MAKASSAR — Tangis haru pecah di Aula PJJ Lantai I Program Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Sabtu, 8 Agustus 2026. Di hadapan para profesor, keluarga, sahabat, dan sejumlah tokoh yang hadir, H. Muslimin, S.E., M.M., akhirnya menyandang gelar Doktor Ilmu Manajemen.
Sidang Promosi Doktor yang berlangsung pukul 10.00 hingga 12.00 WITA itu menjadi penanda berakhirnya perjalanan panjang pendidikan doktoral yang ditempuh Muslimin. Namun, bagi pria kelahiran Bone itu, hari tersebut bukan sekadar seremoni akademik.
Ada perjalanan hidup yang panjang di balik toga dan gelar doktor yang kini melekat di belakang namanya.
H. Muslimin dinyatakan lulus dengan predikat pujian (cumlaude) setelah memperoleh nilai ujian 92,5 dengan nilai A, serta mencatatkan IPK 3,99.
Dalam sidang tersebut, Muslimin mempertahankan disertasinya yang berjudul:
“Pengaruh Gaya Kepemimpinan, Kompetensi Digital dan Keadilan Organisasi terhadap Kinerja Aparatur Sipil Negara melalui Kepuasan Kerja di Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Bone.”
Disertasi tersebut mengantarkannya melewati salah satu tahap terpenting dalam perjalanan akademiknya.
Namun, setelah dinyatakan lulus dan resmi menyandang gelar doktor, suasana sidang berubah menjadi lebih emosional.
Saat menyampaikan pidato, suara Muslimin beberapa kali bergetar. Kenangan tentang masa kecil, perjuangan keluarga, orang tua, istri, dan anak-anaknya seakan kembali hadir. Isak tangis pun pecah di dalam ruangan.
“Pencapaian ini bukan hanya kebahagiaan dan kebanggaan, tetapi juga rasa syukur yang haru dan keheningan hati,” ungkapnya.
Muslimin menyebut sidang promosi doktor yang baru saja dijalaninya bukan sekadar tahapan akademis. Baginya, sidang tersebut merupakan pertanggungjawaban atas perjalanan panjang yang dipenuhi doa, pengorbanan, kerja keras, air mata, serta kebaikan banyak orang.
“Saya menyadari bahwa tidak mungkin berdiri di tempat ini hanya dengan kekuatan saya sendiri,” katanya.
Dari Keluarga Sederhana
Di balik pencapaian akademik itu, terdapat kisah hidup yang jauh dari kata mudah.
Muslimin merupakan anak keenam dari sembilan bersaudara. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana dengan keterbatasan ekonomi. Ketika hampir seluruh anak dalam keluarganya berada pada usia sekolah secara bersamaan, orang tuanya harus menghadapi pilihan sulit karena keterbatasan biaya pendidikan.
Sebelum bersekolah di madrasah, ia pernah menjual jagung dan langsat. Ia juga pernah bekerja menjadi buruh ikan di pasar.
Pekerjaan-pekerjaan tersebut justru menjadi sekolah kehidupan pertama baginya.
“Di sanalah saya belajar bahwa tidak ada pekerjaan yang hina yang merendahkan manusia, dan bahwa kehidupan harus diperjuangkan dengan kejujuran dan ketekunan,” tuturnya.
Setelah menyelesaikan pendidikan di madrasah, Muslimin tidak langsung melanjutkan sekolah. Ia sempat berhenti belajar selama kurang lebih dua tahun karena kendala biaya.
Ia kemudian memilih pergi melaut.
Bagi Muslimin, laut menjadi bagian lain dari perjalanan hidup yang mengajarinya tentang keteguhan.
“Untuk mencapai daratan, seseorang harus terus mendayung sekalipun ombak tidak selalu bersahabat,” ujarnya.
Ketika akhirnya dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA, perjuangan belum berakhir. Setiap hari sekolah, ia juga bekerja sebagai buruh angkat ikan di pelelangan ikan di Sinjai.
Belajar dan bekerja dijalaninya secara bersamaan. Harapan untuk mendapatkan pendidikan lebih tinggi terus ia jaga meski keadaan sering kali tidak memberikan banyak pilihan.
