BONE — Kawasan Museum Lapawawoi tampak berbeda. Di tengah jejak sejarah yang tersimpan di salah satu ruang penting kebudayaan Kabupaten Bone itu, beragam potensi daerah hadir dalam sebuah perhelatan yang mempertemukan pertanian, kerajinan, budaya, hingga ekonomi kreatif.

Pameran Agraris menjadi ruang bagi masyarakat untuk melihat lebih dekat kekayaan yang tumbuh dari tanah Bone sekaligus warisan budaya yang terus dijaga.

Di tengah ramainya aktivitas pameran, Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, melakukan kunjungan langsung ke arena pameran. Ia didampingi Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Bone, Hj. Andi Murni, jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), serta komunitas CVG.

Kehadiran rombongan pemerintah daerah disambut antusias para peserta pameran dan masyarakat yang berada di lokasi. Bupati tidak sekadar datang untuk melihat suasana. Ia menyusuri satu per satu stan yang menampilkan beragam potensi lokal. Dari kerajinan tangan hingga komoditas pertanian, setiap stan menyajikan cerita tentang bagaimana masyarakat Bone mengolah kekayaan daerah menjadi sesuatu yang bernilai.

Pada salah satu stan kerajinan, perhatian Bupati tertuju pada kain tenun khas Bone dan songkok recca. Produk-produk tersebut menjadi representasi kekayaan keterampilan masyarakat sekaligus identitas budaya yang diwariskan lintas generasi.

Langkahnya kemudian berlanjut ke stan agraris. Jagung, ubi, dan berbagai hasil pertanian lainnya tertata rapi, memperlihatkan potensi sektor pertanian yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Bone.

Tak hanya hasil bumi, rombongan juga melihat maket edukasi yang menggambarkan sektor perikanan dan lingkungan. Kehadiran berbagai jenis pameran tersebut membuat arena pameran tidak hanya menjadi tempat memajang produk, tetapi juga ruang pembelajaran mengenai potensi dan sumber daya daerah.

Bagi Bupati Bone, Pameran Agraris memiliki arti lebih luas daripada sekadar kegiatan pameran.

Ia mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut sebagai ruang strategis untuk memperkenalkan potensi lokal kepada masyarakat. Pameran juga dinilai dapat memperkuat sektor ekonomi kreatif sekaligus membuka ruang promosi bagi kekayaan budaya Kabupaten Bone kepada publik yang lebih luas.

Di kawasan Museum Lapawawoi, pertanian dan kebudayaan seolah bertemu dalam satu ruang. Hasil bumi berbicara tentang kekuatan alam dan kerja masyarakat, sementara kain tenun dan songkok recca mengingatkan bahwa identitas sebuah daerah juga tumbuh dari tangan-tangan yang menjaga tradisi.

Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Bone, Hj. Andi Murni, melihat pemilihan kawasan Museum Lapawawoi sebagai lokasi pameran memberikan nilai tambah tersendiri. Menurutnya, pengunjung tidak hanya mendapatkan pengalaman melihat produk agraris dan UMKM, tetapi juga memiliki kesempatan untuk lebih dekat dengan sejarah dan warisan budaya Bone.

Dengan demikian, Pameran Agraris tidak berhenti sebagai etalase hasil pertanian dan produk lokal. Di kawasan museum, kegiatan tersebut menjadi pertemuan antara masa lalu dan masa kini—antara warisan yang dijaga dan potensi baru yang terus dikembangkan.

Dari jagung dan ubi hingga tenun dan songkok recca, setiap stan membawa pesan yang sama: Bone memiliki kekayaan yang tidak hanya untuk dilihat, tetapi juga untuk dikenali, dirawat, dan dikembangkan. (*)