BONE– Kamis, 13 Agustus 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi warga Desa Pattukku, Kecamatan Bontocani, Kabupaten Bone. Setelah hampir sebulan menyaksikan prajurit TNI dan masyarakat bekerja bersama, sebuah jembatan gantung yang selama ini dinantikan akhirnya berdiri dan resmi digunakan.

Bukan sekadar pita yang digunting. Bukan pula hanya sebuah bangunan yang diresmikan. Ketika jembatan gantung di atas Sungai Lemo mulai dilintasi, suasana berubah haru. Sejumlah warga dan anak-anak yang menyaksikan peresmian terlihat menangis. Tangis itu bukan karena duka, melainkan luapan kebahagiaan melihat sebuah akses baru yang kini terbuka di hadapan mereka.

Jembatan tersebut menghubungkan Dusun Lemo dan Dusun Pattukku. Bagi masyarakat setempat, kehadirannya memiliki arti jauh lebih besar daripada ukuran fisiknya.

Di atas jembatan itulah nantinya anak-anak dapat melintas menuju sekolah, warga menuju fasilitas kesehatan, petani membawa hasil perkebunan dan pertanian, serta masyarakat menjalankan aktivitas ekonomi dengan akses yang lebih mudah.

Jembatan itu menjadi salah satu sasaran fisik TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-129 Tahun Anggaran 2026 Kodim 1407/Bone, yang dilaksanakan sejak 15 Juli hingga 13 Agustus 2026.

Hampir Sebulan Bersama Warga

Rangkaian TMMD ke-129 secara resmi ditutup melalui upacara di Lapangan Desa Patukku, Kecamatan Bontocani, Kamis pagi. Upacara dimulai sekitar pukul 09.00 Wita dan dipimpin Danrem 141/Toddopuli Kolonel Inf. Robinson Tallupadang, S.I.P., M.H., selaku Inspektur Upacara.

Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M., turut hadir. Ia tampak mengenakan pakaian loreng Komponen Cadangan (Komcad). Sejumlah unsur Forkopimda, jajaran TNI-Polri, pemerintah daerah, pemerintah kecamatan dan desa, serta masyarakat turut menyaksikan berakhirnya program yang berlangsung hampir satu bulan tersebut.

Namun, penutupan TMMD kali ini terasa berbeda. Di balik barisan peserta upacara dan laporan capaian pembangunan, tersimpan cerita tentang bagaimana sebuah program pembangunan perlahan mengubah keseharian masyarakat desa.

Setelah upacara, Danrem 141/Toddopuli bersama Dandim 1407/Bone Letkol Inf. Laode Muhammad Idrus dan Bupati Bone menuju Desa Patukku untuk meresmikan jembatan gantung Sungai Lemo. Jembatan itu sekaligus menjadi simbol dari kerja bersama yang selama hampir sebulan dilakukan prajurit dan masyarakat.

Ketika pita peresmian digunting, warga langsung mendekat. Anak-anak mencoba melintasi jembatan. Antusiasme pecah. Di tengah kerumunan itu, beberapa warga dan anak-anak tak mampu menahan air mata. Mungkin bagi sebagian orang, jembatan hanyalah konstruksi penghubung dari satu sisi ke sisi lainnya. Namun bagi warga Pattukku, jembatan tersebut adalah jalan menuju sekolah, pasar, pelayanan kesehatan, ladang, kebun, dan kehidupan yang lebih mudah.

Menghubungkan Lebih dari Dua Dusun

Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman mengapresiasi jajaran TNI, khususnya Korem 141/Toddopuli, serta seluruh pihak yang ikut menyukseskan pelaksanaan TMMD ke-129. Menurutnya, pembangunan yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat merupakan bentuk nyata sinergi pemerintah daerah, TNI dan masyarakat dalam mempercepat pemerataan pembangunan hingga ke pelosok.

“Jembatan ini bukan hanya menghubungkan dua dusun, tetapi juga menghubungkan harapan, membuka akses ekonomi dan memperkuat hubungan antarwarga. Begitu pula dengan bedah rumah, ini adalah bentuk kepedulian kita agar masyarakat dapat tinggal di rumah yang layak dan sehat,” ujar Bupati Bone.

Pesan tersebut menggambarkan makna pembangunan yang tidak berhenti pada bentuk fisik. Sebuah jembatan dapat menghubungkan dua wilayah, tetapi pada saat yang sama juga dapat menghubungkan kesempatan. Anak-anak memperoleh akses yang lebih mudah ke sekolah. Petani memiliki jalur yang lebih baik untuk membawa hasil pertanian dan perkebunan. Warga dapat menuju fasilitas kesehatan tanpa harus menghadapi jalur yang sulit. Karena itu, jembatan Sungai Lemo menjadi bagian penting dari cerita pembangunan di wilayah pedesaan Bone.

