BONE — Upaya memperkuat kualitas dan daya saing tenaga kerja di Kabupaten Bone kembali digencarkan. Sebanyak 208 masyarakat pencari kerja mendapat kesempatan mengikuti Pelatihan Vokasi Nasional Kabupaten Bone Batch V Tahun 2026 yang diselenggarakan melalui sinergi Pemerintah Kabupaten Bone bersama Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Bantaeng Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia.

Pembukaan kegiatan berlangsung di Aula Lateya Riduni, Selasa, 6 Oktober 2026, dan dibuka langsung oleh Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M. Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala BPVP Bantaeng serta jajaran Pemerintah Kabupaten Bone.

Pelatihan ini bukan sekadar kegiatan peningkatan keterampilan. Di balik ratusan peserta yang mengikuti pelatihan, terdapat harapan untuk memperoleh pekerjaan, membangun usaha, sekaligus meningkatkan taraf hidup melalui keterampilan yang memiliki nilai ekonomi.

Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Bone, Hj. Faidah, S.STP., dalam laporannya menyampaikan bahwa Pelatihan Vokasi Nasional Batch V Tahun 2026 dirancang untuk menjawab kebutuhan ketenagakerjaan di Kabupaten Bone.

Program tersebut diarahkan untuk menyiapkan tenaga kerja yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan dunia industri maupun peluang usaha mandiri. “Pelatihan ini dimaksudkan untuk menyiapkan berbagai kegiatan dan pelatihan teknis yang diperlukan dalam rangka penanganan masalah ketenagakerjaan di Kabupaten Bone,” demikian disampaikan dalam laporan penyelenggara.

Sasaran utamanya adalah meningkatkan keterampilan masyarakat, khususnya calon tenaga kerja yang tengah mencari pekerjaan, sekaligus mengarahkan mereka pada bidang usaha mikro maupun makro yang sesuai dengan kompetensi yang dimiliki.

Pelatihan yang berlangsung di kompleks UPTD BLK Bone tersebut mencakup 11 kejuruan. Masing-masing kejuruan diikuti 16 peserta. Bidang yang ditawarkan cukup beragam, mulai dari Operator Komputer Muda, Desain Grafis Muda, Menjahit Pakaian dengan Mesin, Pembuatan Hiasan Busana dengan Mesin Bordir Manual, Merias Wajah dan Menata Rambut, hingga Pembuatan Perabot Sederhana dengan Mesin HPL. Selain itu, peserta juga mendapat pelatihan pada bidang Servis Sepeda Motor Injeksi, Pembuatan Roti dan Kue, Instalasi Listrik Bangunan Sederhana, Las, serta Audio Video.

Keragaman kejuruan tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan tenaga kerja saat ini tidak hanya bertumpu pada satu sektor. Keterampilan digital, industri kreatif, jasa, otomotif, tata boga, konstruksi hingga bidang teknis lainnya memiliki ruang yang dapat dimanfaatkan oleh para pencari kerja.

Tak hanya Pelatihan Vokasi Nasional, program TNT juga tengah berlangsung dengan kejuruan tata kecantikan sebanyak dua paket yang diikuti 32 peserta. Dengan demikian, total peserta yang mengikuti rangkaian pelatihan mencapai kurang lebih 208 orang.

Para peserta berasal dari masyarakat umum yang sedang mencari pekerjaan. Setelah menyelesaikan pelatihan, mereka diharapkan tidak hanya memiliki sertifikat, tetapi juga kompetensi yang dapat menjadi bekal untuk memasuki dunia kerja ataupun mengembangkan usaha secara mandiri.

Di tengah persaingan mendapatkan pekerjaan yang semakin membutuhkan keterampilan spesifik, pelatihan vokasi menjadi salah satu jembatan penting antara pencari kerja dan kebutuhan industri.

Seorang peserta yang sebelumnya hanya memiliki keinginan untuk bekerja, melalui pelatihan vokasi memperoleh kesempatan untuk mengasah kemampuan secara lebih terarah. Keterampilan yang diperoleh diharapkan dapat membuka pintu menuju pekerjaan yang lebih layak atau bahkan menjadi modal awal untuk menciptakan lapangan kerja sendiri.

Inilah yang menjadi semangat utama pelaksanaan program tersebut: memastikan masyarakat tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi memiliki kompetensi yang membuat mereka lebih siap dan percaya diri memasuki pasar kerja.

Pemerintah Kabupaten Bone pun melihat pelatihan vokasi sebagai bagian dari upaya bersama dalam menangani persoalan ketenagakerjaan. Sinergi dengan Kementerian Ketenagakerjaan melalui BPVP Bantaeng menjadi bagian penting untuk memperluas akses masyarakat Bone terhadap program peningkatan kompetensi. Kegiatan Pelatihan Vokasi Nasional Batch V Tahun 2026 ini seluruh pembiayaannya dibebankan pada DIPA BPP Bantaeng Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia Tahun Anggaran 2026.

