BONE– Sorak sorai para pelajar, semangat para pelatih, dan wajah-wajah penuh harapan mewarnai Lapangan Basket Merdeka Watampone, Senin (13/7/2026). Di tempat inilah Pemerintah Kabupaten Bone melalui Bidang Pembudayaan Olahraga Dinas Kepemudaan dan Olahraga resmi memulai Pekan Olahraga Pelajar Kabupaten (Popkab) Bone Tahun 2026, sebuah ajang yang bukan sekadar mempertemukan para atlet muda, tetapi juga menjadi panggung awal lahirnya calon-calon juara masa depan.

Mengusung tema “Mewujudkan Generasi Muda yang Sehat, Berprestasi dan Berkarakter”, Popkab 2026 dibuka langsung oleh Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M. Kehadiran para pelajar dari berbagai kecamatan membawa optimisme bahwa prestasi olahraga Bone akan terus tumbuh melalui pembinaan yang terarah sejak usia dini.

Selama tiga hari, mulai 13 hingga 15 Juli 2026, para atlet pelajar akan bersaing dalam empat cabang olahraga, yakni atletik, karate, bola voli, dan tenis meja. Pertandingan digelar di sejumlah lokasi berbeda, yakni Stadion Lapatau untuk atletik, Lapangan Merdeka untuk bola voli, Gedung Tenis Meja IAIN Bone untuk tenis meja, serta GOR Matanna Tikka sebagai arena pertandingan karate.

Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Bone, H. Andi Akbar, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa penyelenggaraan Popkab memiliki landasan hukum yang kuat, mulai dari Undang-Undang tentang Keolahragaan hingga Desain Besar Olahraga Nasional (DBON). Lebih dari sekadar kompetisi, Popkab menjadi bagian dari proses pembinaan atlet secara berjenjang.

Menurutnya, ajang ini bertujuan memberikan kesempatan bertanding kepada atlet pelajar untuk mengukur hasil latihan, menyalurkan bakat, sekaligus mengidentifikasi potensi atlet yang dapat dipersiapkan menuju ajang Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas). Selain itu, Popkab juga menjadi media mempererat persahabatan, menumbuhkan sportivitas, serta memperkuat persatuan di kalangan pelajar.

“Tahun ini memang baru empat cabang olahraga yang dipertandingkan. Namun, Insyaallah tahun depan, dengan arahan Bapak Bupati, kita berharap bisa menggelar lebih dari sepuluh cabang olahraga yang masuk dalam Desain Besar Olahraga Nasional. Target akhirnya adalah pembinaan yang semakin luas sehingga Bone mampu melahirkan atlet-atlet berprestasi di tingkat nasional,” ungkapnya.

Keempat cabang olahraga tersebut mempertandingkan berbagai nomor. Atletik melombakan enam nomor pertandingan, karate empat nomor, bola voli satu nomor pertandingan, sedangkan tenis meja mempertandingkan nomor tunggal putra dan tunggal putri.

Salah satu hal yang mendapat perhatian khusus dalam pelaksanaan Popkab tahun ini adalah ketentuan batas usia peserta. Seluruh atlet wajib berstatus pelajar dengan usia maksimal 16 tahun. Ketentuan tersebut diterapkan secara tegas tanpa pengecualian.

Andi Akbar mengaku sempat menerima protes dari sejumlah orang tua terkait usia anak mereka yang telah melewati batas hanya satu hari. Namun, menurutnya aturan tetap harus ditegakkan demi menjaga keadilan bagi seluruh peserta.

“Kalau batasnya 16 tahun sampai tanggal yang sudah ditentukan, lewat satu hari pun tetap tidak bisa. Aturan dibuat untuk dipatuhi bersama sehingga tidak ada perlakuan berbeda kepada siapa pun,” tegasnya.

Ketegasan itu menjadi bagian dari upaya membangun budaya olahraga yang menjunjung tinggi disiplin dan sportivitas sejak usia sekolah.

Pelaksanaan Popkab 2026 dibiayai melalui APBD Dinas Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Bone Tahun Anggaran 2026 serta didukung partisipasi sejumlah sponsor yang tidak mengikat.

Antusiasme daerah juga mulai terlihat. Hingga hari pembukaan, sebanyak 19 kecamatan telah mendaftarkan atletnya, yakni Bontocani, Sibulue, Tellu Siattinge, Libureng, Awangpone, Tanete Riattang Timur, Tanete Riattang Barat, Tonra, Lappariaja, Ajangale, Cina, Tanete Riattang, Lamuru, Amali, Tellu Limpoe, Palakka, Mare, dan Kajuara.

Meski belum seluruh kecamatan berpartisipasi, semangat yang terpancar dari para atlet muda menunjukkan bahwa Popkab bukan sekadar perlombaan memperebutkan medali. Ajang ini menjadi ruang pembelajaran tentang kerja keras, disiplin, keberanian menghadapi tantangan, dan penghormatan terhadap lawan.

