilangan hasil panen di tengah jalan.

Dan jembatan bambu itu yang selama ini menjadi saksi perjuangan akan tinggal menjadi cerita. Cerita tentang keteguhan, tentang kesabaran, dan tentang harapan yang akhirnya menemukan jalannya. (*)