Rumah Layak, Harapan Baru

Di sela peresmian jembatan, turut dilakukan peresmian program Bedah Rumah Layak Huni. Program tersebut menjadi bagian lain dari kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan tempat tinggal yang aman, sehat dan layak.

Jika jembatan berbicara tentang membuka jalan ke luar rumah, maka bedah rumah berbicara tentang menghadirkan tempat yang layak untuk kembali. Dua sasaran tersebut memperlihatkan bagaimana TMMD tidak hanya berorientasi pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga pada peningkatan kualitas kehidupan masyarakat.

Selain jembatan gantung dan renovasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), sejumlah hasil pembangunan lain turut ditinjau, di antaranya sumur bor, jambanisasi dan peningkatan jalan. Kegiatan fisik tersebut berjalan berdampingan dengan program sosial berupa pemeriksaan dan pengobatan kesehatan gratis, penyaluran paket sembako hingga pasar murah.

Di lapangan, tidak ada lagi batas tegas antara siapa yang membangun dan siapa yang menerima. Semua bekerja bersama, bergotong royong, dan menyelesaikan pekerjaan yang manfaatnya akan kembali kepada masyarakat.

Dalam upacara penutupan, rangkaian kegiatan ditandai dengan penanggalan tanda peserta serta pengembalian Tool Kit (Tolkit) TMMD secara simbolis dari perwakilan Satgas kepada Inspektur Upacara.

Dandim 1407/Bone Letkol Inf. Laode Muhammad Idrus kemudian membacakan laporan hasil pelaksanaan TMMD ke-129 TA 2026. Rangkaian dilanjutkan dengan penandatanganan naskah berita acara penyerahan hasil pelaksanaan kegiatan TMMD kepada pemerintah daerah.

Danrem 141/Toddopuli Kolonel Inf. Robinson Tallupadang menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan program tersebut.

“Keberhasilan TMMD ini merupakan hasil kerja sama dan gotong royong seluruh komponen. Apa yang telah dibangun hendaknya dijaga dan dirawat bersama agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat dalam jangka panjang,” pesannya.

Sebab, ketika Satgas meninggalkan lokasi dan program secara resmi ditutup, tanggung jawab terhadap hasil pembangunan justru berlanjut di tangan masyarakat dan pemerintah.

Jembatan harus dirawat. Jalan harus dijaga. Sumur bor dan fasilitas sanitasi harus dimanfaatkan dengan baik. Rumah yang telah diperbaiki harus dipelihara agar tetap menjadi tempat tinggal yang sehat dan aman.

Dandim 1407/Bone Letkol Inf. Laode Muhammad Idrus juga mengajak masyarakat menjaga hasil pembangunan tersebut. “Kami berharap seluruh hasil pembangunan ini dapat dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat. Mari bersama-sama menjaga dan merawat fasilitas yang telah dibangun agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang,” ujarnya.

TMMD ke-129 Kodim 1407/Bone dilaksanakan di dua wilayah sasaran, yakni Kecamatan Sibulue dan Kecamatan Bontocani. Selama pelaksanaan, pembangunan fisik dan kegiatan sosial berjalan beriringan. Tetapi di antara berbagai capaian tersebut, momen di jembatan Sungai Lemo mungkin menjadi salah satu cerita yang paling membekas.

Tangis warga dan anak-anak ketika jembatan diresmikan menunjukkan bahwa pembangunan memiliki ukuran keberhasilan yang tidak selalu tercatat dalam laporan. Ada rasa lega, Ada rasa bahagia dan Ada harapan yang tiba-tiba terasa lebih dekat.

Bagi prajurit, 13 Agustus 2026 menjadi hari berakhirnya tugas TMMD ke-129. Bagi masyarakat Pattukku, hari itu justru menjadi awal dari pemanfaatan sebuah akses yang telah lama mereka nantikan.

Jembatan Sungai Lemo kini menjadi penghubung dua dusun. Namun lebih dari itu, ia menjadi penghubung antara keterbatasan masa lalu dan peluang yang lebih terbuka di masa depan.

Dari lapangan upacara hingga jembatan gantung, TMMD ke-129 meninggalkan pesan sederhana: pembangunan akan benar-benar berarti ketika hasilnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Dan di Desa Pattukku, pesan itu tertinggal bersama sebuah jembatan yang kini mulai dilintasi—serta air mata bahagia warga yang menjadi saksi bahwa gotong royong dapat mengubah sebuah harapan menjadi kenyataan. (*)