BONE — Pemilihan Kepala Desa Pergantian Antar Waktu (PAW) Tahun 2026 digelar serentak, Kamis (21/5/2026). Sebanyak 18 desa yang tersebar di 14 kecamatan di Kabupaten Bone melaksanakan pemilihan kepala desa PAW dengan dinamika yang beragam. Ada yang berlangsung melalui musyawarah dan berakhir aklamasi, ada pertarungan sengit dengan selisih tipis, bahkan diwarnai persaingan saudara kembar.
Pelaksanaan Pilkades PAW kali ini tidak sekadar menjadi agenda pengisian jabatan kepala desa yang kosong. Lebih dari itu, proses ini memperlihatkan wajah demokrasi desa yang unik dari konsensus hingga kompetisi ketat.
Salah satu cerita menarik datang dari Desa Kajuara, Kecamatan Awangpone. Dari dua calon kepala desa PAW, proses pemilihan berlangsung melalui musyawarah dan menetapkan Arifuddin secara aklamasi.
Nama Arifuddin bukan sosok baru di pemerintahan maupun politik lokal. Ia merupakan purna bakti Camat Tellu Siattinge dan pernah menjabat anggota DPRD Kabupaten Bone periode 2019–2024 dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Pengalaman birokrasi dan politik yang dimilikinya menjadi modal kuat hingga mendapat dukungan dalam forum musyawarah desa.
Nuansa berbeda hadir di Desa Matajang, Kecamatan Dua Boccoe. Pilkades PAW di desa ini juga berakhir aklamasi setelah forum musyawarah menetapkan Hendra Bungawan, S.Sos sebagai kepala desa terpilih.
Yang menarik, kontestasi ini mempertemukan dua saudara kembar: Hendra Bungawan, S.Sos (29) dan Hendri Bungawan, S.Sos (29). Persaingan dua bersaudara itu menjadi perhatian tersendiri dalam pelaksanaan Pilkades PAW tahun ini.
Gelombang aklamasi juga terjadi di sejumlah desa lainnya. Desa Teamusu, Kecamatan Ulaweng menetapkan Andi Edi Parawansyah secara aklamasi. Sementara Desa Kajaolaliddong, Kecamatan Barebbo, dari dua calon yang maju, forum musyawarah menetapkan Muh. Yunus sebagai kepala desa PAW terpilih.
Namun, tidak semua desa menempuh jalur musyawarah. Sejumlah desa justru menghadirkan persaingan ketat.
Di Desa Ulo, Kecamatan Tellu Siattinge, misalnya, selisih suara hanya terpaut dua angka. Yusnaeni, S.Pd., M.Pd keluar sebagai peraih suara terbanyak dengan 56 suara, unggul tipis atas Sudirman, S.Pd yang meraih 54 suara. Sementara Drs. H. Muh. Amin memperoleh 45 suara.
Persaingan tak kalah ketat terjadi di Desa Tondong, Kecamatan Tellu Limpoe. Abd Muis memimpin dengan 24 suara, hanya unggul satu suara atas Sulkifli yang memperoleh 23 suara. Rosmiati berada di posisi ketiga dengan 20 suara.
Sementara itu, Desa Lamakkaraseng, Kecamatan Ulaweng juga menghadirkan persaingan sengit. Andi Titania Tambaru, S.Psi menang tipis dengan 44 suara, hanya unggul empat suara atas Andi Bakhtiar yang memperoleh 40 suara.
Di tengah dominasi kandidat laki-laki, kemenangan Nita Hadriani di Desa Mattirowalie, Kecamatan Mare menjadi catatan tersendiri. Dari tiga calon yang bertarung, ia berhasil meraih kemenangan dengan perolehan 38 suara.
Sejumlah desa lainnya mencatat kemenangan cukup meyakinkan. Ashar memenangkan Pilkades PAW Desa Opo, Kecamatan Ajangale dengan 66 suara. Jumhur unggul di Desa Salebba, Kecamatan Ponre dengan 58 suara.
Di Desa Tompo Patu, Kecamatan Kahu, Drs. Mappinessa meraih kemenangan dengan 74 suara. Desa Bulie, Kecamatan Sibulue dimenangkan Riswal dengan 47 suara.
Kontestasi paling mencolok terjadi di Desa Lilina Ajangale, Kecamatan Ulaweng. Ir. Andi Padawali unggul jauh dengan 108 suara, meninggalkan pesaingnya Andi Galigo, SM yang memperoleh 62 suara.
Kemenangan telak juga diraih Awi di Desa Tapong, Kecamatan Tellu Limpoe dengan 63 suara. Sementara Desa Waekeccee, Kecamatan Ulaweng dimenangkan Andi Arman dengan 61 suara.
Di Desa Liliriawang, Kecamatan Ulaweng, mantan kepala desa Sundin, SH kembali dipercaya masyarakat setelah meraih 92 suara.
Adapun hasil lainnya, Desa Mario, Kecamatan Libureng dimenangkan A. Supriadi dengan 40 suara, sedangkan Desa Mattoanging, Kecamatan Kahu mencatat kemenangan Andi Burhan sebagai peraih suara terbanyak.
Pilkades PAW 2026 di Bone menunjukkan bahwa demokrasi desa memiliki banyak wajah. Ada yang memilih jalan musyawarah untuk mufakat, ada yang menyelesaikan pilihan melalui kompetisi terbuka. Dari mantan pejabat, saudara kembar, hingga persaingan dengan selisih satu suara, seluruh dinamika itu memperlihatkan bahwa ruang demokrasi di desa tetap hidup dan terus bergerak. (*)


Tinggalkan Balasan