BONE — Terasa hangat menyelimuti rumah jabatan Bupati Bone pada Selasa (26/5/2026) ketika rombongan Sangha Theravada Indonesia (STI) Vihara Dharma Palakka Kabupaten Bone melakukan audiensi dengan Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., MM. Pertemuan tersebut bukan sekadar silaturahmi, tetapi menjadi langkah awal untuk menyambut peringatan Hari Tri Suci Waisak yang direncanakan berlangsung pada Juni 2026 di Vihara Dharma Palakka.

Audiensi dipimpin langsung oleh Edy Siouw bersama Ketua Pelaksana Wihara Natsir Wijaya, pengurus Vihara Dharma Palakka Itje, serta Bhante Dammasubho Mahatera. Kehadiran mereka membawa semangat kebersamaan dan harapan agar peringatan Waisak tahun ini menjadi momentum memperkuat persaudaraan di tengah keberagaman masyarakat Bone.

Di hadapan Bupati Bone, Edy Siouw menyampaikan bahwa perayaan Tri Suci Waisak tidak hanya menjadi agenda keagamaan umat Buddha, tetapi juga akan dikemas sebagai ruang perjumpaan budaya dan sosial yang melibatkan banyak elemen masyarakat.

“Perayaan ini akan dirangkaikan dengan kegiatan kesenian dan berbagi. Kami ingin menghadirkan kolaborasi budaya lokal, budaya nasional, serta tradisi Buddhis dalam satu ruang kebersamaan,” ungkapnya.

Menurut Edy, sejumlah unsur akan dilibatkan dalam kegiatan tersebut, mulai dari pemerintah daerah, Organisasi Perangkat Daerah (OPD), tokoh lintas agama, hingga tamu dari berbagai daerah seperti Makassar, Mamuju, Parepare, dan Kendari.

Bagi STI dan Vihara Dharma Palakka, Waisak bukan hanya perayaan seremonial, melainkan momentum mempertemukan nilai spiritual dan kemanusiaan. Kehadiran lintas agama dalam perayaan itu diharapkan menjadi simbol kuat bahwa keberagaman dapat tumbuh dalam suasana saling menghormati.

Sementara itu, Bhante Dammasubho Mahatera menjelaskan makna mendalam Tri Suci Waisak yang diperingati umat Buddha di seluruh dunia.

Ia menjelaskan, Waisak disebut Tri Suci karena memperingati tiga peristiwa agung dalam kehidupan Buddha Gautama yang diyakini terjadi pada hari yang sama saat bulan purnama di bulan Waisak.

Peristiwa pertama adalah kelahiran Pangeran Siddhartha pada tahun 623 Sebelum Masehi. Kedua, pencapaian Penerangan Sempurna ketika Pertapa Siddhartha mencapai Kebuddhaan pada usia 35 tahun. Ketiga, Parinibbana atau wafatnya Buddha Gautama pada usia 80 tahun.

“Makna Waisak sesungguhnya tidak hanya peringatan sejarah, tetapi bagaimana manusia membangun kehidupan spiritualnya. Kita membangun hubungan vertikal dengan Yang Maha Suci, membangun komunikasi horizontal dengan sesama, dan menata kehidupan batin secara personal,” jelas Bhante.

Ia menambahkan, nilai-nilai yang terkandung dalam Tri Suci Waisak memberi dampak luas, mulai dari penguatan pribadi, moral, sosial, hingga spiritual. Karena itu, peringatan Waisak setiap tahun menjadi momentum refleksi bagi umat untuk terus menumbuhkan kedamaian.

“Harapan kami, kegiatan ini dapat berjalan lancar, sukses, dan membawa kedamaian bagi seluruh masyarakat, khususnya di Kabupaten Bone,” tuturnya.

Dukungan pun datang dari Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., MM yang menyambut baik rencana pelaksanaan Tri Suci Waisak di Kabupaten Bone. Ia menyatakan komitmennya mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut sekaligus membuka peluang agar Bone semakin dikenal sebagai tuan rumah kegiatan keagamaan yang menjunjung toleransi dan kebersamaan.

Dukungan itu menjadi sinyal positif bahwa perayaan Waisak di Bone tidak hanya milik umat Buddha, tetapi dapat menjadi perayaan bersama yang merekatkan harmoni sosial.

Di tengah keberagaman yang dimiliki Kabupaten Bone, peringatan Tri Suci Waisak 2026 tampaknya akan hadir bukan hanya sebagai ritual keagamaan, tetapi juga panggung persaudaraan tempat budaya, spiritualitas, dan kemanusiaan bertemu dalam satu semangat: kedamaian. (*)