Dalam laporannya, Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Bone juga menyampaikan apresiasi kepada Bupati Bone atas arahan dan dukungannya sehingga pelaksanaan kegiatan dapat terlaksana. Apresiasi serupa disampaikan kepada Kepala BPVP Bantaeng yang dinilai memberikan perhatian besar terhadap pengembangan pelatihan vokasi di Kabupaten Bone.

Bagi Pemerintah Kabupaten Bone, dukungan tersebut menjadi energi untuk terus memperluas kesempatan masyarakat mendapatkan pelatihan berbasis kompetensi. Sebab, keberhasilan program vokasi pada akhirnya tidak hanya diukur dari berapa banyak orang yang mengikuti pelatihan, tetapi sejauh mana keterampilan yang diperoleh mampu mengantarkan peserta menuju pekerjaan, usaha, dan kehidupan yang lebih baik.

Sementara itu, Kepala BPVP Bantaeng, Dr. Arsyad, S.Ag., M.Pd.I, mengapresiasi kinerja Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Bone beserta jajaran UPTD BLK Bone yang dinilai aktif mengawal program pelatihan vokasi.

Menurutnya, keaktifan tersebut menjadi salah satu alasan Kabupaten Bone mendapatkan perhatian besar dari Kementerian Ketenagakerjaan. “Bone mendapat perhatian besar dari Kementerian. Bahkan Bone menjadi yang terbesar pelatihannya,” ujar Arsyad.

Ia mengungkapkan, sepanjang 2025 hingga 2026, program pelatihan vokasi yang telah dilaksanakan di Bone mencapai 1.064 orang. Namun, angka tersebut menurutnya masih relatif kecil dibandingkan kebutuhan masyarakat dan potensi pengembangan ketenagakerjaan di daerah. “Angka 1.064 itu masih kecil. Masih banyak program yang harus kita laksanakan secara bersama-sama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Bone,” katanya.

Arsyad menegaskan, BPVP Bantaeng siap mendukung berbagai program strategis yang dirancang Pemerintah Kabupaten Bone, khususnya yang berkaitan dengan pengembangan sumber daya manusia dan penyiapan tenaga kerja lokal.

Ia bahkan menyebut kehadiran BPVP Bantaeng di Bone merupakan bagian dari perhatian khusus Kementerian Ketenagakerjaan. “Kehadiran kami di sini adalah bagian dari instruksi dan perintah langsung dari Pak Menteri bersama Wakil Menteri dan Staf Khusus Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia agar memberikan perhatian yang besar kepada Kabupaten Bone terkait program-program pelatihan vokasi nasional,” jelasnya.

Menurut Arsyad, perkembangan Kabupaten Bone ke depan membutuhkan sumber daya manusia lokal yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan industri. Karena itu, program pelatihan tidak boleh hanya berorientasi pada pelaksanaan kegiatan, tetapi harus dikaitkan langsung dengan kebutuhan dunia kerja.

Ia menyatakan BPVP Bantaeng siap mempersiapkan berbagai skema pelatihan untuk mendukung rencana pengembangan strategis Kabupaten Bone. Kementerian Ketenagakerjaan, kata dia, memiliki sejumlah skema pelatihan. Salah satunya pelatihan reguler yang dilaksanakan di BPVP Bantaeng maupun melalui UPTD-UPTD pelatihan yang berada di daerah.

Selain itu, terdapat skema Tailor Made Training (TMT) yang memungkinkan pelatihan dirancang berdasarkan kebutuhan masyarakat, kelompok masyarakat maupun industri. “Berdasarkan usulan masyarakat, usulan kelompok masyarakat, maupun usulan kelompok industri, itu bisa kita kolaborasikan. Dan itu sudah kita buktikan,” ungkapnya.

Keunggulan lainnya, seluruh pembiayaan pelatihan melalui skema tersebut dapat difasilitasi melalui anggaran Kementerian Ketenagakerjaan. “Seluruh anggarannya 100 persen dari Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia,” tegasnya.

Karena itu, Arsyad mendorong masyarakat dan pemerintah daerah lebih aktif menyampaikan kebutuhan pelatihan yang sesuai dengan perkembangan usaha di Bone. Ia mencontohkan perkembangan bisnis kafe yang semakin pesat di Bone. Kondisi tersebut membuka kebutuhan terhadap tenaga kerja terampil di bidang pelayanan dan industri pariwisata, termasuk barista. “Kafe-kafe yang ada di sekitar kita ini cukup maju dan itu perlu didukung dengan suatu keterampilan atau keahlian dalam bidang barista. Kita bisa melatih barista,” katanya.

Arsyad juga menyampaikan salam dari Menteri Ketenagakerjaan RI sekaligus mengajak Pemerintah Kabupaten Bone terus memperkuat kolaborasi untuk menekan angka pengangguran. Ia menyebut secara nasional jumlah pengangguran masih mencapai jutaan orang. Namun, Kabupaten Bone justru menunjukkan perkembangan positif. Berdasarkan data ketenagakerjaan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, tingkat pengangguran terbuka (TPT) Kabupaten Bone mengalami penurunan signifikan, dari sekitar 2 persen pada periode 2023–2024 menjadi 0,48 persen pada 2025. “Alhamdulillah, Kabupaten Bone adalah yang terendah angka penganggurannya di Provinsi Sulawesi Selatan,” ujarnya.

