BONE — Ribuan masyarakat memadati kawasan pelataran Rumah Jabatan Bupati Bone, Jalan Petta Ponggawae, Minggu (27/9/2026), untuk menyaksikan kemeriahan Karnaval Festival Gau’ Maraja 2026. Kegiatan tersebut berlangsung semarak dengan menampilkan beragam kekayaan budaya, sejarah, serta kearifan lokal masyarakat Bugis. Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.Si., bersama Wakil Bupati Bone Dr. H. Andi Akmal Pasluddin, MM., serta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) turut hadir menyaksikan rangkaian kegiatan.

Kehadiran ribuan warga membuat suasana di sekitar panggung kehormatan semakin meriah. Pemerintah Kabupaten Bone memberikan apresiasi atas kekompakan peserta, komunitas budaya, masyarakat, serta seluruh pihak yang terlibat dalam menyukseskan kegiatan tersebut.

Salah satu daya tarik utama Festival Gau’ Maraja 2026 adalah parade dan kirab sepeda tua yang diikuti ratusan peserta dari berbagai wilayah di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Rombongan komunitas pecinta sepeda ontel hadir dengan membawa semangat silaturahmi sekaligus turut menyemarakkan pesta budaya masyarakat Bone.

Di depan panggung kehormatan, para peserta tampil menggunakan beragam busana adat Bugis-Makassar. Sejumlah peserta mengenakan baju bodo, jas tutup, kain sutra, sarung sabuk hingga passapu dan topi recca.

Sebagian peserta bahkan mengenakan kostum petani tradisional lengkap dengan caping. Penampilan tersebut menggambarkan sejarah sepeda ontel yang pada masa lalu turut menjadi salah satu alat transportasi masyarakat, termasuk dalam menunjang aktivitas pertanian.

Tak hanya itu, penyerahan Bendera Pataka “Gau’ Maraja” dari perwakilan komunitas sepeda tua, Bonesta Community, kepada Bupati dan Wakil Bupati Bone. Bendera pataka tersebut sebelumnya diarak menggunakan sepeda tua dari Makassar menuju Kabupaten Bone. Setibanya di lokasi acara, pataka diserahkan secara khidmat di hadapan panggung utama.

Setelah diterima jajaran pemerintah daerah, Bendera Pataka Gau’ Maraja kemudian dikibarkan bersama di hadapan pimpinan daerah dan tamu undangan. Prosesi tersebut menjadi simbol penghormatan terhadap sejarah, kebersamaan, serta semangat gotong royong dalam menjaga dan merawat kebudayaan daerah.

Festival Gau’ Maraja 2026 mengangkat tema pelestarian budaya, sejarah, serta kearifan lokal pangan masyarakat Bugis. Keterlibatan komunitas sepeda tua dari berbagai kabupaten lintas provinsi juga memperlihatkan kuatnya hubungan silaturahmi antarkomunitas.

Kemeriahan semakin terasa saat barisan peserta yang mengenakan pakaian adat Bugis-Makassar melintas di hadapan panggung kehormatan. Puluhan perempuan tampil mengenakan baju bodo dengan warna-warni yang mencolok. Mereka dipimpin seorang pemimpin barisan berpakaian serba hitam lengkap dengan passapu.

Pemimpin barisan kemudian mengajak peserta melakukan yel-yel interaktif. Pekikan “Siapa kita?” langsung dijawab serentak oleh para peserta. Aksi saling sahut tersebut disambut tepuk tangan dan sorak-sorai dari masyarakat yang memadati lokasi acara. Penampilan itu sekaligus menjadi gambaran semangat generasi masyarakat dalam memperkenalkan dan mempertahankan nilai-nilai adat, keberanian, serta kekompakan melalui kegiatan budaya.

Selain pakaian adat, Karnaval Budaya juga menampilkan berbagai kearifan lokal dari masing-masing daerah. Sejumlah tradisi dan atraksi budaya, termasuk Bolo Sarengo serta pertunjukan khas dari berbagai kecamatan, turut ditampilkan dalam parade.

Kehadiran sepeda tua menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari rangkaian tersebut. Kendaraan tradisional itu tidak sekadar menjadi tontonan, tetapi juga menjadi pengingat perjalanan sejarah dan kehidupan masyarakat pada masa lalu.

Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman menyampaikan kebanggaannya melihat tingginya antusiasme masyarakat mengikuti dan menyaksikan Festival Gau’ Maraja 2026. Menurutnya, kemeriahan kegiatan tersebut menunjukkan besarnya perhatian masyarakat terhadap budaya dan sejarah daerah.

“Kegiatan ini bertujuan untuk merefleksi dan melestarikan sejarah kita. Di tengah musim kemarau dan jeda masa tanam para petani, kegiatan ini menjadi wadah kebersamaan dan hiburan yang patut kita syukuri bersama,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan rencana pemerintah daerah untuk memberikan dukungan lebih besar terhadap kegiatan budaya pada masa mendatang, termasuk Pesta Panen, dengan alokasi anggaran yang lebih besar serta melibatkan pemerhati budaya dari berbagai wilayah.

Festival Gau’ Maraja 2026 tidak hanya menghadirkan pertunjukan budaya, tetapi juga memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi dan pariwisata lokal. Tingkat okupansi hotel di Bone dilaporkan penuh oleh tamu dan wisatawan yang datang dari berbagai daerah untuk mengikuti maupun menyaksikan rangkaian kegiatan.

Festival juga dirangkaikan dengan kegiatan UMKM yang melibatkan sekitar 200 keluarga prasejahtera. Kegiatan tersebut diharapkan dapat membuka ruang bagi masyarakat untuk meningkatkan pendapatan selama pelaksanaan festival.

Selain itu, Turnamen Domino yang menjadi salah satu kegiatan pendukung juga mendapat antusiasme tinggi dengan jumlah peserta yang disebut mencapai lebih dari 4.000 orang.

Sebagai bentuk motivasi bagi peserta, Pemerintah Kabupaten Bone juga menyiapkan tambahan dukungan anggaran bagi kecamatan yang berhasil meraih juara dalam Karnaval Budaya. Bupati Bone menyampaikan, mulai pelaksanaan tahun depan, kecamatan yang berhasil menempati peringkat pertama hingga keenam akan memperoleh tambahan anggaran hingga Rp200 juta.

Sementara kecamatan lainnya akan mendapatkan tambahan anggaran sebesar Rp50 juta. “Tahun depan, kecamatan yang berhasil menjadi juara 1 sampai 6 dalam karnaval ini akan mendapatkan tambahan anggaran hingga Rp200 juta, berbanding Rp50 juta untuk kecamatan lainnya. Ini bentuk keseriusan kita agar perlombaan ke depan semakin meriah dan berkualitas,” pungkasnya. (*)