BONE – Di balik setiap anak yang tumbuh percaya diri, berkarakter, dan mencintai proses belajar, selalu ada sosok guru yang bekerja dalam diam. Bukan hanya mengajarkan huruf dan angka, tetapi juga menanamkan nilai, membentuk kebiasaan, serta menjadi teladan dalam kehidupan. Berangkat dari kesadaran itulah, Lembaga Kajian Pancasila Lapatau Matanna Tikka bekerja sama dengan Bidang PAUD dan PNF Dinas Pendidikan Kabupaten Bone menyelenggarakan Workshop Bimbingan Mental, Penguatan Karakter, dan Beramal bertema “Menata Hati, Menyatukan Langkah”.

Selama dua hari, 18–19 Juli 2026, Aula Lamellong Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Bone dipenuhi ratusan guru TK dan PAUD dari berbagai penjuru daerah. Mereka hadir bukan sekadar mengikuti pelatihan, tetapi membawa harapan untuk memperkuat jati diri sebagai pendidik yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan sentuhan kemanusiaan.

Workshop tersebut menjadi ruang refleksi bersama bahwa pendidikan tidak hanya berbicara tentang kecakapan akademik, tetapi juga pembentukan karakter yang berakar pada nilai-nilai Pancasila. Melalui lima materi utama, yakni Menata Hati Seorang Pendidik, Penguatan Mental dan Karakter Pendidik, Profesionalisme Pendidik di Era Transformasi Pendidikan, Menyatukan Langkah Membangun Pendidikan Bone, serta Membangun Kualitas dan Kompetensi Guru, peserta diajak memperkuat kompetensi sekaligus memperdalam makna profesi guru sebagai panggilan jiwa.

Hari pertama workshop dibuka oleh Wakil Bupati Bone, Dr. H. Andi Akmal Pasluddin, MM, sedangkan hari kedua dibuka oleh Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bone, Baharuddin, S.Pd., MM.

Dalam sambutannya, Baharuddin menegaskan bahwa peningkatan kompetensi guru harus terus menjadi prioritas. Menurutnya, guru memiliki tanggung jawab yang lebih luas daripada sekadar menyampaikan materi pelajaran. Mereka juga memegang peran penting dalam membangun karakter peserta didik sebagai bekal menghadapi kehidupan.

Salah satu sesi yang paling menyentuh hadir saat Kepala Bidang PAUD dan Dikmas Dinas Pendidikan Kabupaten Bone, Hj. Andi Rasna, S.Pd., M.Pd, membawakan materi bertajuk “Menata Hati Seorang Pendidik”. Ia mengajak para guru merenungkan kembali alasan mereka memilih profesi mulia tersebut.

“Menjadi guru bukan sekadar pekerjaan, tetapi panggilan hati,” pesannya kepada para peserta.

Ia kemudian mengajak seluruh guru melakukan refleksi melalui sebuah pertanyaan sederhana namun sarat makna, “Jika hari ini adalah hari terakhir kita mengajar, apa yang paling akan diingat murid tentang diri kita?”

Pertanyaan itu mengantar peserta pada kesadaran bahwa yang paling membekas dalam ingatan anak sering kali bukan materi pelajaran, melainkan ketulusan, perhatian, dan kasih sayang seorang guru.

Pesan tersebut diperkuat dengan mengutip hadis riwayat Bukhari dan Muslim mengenai pentingnya hati sebagai pusat kebaikan manusia. Dalam dunia pendidikan, ketulusan hati guru menjadi fondasi utama sebelum ilmu pengetahuan dapat diterima dengan baik oleh peserta didik.

Karena itu, menurut Hj. Andi Rasna, tugas guru tidak berhenti pada aktivitas mengajar. Guru juga mendidik, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, sekaligus mengevaluasi perkembangan setiap anak secara utuh.

Materi kemudian membawa peserta memahami pentingnya mengenali kodrat perkembangan anak. Mengacu pada teori perkembangan kognitif Jean Piaget, setiap fase usia memiliki karakteristik yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan pembelajaran yang berbeda pula.

Ia mengingatkan agar guru tidak memaksakan standar yang sama kepada semua anak. “Jangan menuntut ikan memanjat pohon.”

Ungkapan tersebut menjadi pengingat bahwa setiap anak memiliki potensi dan cara belajar yang unik. Ketika menghadapi anak yang dianggap sulit, guru seharusnya tidak terburu-buru memberi label negatif, melainkan mencari tahu apakah anak tersebut sebenarnya sedang membutuhkan pertolongan.

Sebagai orang tua kedua di sekolah, guru juga dituntut membangun kolaborasi yang erat dengan keluarga. Mengacu pada konsep School, Family and Community Partnership yang dikembangkan Joyce Epstein, pendidikan karakter hanya akan berhasil jika sekolah, keluarga, dan masyarakat berjalan dalam satu irama.

Sinergi tersebut diharapkan mampu membentuk kebiasaan baik, menjaga kesehatan mental anak, sekaligus menanamkan nilai-nilai spiritual secara konsisten sejak usia dini.

Di tengah derasnya perkembangan teknologi, Hj. Andi Rasna juga mengajak guru untuk bertransformasi menghadapi era kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Menurutnya, guru masa kini tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan berperan sebagai fasilitator yang mampu menumbuhkan rasa ingin tahu, mengajak anak berpikir kritis, bereksplorasi, serta menemukan pengetahuan secara mandiri.

Guru profesional, katanya, perlu menguasai empat literasi penting, yaitu literasi digital, literasi Artificial Intelligence, literasi data, dan literasi manusia. Namun di balik segala kecanggihan teknologi, ia mengingatkan bahwa ada satu hal yang tidak akan pernah dapat digantikan mesin.

“Artificial Intelligence dapat membantu proses belajar, tetapi tidak akan pernah mampu menggantikan sentuhan hati seorang guru.”

Kalimat tersebut disambut antusias peserta dan menjadi penutup yang menguatkan pesan utama workshop bahwa teknologi hanyalah alat, sementara hati tetap menjadi penggerak utama pendidikan.

Menjelang akhir sesi, para peserta diajak melakukan refleksi pribadi melalui sejumlah pertanyaan sederhana: Apakah saya sudah menjadi teladan? Apakah anak merasa aman bersama saya? Apakah saya lebih banyak memuji daripada menghakimi? Dan apakah saya masih terus belajar? Refleksi itu menjadi pengingat bahwa menjadi guru berarti siap bertumbuh sepanjang hayat.

Workshop “Menata Hati, Menyatukan Langkah” pada akhirnya bukan sekadar agenda peningkatan kompetensi, tetapi sebuah gerakan moral untuk mengembalikan pendidikan kepada hakikatnya. Bahwa membangun generasi unggul dimulai dari hati seorang pendidik yang tulus, berintegritas, dan terus belajar mengikuti perkembangan zaman.

Sebab seorang guru mungkin hanya hadir di ruang kelas selama satu tahun ajaran. Namun keteladanan, kasih sayang, dan nilai-nilai yang ia tanamkan akan terus hidup dalam diri murid-muridnya, bahkan hingga mereka dewasa. Di sanalah sesungguhnya makna pendidikan menemukan wajah terbaiknya. (*)