Sementara itu, Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., MM menyampaikan pesan yang lebih dari sekadar membuka sebuah kompetisi. Ia sedang menanamkan mental juara bagi generasi muda Bone. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Dinas Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Bone itu menjadi ajang pencarian bibit atlet berbakat yang diproyeksikan mampu mengharumkan nama daerah hingga tingkat nasional.

Andi Asman menegaskan bahwa Popkab tidak boleh menjadi sekadar agenda seremonial. Menurutnya, anggaran daerah yang digelontorkan untuk pelaksanaan kegiatan harus menghasilkan atlet-atlet terbaik yang benar-benar layak dibina. “Saya minta kegiatan ini betul-betul diberikan kepada sang juara. Atlet yang memang layak harus diberikan kesempatan. Mereka harus kita kader dan kita jaring menjadi petarung sejati di masa depan,” tegasnya.

Ia mengingatkan seluruh pengurus cabang olahraga, pelatih, pembina, hingga pendamping dari setiap kecamatan agar menjadikan Popkab sebagai proses seleksi yang objektif. Jangan sampai Kabupaten Bone kesulitan mencari atlet ketika menghadapi kejuaraan tingkat provinsi maupun nasional.

“Jangan nanti begitu ada lomba nasional baru kita mencari-cari atlet. Akhirnya baru sampai Makassar sudah tereliminasi karena seleksinya tidak benar,” ujarnya.

Andi Asman juga mengapresiasi penampilan barisan atlet saat pembukaan. Menurutnya, disiplin, kerapian, dan sikap percaya diri merupakan modal penting sebelum memasuki arena pertandingan. “Penampilan itu penting. Mental dan fisik yang kuat bisa mengalahkan lawan. Jangan sampai latihan sudah keras, tetapi ketika masuk lapangan justru demam panggung dan kehilangan kepercayaan diri,” katanya.

Tak hanya berbicara soal prestasi, Bupati Bone juga menekankan pentingnya nilai sportivitas. Ia meminta seluruh peserta menjunjung tinggi semangat fair play, menghormati lawan, dan menerima hasil pertandingan dengan lapang dada.

“Kalau lawan menang, beri selamat. Kalau kita yang menang, tetap hormati lawan. Yang paling penting adalah menjunjung tinggi sportivitas,” pesannya.

Perhatian khusus juga diberikan kepada para wasit dan juri. Dengan nada tegas, Andi Asman mengingatkan agar seluruh perangkat pertandingan bekerja secara independen dan bebas dari intervensi. Ia mengaku pernah merasakan kekecewaan saat masih menjadi pelajar karena melihat atlet yang berprestasi justru tersingkir akibat praktik pilih kasih.

“Saya pernah kecewa sejak masih sekolah. Sudah menjadi juara tetapi dihilangkan karena ada hubungan keluarga dengan pejabat. Jangan sampai itu terjadi lagi. Kalau ada juri yang bermain-main, laporkan kepada saya. Saya akan blacklist sampai tiga tahun selama saya menjadi bupati,” tegasnya yang langsung disambut tepuk tangan peserta.

Menurutnya, keadilan dalam penilaian merupakan fondasi lahirnya atlet berkualitas. Atlet yang lolos harus benar-benar memiliki kemampuan sehingga mampu bersaing ketika mewakili Bone di ajang Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda), Pekan Olahraga Provinsi (Porprov), hingga kompetisi nasional.

Ia bahkan berjanji akan meningkatkan dukungan anggaran apabila penyelenggaraan Popkab berjalan sukses dan mampu melahirkan atlet-atlet potensial. “Tahun ini anggarannya sekitar Rp100 juta. Kalau pelaksanaannya bagus, tahun depan kalau perlu kita naikkan menjadi Rp500 juta agar pembinaan atlet usia dini semakin maksimal,” ungkapnya.

Andi Asman juga meminta setiap atlet potensial diberi pendataan dan pembinaan berkelanjutan, termasuk atlet yang belum menjadi juara namun memiliki prospek besar untuk berkembang melalui latihan yang intensif.

Di akhir sambutannya, ia memberikan motivasi kepada seluruh peserta agar tidak merasa minder hanya karena berasal dari kecamatan yang jauh dari pusat kota. “Jangan pernah berpikir kalah karena lahir di Bontocani, Tonra, Kajuara, Mare, Ponre, atau daerah lainnya. Saya juga orang Ponre. Di sini semua sama. Tidak ada yang diistimewakan. Siapa yang berprestasi, dialah yang mendapat kesempatan,” katanya.

Menutup arahannya, Bupati Bone mengingatkan para atlet untuk menjaga kondisi fisik, disiplin menjalankan strategi pelatih, serta membangun mental petarung yang tangguh. “Jangan begitu masuk arena sudah merasa kalah. Jadilah petarung sejati. Dengarkan pelatih, jaga fisik, percaya pada kemampuan sendiri, dan bertandinglah dengan penuh keberanian.”

Melalui Popkab 2026, Pemerintah Kabupaten Bone berharap tidak hanya melahirkan para juara di podium, tetapi juga membangun generasi atlet yang berkarakter, berintegritas, dan siap membawa nama Bone bersinar di panggung olahraga yang lebih tinggi. (*)