BONE– Di tengah kerasnya kehidupan yang harus dijalani seorang ibu muda bernama Metro Loni, secercah harapan akhirnya datang dari tangan-tangan yang peduli. Kisahnya menjadi potret nyata perjuangan seorang perempuan yang tetap bertahan demi dua buah hatinya, meski baru saja kehilangan sosok suami tercinta.

Metro Loni bukanlah warga asli Ulaweng. Kisah hidupnya dimulai dari pertemuan yang tak terduga—seorang perempuan asal Padang yang dipertemukan dengan pria asal Ulaweng di perantauan, tepatnya di Kalimantan. Dari pertemuan itu, keduanya memutuskan menikah dan kemudian kembali ke Kabupaten Bone untuk membangun kehidupan bersama.

Namun takdir berkata lain. Sekitar tiga bulan lalu, sang suami meninggal dunia, meninggalkan Metro Loni bersama dua anak yang masih membutuhkan perhatian dan kasih sayang penuh. Sejak saat itu, beban hidup pun harus ia pikul seorang diri.

“Belum bisa cari pekerjaan karena anak saya masih kecil, yang satu juga masih SMP,” tuturnya lirih, menggambarkan kondisi yang serba terbatas.

Berpindah ke Kota Watampone dengan harapan mendapatkan kehidupan yang lebih baik, Metro Loni justru dihadapkan pada realitas yang tidak mudah. Tanpa pekerjaan tetap dan tanggungan dua anak, hari-harinya dipenuhi perjuangan untuk sekadar memenuhi kebutuhan hidup.

Melihat kondisi tersebut, Kepala KUA Ulaweng, H. Muhammad Saleh, tergerak untuk membantu. Ia memfasilitasi pengusulan bantuan kepada Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Bone sebagai bentuk kepedulian terhadap warganya yang tengah mengalami kesulitan.

Usulan tersebut sebenarnya telah diajukan sejak bulan lalu, namun baru mendapatkan panggilan pada Kamis, 2 April 2026. Melalui proses tersebut, Metro Loni akhirnya menerima bantuan berupa sembako dari Baznas Kabupaten Bone.

Bantuan ini mungkin terlihat sederhana, namun bagi Metro Loni, hal itu menjadi sangat berarti. Bukan hanya meringankan beban hidupnya untuk sementara waktu, tetapi juga menjadi bukti bahwa ia tidak sendiri menghadapi ujian hidup.

Kisah Metro Loni menjadi pengingat bahwa di balik setiap kesulitan, selalu ada ruang bagi kepedulian untuk hadir. Peran pemerintah, tokoh masyarakat, dan lembaga seperti Baznas menjadi jembatan harapan bagi mereka yang membutuhkan.

Di Ulaweng, empati masih hidup. Dan bagi Metro Loni, bantuan itu bukan sekadar sembako—melainkan harapan untuk tetap bertahan dan melanjutkan hidup bersama anak-anaknya. (*)