Pernah Melewati Hari Tanpa Beras
Salah satu kenangan paling berat yang masih tersimpan dalam ingatan Muslimin terjadi pada 1998.
Saat itu, keluarganya bahkan pernah tidak memiliki beras untuk dimasak.
“Satu butir pun beras tidak ada. Saya dan saudara saya melewati hari tanpa makan nasi,” kenangnya.
Kondisi itu terjadi ketika ibunya baru saja melahirkan adik bungsunya.
Adik tersebut kini diketahui menjadi Kepala Puskesmas Kajuara Kabupaten Bone atas nama Hastra Andita, S.ST.
Muslimin kemudian menceritakan bagaimana ayahnya memberikan nama kepada sang adik sebagai simbol harapan keluarga.
“Bapak saya mengatakan Hasta ‘Habis gelap terbitlah terang’. Andita ‘Akhir penderitaan kita’,’” tuturnya.
Keluarganya memang tidak memiliki banyak harta. Namun, di tengah kekurangan itu, orang tuanya mewariskan sesuatu yang jauh lebih berharga: kejujuran, ketabahan, kerja keras, dan keyakinan bahwa pendidikan dapat mengubah kehidupan.
Gelar Doktor untuk Ayah dan Ibu
Salah satu bagian paling mengharukan dalam pidato Muslimin adalah ketika ia menyampaikan pesan kepada kedua orang tuanya yang telah berpulang, Haji Mappe dan Hj. Muna.
Dengan suara penuh haru, ia seakan berbicara langsung kepada keduanya.
“Bapak, Mama, hari ini anakmu berdiri di depan para profesor dan cendekiawan untuk menyelesaikan pendidikan Doktor,” ucapnya.
Ia mengaku berharap kedua orang tuanya masih dapat menyaksikan pencapaian tersebut secara langsung.
Namun, Allah SWT telah lebih dahulu memanggil keduanya.
“Gelar ini tidak mampu membalas satu tetes pun keringat Bapak dan Mama,” katanya.
Menurutnya, ilmu yang kelak diamalkan dan manfaat yang diberikan kepada orang lain menjadi bentuk pengabdian sekaligus doa agar pahala terus mengalir untuk kedua orang tuanya.
“Terima kasih Bapak, terima kasih Ibu. Hari ini nama kalian berdiri bersama saya,” ujarnya.
Istri dan Anak, Sumber Kekuatan
Di tengah perjalanan panjang tersebut, Muslimin juga menyampaikan penghargaan khusus kepada istrinya, Hj. Nur Sugiartung.
Ia menyebut sang istri sebagai orang yang paling mengetahui perjuangan yang tidak terlihat selama proses pendidikan doktoral.
Malam-malam panjang, rasa lelah, kegelisahan mengerjakan disertasi hingga berkurangnya waktu bersama keluarga menjadi bagian dari proses yang mereka jalani bersama.
“Gelar ini juga merupakan bagian dari pengorbananmu. Tanpa pendampinganmu, mungkin langkah saya tidak akan sampai sejauh ini,” katanya.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada kedua anaknya, As-Siddiq Al-Farezi dan Asyifa Putri Musyirah.
Muslimin meminta maaf karena selama menempuh pendidikan doktoral ada waktu kebersamaan dengan keluarga yang berkurang.
Ia berharap perjalanan tersebut dapat menjadi pelajaran bagi kedua anaknya bahwa pendidikan bukan semata-mata tentang mengejar gelar.
“Pendidikan bukanlah semata-mata mengejar gelar, melainkan tentang keberanian untuk terus belajar, kejujuran dalam berproses, dan kesediaan menjadi ilmu yang bermanfaat bagi orang lain,” tuturnya.
Terima Kasih kepada Para Guru dan Penguji
Dalam pidatonya, Muslimin juga menyampaikan penghargaan kepada Ketua Sidang sekaligus Direktur Program Pascasarjana UMI, Prof. Dr. H. La Ode, serta Promotor Prof. Dr. Ramlawati, S.E., M.Si.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Kopromotor Prof. Sherly, S.E., M.Si., dan Dr. A. M. Nur Alim, S.E., M.Si., yang disebutnya telah memberikan bimbingan, koreksi, perhatian, dan kesabaran selama proses penyusunan disertasi.
