BONE — Semangat, ketekunan, dan keberanian mengantarkan tiga pesilat muda SMP Islam Athirah Bone menorehkan prestasi membanggakan dalam ajang Kejuaraan Pencak Silat Arung Palakka Championship 2026. Kejuaraan tingkat Sulawesi Selatan yang mengusung tema “Lestarikan Budaya, Raih Prestasi!” tersebut berlangsung pada 25–27 September 2026 di GOR Lapangan Merdeka, Kota Watampone, Kabupaten Bone.

Ajang yang diselenggarakan oleh Perisai Emas Nusantara Event Sport Organizer ini mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Pemerintah Kabupaten Bone, KONI Sulsel, dan IPSI Sulsel. Kejuaraan tersebut mempertemukan pesilat dari berbagai kelompok umur, mulai dari usia dini, pra-remaja, remaja, dewasa, hingga master. Di tengah persaingan ratusan pesilat, tiga siswa SMP Islam Athirah Bone berhasil membawa pulang medali. Satu nama bahkan tampil begitu menonjol dengan memborong dua medali emas dari dua kategori berbeda.

Adalah Qisyafani Afaf, atau yang akrab disapa Qiki, pesilat muda kelahiran Salobukkang, 25 April 2014. Gadis yang merupakan putri tunggal pasangan Agussalim Larra dan Nurfuadi ini berhasil meraih dua medali emas sekaligus.

Dua emas tersebut diraih Qiki melalui kategori Fighter (tanding) dan Seni Tunggal Tangan Kosong. Di kategori Fighter, Qiki menunjukkan ketangguhannya sejak babak semifinal hingga final. Ia mampu melewati lawan-lawannya dan menumbangkan perwakilan pesilat tangguh asal Sengkang.

Bagi Qiki, pencapaian tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjangnya dalam menggeluti pencak silat. Di luar aktivitas beladiri, ia memiliki hobi menggambar dan menyukai mata pelajaran Matematika. Ia juga menggemari kuliner kwetiau. Kemampuannya terus diasah melalui latihan rutin sekali dalam sepekan di sekolah. Sebelumnya, Qiki juga pernah menjadi finalis O2SN tingkat SD di Bogor.

Pengalaman tersebut menjadi bekal sekaligus motivasi bagi Qiki untuk terus melangkah lebih jauh. “Harapannya ke depan bisa meraih juara di tingkat nasional,” ungkap Qiki.

Prestasi serupa juga ditorehkan dua pesilat muda lainnya. Muh. Idzhar berhasil menyumbangkan medali perunggu setelah melewati persaingan ketat hingga babak semifinal.

Siswa kelas VIII Ar Rasyid yang lahir di Bone, 8 September 2011, itu harus mengakui keunggulan pesilat asal Pangkep pada babak semifinal. Menariknya, perjalanan Idzhar di dunia pencak silat terbilang masih relatif singkat. Putra pasangan Sabri dan Haslina tersebut baru menjalani latihan silat selama sekitar enam bulan.

Ia mulai menekuni pencak silat setelah diajak oleh pelatihnya, Dani Yusup. Sebelumnya, Idzhar lebih dahulu menekuni beladiri Muay Thai. Meski baru beberapa bulan berlatih, Idzhar mampu menunjukkan keberanian dan daya saingnya di tengah kompetisi yang mempertemukan pesilat dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan.

Medali perunggu lainnya dipersembahkan oleh A. Muh. Nailun Fathul Syafah, yang akrab disapa Nailun. Lahir di Bone, 30 Maret 2014, Nailun telah mengenal pencak silat sejak duduk di kelas V SD. Kecintaannya terhadap olahraga beladiri tersebut terus ia pupuk hingga kini. Pada Arung Palakka Championship 2026, Nailun berhasil melaju hingga semifinal sebelum akhirnya terhenti setelah berhadapan dengan sesama pesilat asal Bone.

Putra pasangan A. Supratman dan Nurlina ini tetap mampu membawa pulang medali perunggu. Dengan latihan rutin sekali dalam sepekan, Nailun bertekad untuk terus meningkatkan kemampuan dan pengalamannya di dunia pencak silat.

Bagi pelatih sekaligus pendamping ekstrakurikuler beladiri SMP Islam Athirah Bone, Dani Yusup, torehan ketiga anak didiknya bukan sekadar tentang jumlah medali yang berhasil dibawa pulang. Prestasi tersebut menjadi gambaran dari proses pembinaan dan keberanian generasi muda untuk terjun dalam dunia olahraga beladiri.

Keberhasilan Qiki, Idzhar, dan Nailun juga menjadi kebanggaan bagi keluarga dan sekolah. Lebih dari itu, pencapaian mereka menunjukkan bahwa regenerasi atlet beladiri di lingkungan SMP Islam Athirah Bone terus tumbuh.

Dari satu medali emas hingga dua medali perunggu, perjalanan ketiganya memperlihatkan bahwa prestasi dapat tumbuh dari proses yang sederhana: latihan rutin, keberanian bertanding, dan kemauan untuk terus belajar.

Di gelanggang Arung Palakka Championship 2026, ketiganya bukan hanya membawa pulang medali. Mereka juga membawa pengalaman, kepercayaan diri, dan harapan untuk kembali melangkah ke kompetisi yang lebih tinggi.

Bagi Qiki, harapan itu bahkan sudah terucap jelas: suatu hari nanti, ia ingin berdiri di podium tingkat nasional. Sebuah mimpi yang kini mulai dirintis dari gelanggang pencak silat di tanah kelahirannya, Bone. (*)