Menurut Arsyad, capaian tersebut patut diapresiasi dan tidak terlepas dari kebijakan strategis Pemerintah Kabupaten Bone. Ia pun menargetkan jumlah peserta pelatihan di Bone dapat terus ditingkatkan pada tahun-tahun mendatang. “Angka 1.064 itu masih sangat kecil dan kita akan usahakan lebih besar lagi di tahun 2027,” katanya.

Peluang tersebut semakin terbuka setelah pemerintah pusat menyiapkan anggaran pelatihan vokasi nasional yang jauh lebih besar pada 2027. Arsyad menyebut alokasi pelatihan vokasi nasional ditargetkan mencapai 300 ribu orang secara nasional. “Angka yang besar, dan insyaallah Bone akan kita maksimalkan pelaksanaannya,” tuturnya.

Sementara itu, Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M., memberikan apresiasi kepada Kepala Dinas Ketenagakerjaan Bone yang dinilai aktif memperjuangkan program pelatihan hingga ke tingkat pemerintah pusat.

Menurutnya, proses mendapatkan program pelatihan bukan perkara sederhana. Dinas harus melakukan komunikasi, menyusun calon peserta, melakukan verifikasi berkas, hingga memastikan peserta yang dipilih benar-benar memiliki kebutuhan dan keseriusan mengikuti pelatihan.

Namun, bagi Bupati, tantangan sebenarnya justru dimulai setelah pelatihan selesai. “Kalau pelatihan sebenarnya tidak terlalu susah. Yang susah itu sebenarnya implementasinya, realisasi, apa hasil dari kegiatan ini,” kata Andi Asman.

Ia berharap para peserta tidak berhenti pada sertifikat maupun pelatihan formal, tetapi mampu mengimplementasikan keterampilan yang diperoleh ketika memasuki dunia kerja. Dengan nada memberi semangat kepada peserta, ia berharap keterampilan yang diperoleh selama pelatihan benar-benar memberikan perubahan. “Dengan baju yang gagah, semoga nanti hasilnya juga gagah,” ujarnya yang disambut antusias peserta.

Bupati kemudian meminta Dinas Ketenagakerjaan agar proses rekrutmen peserta benar-benar menyasar masyarakat yang membutuhkan pekerjaan dan memiliki keinginan kuat untuk meningkatkan kemampuan. Pelatihan juga diharapkan menyesuaikan kebutuhan lowongan kerja yang tersedia, khususnya di wilayah Kabupaten Bone. “Yang betul-betul membutuhkan dan ingin dibantu, sesuai dengan permintaan lowongan kerja yang ada, utamanya di wilayah Kabupaten Bone,” tegasnya.

Menurut Andi Asman, kebutuhan tenaga kerja di Bone ke depan akan semakin besar seiring rencana pembangunan berbagai sektor strategis. Ia menyebut sejumlah rencana pengembangan yang berpotensi menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, antara lain pengembangan Bandara Arung Palakka, pembangunan pelabuhan, hilirisasi peternakan ayam terintegrasi, pembangunan Sekolah Rakyat, pembangunan Batalyon Lasalaga, hingga pengembangan peternakan sapi perah.

Berbagai proyek tersebut memiliki nilai investasi yang besar dan membutuhkan tenaga kerja dengan kompetensi beragam. “Artinya, semuanya membutuhkan tenaga kerja, mulai dari ahli sampai tingkat paling mendasar,” jelasnya.

Karena itu, Bupati menekankan pentingnya menyiapkan tenaga kerja lokal sejak sekarang. Pelatihan vokasi dinilai menjadi salah satu instrumen penting agar masyarakat Bone tidak hanya menjadi penonton ketika investasi dan pembangunan masuk, tetapi mampu mengambil peran di dalamnya.

Ia juga mengingatkan para peserta untuk tidak takut melakukan kesalahan ketika mulai menerapkan keterampilan di dunia kerja. Menurutnya, kemampuan seseorang justru akan semakin matang melalui proses belajar dan pengalaman di lapangan. “Jangan takut salah. Karena keterampilan itu harus diuji dengan beberapa kesalahan,” katanya.

Namun, proses tersebut tetap harus dibarengi ketelitian dan kesesuaian antara materi yang diperoleh selama pelatihan dengan praktik di lapangan. Bagi Pemerintah Kabupaten Bone, keberhasilan program vokasi pada akhirnya bukan sekadar berapa banyak peserta yang dilatih, tetapi seberapa banyak dari mereka yang mampu bekerja, berwirausaha, dan mengisi kebutuhan tenaga kerja yang muncul dari perkembangan daerah. (*)