Kepada jajaran Dewan Penguji, yakni Prof. Dr. H. Basri Modding, S.E., M.Si., Prof. Dr. H. Amir Mahmud, S.E., M.Si., Prof. Dr. Suriyanti, S.E., M.Si., Dr. Hj. Nurjanah, S.E., M.Si., Prof. Dr. Gugus Satria, S.E., M.Si., dan Dr. H. Salle, S.H., M.H., Muslimin menyampaikan penghargaan atas setiap pertanyaan, kritik, dan koreksi yang diberikan.
Ia juga secara khusus menyampaikan apresiasi kepada Prof. Dr. Buyung Sarita, S.E., M.S., Ph.D., selaku penguji eksternal yang hadir dari Kendari.
“Jarak yang Bapak tempuh, waktu yang Bapak luangkan, serta pandangan akademis yang Bapak berikan merupakan suatu kehormatan besar bagi saya,” katanya.
Penelitian yang Berangkat dari Realitas Pemerintahan
Disertasi Muslimin tidak lahir dari ruang akademik semata. Penelitian tersebut mengambil lokasi di Sekretariat DPRD Kabupaten Bone, yang berkaitan langsung dengan kinerja Aparatur Sipil Negara.
Ia juga menyampaikan penghargaan kepada Sekretaris DPRD Kabupaten Bone, Andi Murlis, sebagai salah satu pihak yang menjadi bagian penting dalam pelaksanaan penelitian tersebut.
Dalam kesempatan itu, Muslimin turut menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Bone yang diwakili Kepala Dinas Pendidikan, Andi Sahar, Ketua DPRD Provinsi Sulawesi Selatan Andi Ina Kartika Sari, Ketua Fraksi NasDem H. M. Masykur Sapar, S.E., serta kolega dan anggota DPRD lainnya yang hadir maupun menitipkan salam.
Ucapan terima kasih juga diberikan kepada seluruh civitas akademika dan tenaga pendidik Program Pascasarjana UMI serta rekan-rekan seperjuangan Doktor Ilmu Manajemen Angkatan 3.
Bukan Puncak, tetapi Amanah Baru
Setelah melewati jalan panjang dari keluarga sederhana, pernah menjual hasil kebun, bekerja di pasar, melaut, menjadi buruh angkat ikan hingga akhirnya berdiri di hadapan para profesor sebagai seorang doktor, Muslimin memilih tidak melihat gelar tersebut sebagai puncak perjalanan.
Justru sebaliknya.
Baginya, gelar doktor merupakan amanah baru.
“Gelar doktor bukanlah puncak untuk meninggikan diri. Gelar ini adalah amanah baru, tanggung jawab moral, dan utang pengabdian,” tegasnya.
Menurut Muslimin, ilmu tidak boleh berhenti di ruang sidang atau tersimpan di rak perpustakaan. Ilmu harus hadir dalam pekerjaan, pelayanan, kebijakan, dan kehidupan masyarakat.
Dari seluruh perjalanan hidup yang telah dilaluinya, ia kemudian menyampaikan satu pesan sederhana.
“Keterlambatan bukanlah kegagalan, keterbatasan bukanlah akhir perjalanan, dan pekerjaan sederhana bukanlah sesuatu yang harus memalukan.”
Ia pernah berhenti sekolah. Ia pernah melaut. Ia pernah menjadi buruh angkat di pasar dan pelelangan ikan.
Namun, perjalanan itu tidak menghentikannya untuk terus belajar.
Hingga akhirnya, pada Sabtu, 8 Agustus 2026, seorang anak dari keluarga sederhana itu berdiri di hadapan para profesor dan cendekiawan, mempertanggungjawabkan hasil penelitiannya, lalu dinyatakan lulus Doktor Ilmu Manajemen dengan predikat cumlaude dan IPK 3,99.
Perjalanan panjang itu akhirnya sampai pada satu titik manis.
Bukan hanya tentang gelar yang diraih, tetapi tentang sebuah pembuktian bahwa jalan yang berliku tetap dapat membawa seseorang sampai ke tujuan selama doa, kerja keras, dan kemauan untuk belajar tidak pernah ditinggalkan. (*)


Tinggalkan Balasan